Krisis Energi Asia Imbas Konflik Timur Tengah, Sri Lanka Terapkan Libur Tambahan

0
27
Sri Lanka
Jalanan macet di jalan antara Kurunegala dengan Dambulla, Sri lanka. FOTO: WIKIPEDIA

(Vibizmedia-Internasional) Sri Lanka resmi menetapkan hari Rabu sebagai hari libur tambahan bagi lembaga publik sebagai bagian dari langkah penghematan energi nasional. Kebijakan ini muncul di tengah ancaman gangguan pasokan minyak global akibat konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran yang berdampak pada penutupan Selat Hormuz.

Presiden Anura Kumara Dissanayake menyatakan pemerintah harus bersiap menghadapi kemungkinan terburuk, mengingat Selat Hormuz merupakan jalur vital distribusi energi dunia. Sekitar 90% minyak dan gas yang melintasi jalur tersebut selama ini mengalir ke kawasan Asia.

Selain menetapkan sistem kerja empat hari, Sri Lanka juga memberlakukan kembali penjatahan bahan bakar melalui Kartu Bahan Bakar Nasional. Pembelian dibatasi, yakni 15 liter untuk mobil pribadi dan lima liter untuk sepeda motor. Kebijakan ini memicu keluhan warga yang merasa kuota tersebut tidak mencukupi.

Langkah penghematan juga diterapkan di berbagai negara Asia. Thailand mendorong pengurangan penggunaan pendingin udara, Myanmar membatasi kendaraan berdasarkan pelat nomor, sementara Bangladesh menerapkan pemadaman listrik terencana.

Di Filipina, Presiden Ferdinand Marcos Jr. mewajibkan kerja dari rumah bagi sebagian pegawai dan memberikan bantuan tunai kepada kelompok rentan. Sedangkan Vietnam mendorong masyarakat mengurangi mobilitas dan penggunaan kendaraan pribadi.

Harga minyak global sendiri kini melonjak hingga sekitar 100 dolar AS per barel, memperburuk tekanan terhadap negara-negara pengimpor energi di Asia.

Asia di Bawah Tekanan Energi Global

Kebijakan yang diambil Sri Lanka dan negara-negara Asia lainnya menunjukkan satu pola yang jelas, kawasan ini sangat rentan terhadap gangguan rantai pasok energi global.

1. Ketergantungan Tinggi pada Selat Hormuz

Penutupan Selat Hormuz menjadi pukulan besar karena jalur ini adalah “urat nadi” energi dunia. Asia—terutama negara berkembang—tidak memiliki cadangan energi domestik yang cukup, sehingga sangat bergantung pada impor dari Timur Tengah. Yang mengakibatkan lonjakan harga energi domestik, tekanan inflasi dan potensi perlambatan ekonomi

2. Kebijakan Darurat: Jangka Pendek, Efek Cepat

Langkah yang perlu diambil adalah libur tambahan, work from home, pembatasan kendaraan dan pemadaman listrik. Ini merupakan solusi cepat untuk menekan konsumsi energi. Namun, kebijakan ini bersifat sementara dan memiliki konsekuensi produktivitas menurun, aktivitas ekonomi melambat dan ketidakpuasan masyarakat meningkat

3. Sinyal Krisis yang Lebih Dalam

Langkah Sri Lanka mengingatkan pada krisis 2022, yang menunjukkan bahwa negara dengan cadangan devisa lemah akan paling cepat terdampak. Jika harga minyak bertahan tinggi, negara miskin bisa mengalami krisis fiskal, subsidi energi membengkak dan risiko gejolak sosial meningkat

4. Pergeseran Perilaku dan Kebijakan Energi

Di sisi lain, krisis ini juga mempercepat perubahan yakni dorongan ke transportasi publik, pengurangan mobilitas dan kesadaran efisiensi energi. Dalam jangka panjang, ini bisa menjadi momentum bagi Asia untuk mempercepat transisi ke energi terbarukan, diversifikasi sumber energi dan mengurangi ketergantungan pada impor minyak

5. Risiko Geopolitik yang Meluas

Konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran tidak hanya berdampak militer, tetapi juga ekonomi global. Jika konflik meluas harga minyak bisa melampaui $120 per barel, gangguan logistik global meningkat, risiko resesi global terbuka.

Langkah Sri Lanka hanyalah “puncak gunung es” dari tekanan besar yang sedang dihadapi Asia. Krisis ini menegaskan bahwa energi bukan hanya isu ekonomi, tetapi juga geopolitik dan ketahanan nasional. Jika situasi tidak segera mereda, bukan hanya Sri Lanka melainkan banyak negara Asia lainnya yang akan dipaksa mengambil langkah-langkah ekstrem untuk menjaga stabilitas dalam negeri.