Bandros : “Si Gurih” dari Zaman Belanda yang Kini Tampil Kekinian

0
1454

(Vibizmedia) Di tengah banyaknya kuliner modern dan makanan siap saji internasional, sebuah kudapan tradisional tetap kokoh memikat lidah masyarakat. Kue legendaris khas Jawa Barat yang disebut “Bandros” telah ada sejak era kolonial Hindia Belanda sekitar tahun 1900-an.

​Awalnya, kue ini diperkenalkan oleh para pedagang di wilayah Priangan dan Kota Bandung dengan memanfaatkan bahan baku lokal yang melimpah.

Menariknya nama “Bandros” itu berasal dari bahasa Sunda yang berarti “ditumbuk atau dipukul”, hal itu terjadi pada proses pengolahan bahan-bahan utamanya. Bahan utamanya menggunakan tepung beras.

Variasi Sebutan “Bandros”

​Meskipun bandros populer di Jawa Barat, kue berbentuk setengah lingkaran yang dipanggang berjajar ini memiliki nama yang berbeda di berbagai daerah.

Jika ke Jakarta, maka masyarakat mengenalnya sebagai “Kue Pancong“. Di Jawa Tengah dan Jawa Timur, disebut “Gandos” atau “Rangin“. Di Cirebon dinamai “Kue Gonjing“, di Bojonegoro disebut “Tratak Jaran“, dan di Bali dinamai “Daluman“.

Adanya Rahasia Kelezatan di Balik Tungku Arang

​Tahukah Anda dimana letak kelezatan Bandros? Kelezatan Bandros terletak pada bahannya yang sederhana :

Campuran tepung beras, santan kental, kelapa parut kasar, daun pandan, sedikit garam, dan kocokan telur. Proses memasaknya pun masih banyak yang mempertahankan cara tradisional dengan menggunakan tungku arang, yang memberikan aroma smoky yang khas.

Tekstur Bandros yang renyah di luar namun lembut dan gurih di dalam, membuat siapa pun sulit untuk berhenti hanya pada satu gigitan.

Secara tradisional, Bandros hadir dalam dua varian: asin (polos) dan manis (dengan taburan gula pasir). Bahkan di beberapa daerah, Bandros dapat dinikmati dengan saus gula merah cair yang dicampur potongan buah nangka untuk aroma yang lebih menggoda.

Dari Pikulan hingga Trendy Toppings

​Dulu kita sering mendengar bunyi dentingan besi dari pedagang Bandros yang memikul dagangannya keluar-masuk gang. Meski kini pedagang pikulan mulai langka, namun eksistensi dari kue Bandros ini justru semakin bersinar lewat beragam inovasi.

​Bandros kini mengalami modifikasi rasa. Di pusat-pusat kuliner seperti Bandung, Bandros tidak lagi hanya bertabur gula, melainkan tampil mewah dengan berbagai topping modern seperti:

  • Cokelat dan susu kental manis
  • Keju parut
  • ​Pisang
  • Hingga varian gurih seperti kornet dan daging.

​Kue Bandros tetap menjadi pilihan utama untuk menemani waktu santai di sore hari. Menyantap Bandros selagi hangat bersama secangkir teh manis atau kopi panas memberikan sensasi yang nikmat. Perpaduan antara gurihnya kelapa parut yang garing di luar dan lembut di dalam memang paling pas beradu dengan manisnya teh atau pahitnya kopi.

​Bandros sudah berusia lebih dari satu abad. Meskipun demikian, Bandros membuktikan bahwa jajanan “jadul” tidak harus terlihat kuno. Dengan adanya inovasi dengan rasa-rasa yang baru, menjadikan kue Bandros tetap menjadi kuliner yang enak dan banyak diminati.

​Jadi, apakah Bandros sudah menjadi daftar jajanan wajib Anda hari ini?