Likuiditas Ekonomi Tumbuh Positif, Uang Beredar Tembus Rp10.089 Triliun

0
130
Bank Indonesia
DOK: BANK INDONESIA

(Vibizmedia-Nasional) Bank Indonesia (BI) mencatat likuiditas perekonomian Indonesia atau uang beredar dalam arti luas (M2) tetap tumbuh positif di tengah dinamika ketidakpastian global.

Pada Februari 2026, posisi M2 menembus angka Rp10.089,9 triliun atau tumbuh 8,7 persen secara tahunan (year-on-year/y-o-y). Capaian ini menjadi sinyal kuat bahwa stabilitas sistem keuangan domestik tetap terjaga.

Kepala Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso, menjelaskan bahwa pertumbuhan tersebut didorong oleh peningkatan uang beredar sempit (M1) yang tumbuh 14,4 persen (y-o-y) serta uang kuasi sebesar 3,1 persen (y-o-y).

Selain itu, ekspansi fiskal pemerintah turut memberikan kontribusi signifikan terhadap likuiditas nasional.
“Tagihan bersih kepada Pemerintah Pusat tumbuh sebesar 25,6 persen (y-o-y), meningkat dibandingkan Januari 2026 yang sebesar 22,6 persen (y-o-y),” ujar Ramdan dalam keterangan resminya, Jumat (27/3/2026).

Dari sisi intermediasi, penyaluran kredit perbankan pada Februari 2026 tercatat tumbuh 8,9 persen (y-o-y). Meski sedikit melambat dibandingkan Januari yang mencapai 10,2 persen, pertumbuhan ini dinilai masih berada dalam tren positif dan mampu menopang aktivitas dunia usaha.

Sementara itu, geliat ekonomi di tingkat masyarakat justru menunjukkan dinamika yang kuat menjelang Idul Fitri 1447 Hijriah.

Data dari NEXT Indonesia Center menunjukkan peredaran uang kartal atau uang tunai di masyarakat mencapai level tertinggi dalam enam tahun terakhir. Fenomena ini mencerminkan tingginya dana siap belanja yang dipegang langsung oleh masyarakat di luar sistem perbankan.

Menjelang Lebaran 2026, jumlah uang tunai yang beredar di masyarakat tercatat mencapai Rp1.241 triliun, meningkat Rp104 triliun dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp1.137 triliun.

Kenaikan permintaan uang tunai ini menjadi indikator kuat resiliensi ekonomi domestik. Aktivitas konsumsi rumah tangga yang tetap terjaga di tengah tekanan global menunjukkan bahwa daya beli masyarakat, khususnya menjelang hari raya, masih menjadi motor utama penggerak ekonomi nasional.