Industri Pulp dan Kertas RI Makin Moncer: Ekspor Tembus USD 8,1 Miliar, Siap Kuasai Pasar Global

0
45
Produksi kertas
Ilustrasi produksi kertas. DOK: PAPERONE

(Vibizmedia-Nasional) Kementerian Perindustrian menegaskan bahwa industri pulp dan kertas nasional terus menunjukkan kinerja impresif sebagai salah satu sektor manufaktur bernilai tambah tinggi yang menopang perekonomian Indonesia.

Pada 2025, industri kertas, barang kertas, dan percetakan berkontribusi sebesar 3,73 persen terhadap PDB pengolahan nonmigas. Dari sisi ekspor, kinerja sektor ini juga mencatatkan capaian signifikan, dengan nilai ekspor pulp mencapai USD 3,60 miliar dan kertas sebesar USD 4,57 miliar.

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menyampaikan bahwa kontribusi tersebut menegaskan posisi strategis industri pulp dan kertas sebagai penopang utama sektor manufaktur nasional.

“Selain berkontribusi terhadap PDB, industri ini juga menyerap lebih dari 1,4 juta tenaga kerja, baik langsung maupun tidak langsung,” ujarnya di Jakarta, Selasa (7/4).

Secara global, posisi Indonesia juga semakin kuat. Indonesia kini menempati peringkat ke-7 dunia untuk industri pulp dan ke-6 untuk industri kertas, serta berada di posisi ke-2 dan ke-4 di kawasan Asia.

Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Industri Agro Putu Juli Ardika menyebut industri ini memiliki daya ungkit besar terhadap ekonomi nasional karena menghasilkan berbagai produk bernilai tinggi, mulai dari pulp, kertas industri, tisu, hingga rayon/viscose.

Menurutnya, prospek industri pulp dan kertas semakin cerah seiring meningkatnya permintaan global terhadap kemasan berbasis kertas yang lebih ramah lingkungan. Saat ini, paperboard menguasai sekitar 31,8 persen pasar kemasan global, sementara pasar flexible packaging telah melampaui USD 270 miliar dan diproyeksikan tumbuh 5–6 persen per tahun hingga 2032.

Permintaan tersebut didorong oleh pertumbuhan sektor makanan dan minuman, e-commerce, serta tren global pengurangan penggunaan plastik.

Selain itu, industri nasional juga mulai berinovasi dalam penggunaan bahan baku alternatif, seperti serat dari pisang, sereh wangi, tandan kosong kelapa sawit, dan kenaf, guna mendukung keberlanjutan dan efisiensi produksi.

Namun demikian, industri ini masih menghadapi sejumlah tantangan. Di antaranya keterbatasan pasokan kertas daur ulang domestik, isu kebijakan impor bahan baku pendukung, kewajiban sertifikasi halal mulai 2026, hingga tekanan regulasi global seperti European Union Deforestation Regulation serta kebijakan perdagangan internasional lainnya.

Sebagai respons, Kemenperin terus memperkuat berbagai strategi, mulai dari perbaikan rantai pasok bahan baku, inovasi produk kemasan, penguatan industri hijau dan ekonomi sirkular, hingga pemberian insentif fiskal dan nonfiskal.

Salah satu langkah konkret adalah penerapan wajib Standar Nasional Indonesia (SNI) untuk kertas dan karton kemasan pangan melalui Permenperin Nomor 6 Tahun 2025 sejak 24 Juli 2025, guna meningkatkan kualitas dan daya saing produk di pasar global.

Selain itu, pemerintah juga aktif membuka akses pasar baru. Partisipasi Indonesia sebagai partner country dalam ajang INNOPROM 2026 di Rusia dinilai menjadi peluang strategis untuk memperluas ekspor ke kawasan Eurasia.

Di tengah dinamika global, sektor manufaktur Indonesia tetap menunjukkan optimisme. Hal ini tercermin dari Indeks Kepercayaan Industri (IKI) Februari 2026 yang berada pada level ekspansif 54,02.

Dalam momentum Halal Bihalal Asosiasi Pulp dan Kertas Indonesia, pemerintah mengajak seluruh pemangku kepentingan untuk terus memperkuat kolaborasi guna meningkatkan daya saing industri pulp dan kertas nasional agar semakin inovatif, adaptif, dan berkelanjutan.