(Vibizmedia – Industry) Lonjakan harga bahan baku plastik, baik di pasar global maupun domestik, semakin menekan berbagai sektor di Indonesia. Kenaikan ini dipicu oleh harga minyak yang tinggi, gangguan rantai pasok, serta ketidakpastian geopolitik. Per April 2026, harga plastik bahkan tercatat meningkat hingga 50–100 persen.
Dampaknya langsung terasa pada industri manufaktur, kemasan, hingga pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Produsen makanan dan minuman menjadi salah satu yang paling terdampak karena ketergantungan tinggi terhadap kemasan plastik. Kenaikan biaya produksi pun berpotensi mendorong harga jual produk kepada konsumen.
Di tengah tekanan tersebut, Indonesia juga menghadapi persoalan serius dalam pengelolaan sampah plastik. Data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) menunjukkan tren peningkatan signifikan. Timbunan sampah plastik tercatat sekitar 9–10 juta ton pada 2019 dan diperkirakan mencapai 12,4 juta ton pada 2025—naik sekitar 20–30 persen dalam lima tahun.
Ironisnya, pertumbuhan sampah ini belum diimbangi dengan sistem pengelolaan yang memadai. Dari total tempat pemrosesan akhir (TPA) yang ada, baru sekitar 25 persen yang terkelola, sementara sisanya masih belum tertangani secara optimal.
Situasi ini mendorong munculnya alternatif solusi yang lebih berkelanjutan. Salah satunya adalah penggunaan kemasan guna ulang, seperti galon isi ulang untuk kebutuhan air minum. Selain lebih hemat karena tidak terdampak fluktuasi harga plastik, pilihan ini juga dinilai lebih ramah lingkungan karena mengurangi sampah.
Praktisi komunikasi Andre Donas menyebutkan bahwa konsumen kini semakin mempertimbangkan aspek keberlanjutan dalam memilih produk. Hal ini sejalan dengan survei Pusat Riset Konsumen Ganesha (PRKG) yang menunjukkan tingkat penggunaan galon guna ulang di wilayah Jakarta, Bekasi, Depok, dan Tangerang mencapai 89,36 persen.
Di sisi lain, pemerintah daerah mulai mengambil langkah adaptif. Pemerintah Provinsi DI Yogyakarta, misalnya, mendorong UMKM beralih ke kemasan berbasis serat alam seperti mendong, pandan, dan kelapa. Selain ramah lingkungan, pendekatan ini juga memanfaatkan potensi lokal.
Dengan tekanan harga dan persoalan sampah yang kian kompleks, peralihan ke kemasan ramah lingkungan dan guna ulang menjadi tidak hanya relevan, tetapi juga semakin mendesak.









