Musim Kemarau 2026 Diprediksi Lebih Kering dan Panjang

0
131

(Vibizmedia – Jakarta) Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat hingga akhir Maret 2026 sekitar 7 persen Zona Musim (ZOM) di Indonesia telah memasuki musim kemarau. Jumlah ini diperkirakan akan meningkat signifikan pada periode April hingga Juni 2026. BMKG juga mengingatkan adanya potensi fenomena El Niño pada semester kedua tahun ini yang berpotensi membuat musim kemarau lebih kering dan berlangsung lebih lama.

Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani menyampaikan bahwa wilayah yang mulai memasuki musim kemarau mencakup sebagian Aceh, Sumatra Utara, Riau, Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, sebagian wilayah Nusa Tenggara Barat (NTB), Nusa Tenggara Timur (NTT), Maluku, serta Papua Barat. “BMKG akan terus memantau dinamika iklim global dan regional serta menyampaikan pembaruan informasi secara berkala. Masyarakat diharapkan mengikuti informasi resmi melalui kanal komunikasi BMKG,” ujar Faisal di Jakarta, Senin (6/4/2026).

BMKG memperkirakan sebagian besar wilayah Indonesia akan mulai memasuki musim kemarau pada April, Mei, dan Juni 2026, diawali dari kawasan Nusa Tenggara sebelum meluas ke wilayah lain. Secara nasional, diproyeksikan 114 ZOM memasuki musim kemarau pada April, 184 ZOM pada Mei, dan 163 ZOM pada Juni.

Deputi Bidang Klimatologi BMKG Ardhasena Sopaheluwakan menjelaskan bahwa hingga akhir Maret 2026, kondisi El Niño-Southern Oscillation (ENSO) dan Indian Ocean Dipole (IOD) masih berada pada fase netral. Namun, hasil pemodelan iklim menunjukkan adanya peluang ENSO berkembang menjadi El Niño pada semester kedua 2026.

Saat ini, potensi El Niño diperkirakan berada pada kategori lemah hingga moderat dengan peluang 50–80 persen, sementara peluang menjadi El Niño kuat relatif kecil, yakni di bawah 20 persen.

BMKG juga mengingatkan bahwa interpretasi prediksi perlu dilakukan secara hati-hati karena adanya fenomena spring predictability barrier, yakni periode menurunnya akurasi model iklim dalam memprediksi ENSO saat belahan Bumi utara memasuki musim semi, terutama pada Maret hingga Mei.

Oleh karena itu, prakiraan yang dirilis pada Maret–April umumnya lebih akurat untuk proyeksi hingga tiga bulan ke depan. Tingkat kepercayaan terhadap prediksi intensitas El Niño diperkirakan akan meningkat pada pembaruan Mei 2026, yang secara statistik lebih andal untuk proyeksi hingga enam bulan.

BMKG menegaskan bahwa musim kemarau tahun ini diprediksi lebih kering dan lebih panjang dibandingkan kondisi normal, dipengaruhi variabilitas iklim alami serta potensi El Niño. Sebagian besar wilayah Indonesia diperkirakan mengalami curah hujan di bawah normal, dengan puncak musim kemarau diprediksi terjadi pada Agustus 2026.

Menghadapi kondisi tersebut, BMKG mengimbau pemerintah daerah, sektor pertanian, pengelola sumber daya air, serta masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan dan menyiapkan langkah antisipatif secara tepat. Informasi lebih lanjut terkait prediksi musim kemarau 2026 dan langkah mitigasi dapat diakses melalui laman resmi BMKG.