Fosil Tyrannosaurus Rex Terjual Rp815 Miliar, Cetak Rekor Dunia

0
66
Tyrannosaurus rex Hell Creek Formation

(Vibizmedia-Kolom) Raja para dinosaurus kembali merebut takhtanya, seekor Tyrannosaurus rex berusia sekitar 67 juta tahun bernama Gus, dengan panjang mencapai 38 kaki (sekitar 11,6 meter), terjual seharga US$50,1 juta atau sekitar Rp899 miliar (dengan asumsi kurs Rp17.942 per dolar AS) dalam lelang Sotheby’s pada Selasa. Nilai tersebut menjadikannya fosil dinosaurus termahal yang pernah dijual melalui lelang, melampaui rekor sebelumnya sebesar US$44,6 juta atau sekitar Rp800 miliar yang dibayarkan pendiri Citadel, Kenneth Griffin, pada 2024 untuk Apex, seekor Stegosaurus berusia sekitar 150 juta tahun.

Kisah Tyrannosaurus rex sendiri bermula lebih dari satu abad lalu. Spesies ini pertama kali ditemukan pada 1902 oleh pemburu fosil Amerika Barnum Brown di Formasi Hell Creek, Montana. Tiga tahun kemudian, paleontolog Henry Fairfield Osborn secara resmi memberi nama Tyrannosaurus rex, yang berarti “raja kadal tiran”. Sejak saat itu, T. rex menjadi ikon dunia paleontologi sebagai salah satu predator darat terbesar yang pernah hidup di Bumi. Hingga kini, jumlah kerangka T. rex yang ditemukan masih sangat terbatas dan hanya sebagian kecil yang memiliki tingkat kelengkapan tinggi. Karena itu, setiap penemuan baru selalu menjadi perhatian para ilmuwan sekaligus incaran para kolektor.

Sedikitnya lima penawar bersaing memperebutkan Gus dalam proses lelang yang berlangsung sekitar 10 menit. Saat harga mencapai US$37 juta atau sekitar Rp664 miliar, juru lelang Phyllis Kao sempat menyemangati para peserta agar menaikkan tawaran mereka. “Coba berikan gigitan yang lebih besar. Ini T. rex, bagaimanapun juga,” ujarnya. Pada akhirnya, Gus dimenangkan oleh seorang pembeli anonim yang mengikuti lelang melalui sambungan telepon.

Gus ditemukan di Hell Creek Formation, South Dakota, kawasan yang terkenal kaya akan fosil dinosaurus. Proses ekskavasi berlangsung antara 2021 hingga 2023, kemudian dilanjutkan dengan tiga tahun pekerjaan laboratorium untuk membersihkan, menyusun, dan merakit tulang-belulangnya. Fosil bersejarah ini dinamai untuk mengenang mendiang Gary “Gus” Licking, yang bersama istrinya, Dana, memiliki peternakan sapi seluas sekitar 6.500 acre di lokasi penemuan tersebut. Tim penggalian bahkan mendirikan perkemahan selama lima bulan setiap tahunnya untuk memastikan seluruh bagian fosil berhasil ditemukan dari area penggalian seluas sekitar 7.000 kaki persegi.

Minat terhadap fosil dinosaurus juga terus meningkat di kalangan kolektor dunia. Aktor Russell Crowe pernah membeli tengkorak Mosasaurus dari Leonardo DiCaprio seharga US$35.000 atau sekitar Rp628 juta pada 2008. Sementara itu, Nicolas Cage membeli tengkorak Tyrannosaurus bataar dalam sebuah lelang pada 2007 seharga US$276.000 atau sekitar Rp4,95 miliar, tetapi kemudian diketahui bahwa fosil tersebut digali secara ilegal dari Mongolia sehingga ia harus mengembalikannya.

Amerika Serikat merupakan satu-satunya negara yang memperbolehkan fosil yang ditemukan di lahan milik pribadi untuk diperjualbelikan. Kondisi ini memicu perdebatan panjang mengenai kepemilikan fosil dinosaurus. Direktur Smithsonian National Museum of Natural History, Kirk Johnson, menjelaskan bahwa paleontolog komersial hanya diizinkan menggali di lahan pribadi, sedangkan museum melakukan penggalian di lahan federal. Menurutnya, kedua pihak bukan saling bersaing, melainkan saling melengkapi. Ia juga mengingatkan bahwa saat ini terdapat sekitar 50 spesimen T. rex yang telah ditemukan sehingga Gus bukan satu-satunya. Banyak fosil yang akhirnya dipinjamkan atau bahkan disumbangkan kepada museum oleh para pemiliknya.

Pasar fosil mulai mengalami lonjakan nilai sejak penjualan Stan, seekor T. rex, seharga US$31,8 juta atau sekitar Rp570,6 miliar pada 2020 kepada Departemen Kebudayaan dan Pariwisata Abu Dhabi. Dinosaurus tersebut kini dipamerkan di museum sejarah alam kota itu yang dibuka pada 2025. Sebelum penjualan Stan, rekor harga tertinggi selama hampir tiga dekade dipegang oleh Sue, seekor T. rex lain yang terjual seharga US$8,4 juta atau sekitar Rp150,7 miliar dan kini menjadi koleksi Field Museum of Natural History di Chicago.

Meningkatnya harga jual fosil turut mengubah dinamika pasar. Semakin banyak fosil yang ditawarkan untuk dijual, sementara para paleontolog komersial memperoleh sumber pendanaan yang lebih besar untuk membiayai penggalian yang mahal dan memakan waktu bertahun-tahun. Gus sendiri digali dan dirakit selama lima tahun oleh tim Theropoda Expeditions, yang mendokumentasikan lokasi penemuan setiap bagian tulangnya secara rinci. Kerangka tersebut memiliki tingkat kelengkapan sekitar 61% berdasarkan jumlah tulang dan 75–80% berdasarkan massa tulang, menjadikannya salah satu spesimen Tyrannosaurus rex paling lengkap yang pernah ditemukan.

Selain Gus, lelang sejarah alam Sotheby’s juga menghadirkan sejumlah fosil bernilai tinggi lainnya. Sepasang rahang Allosaurus lengkap dengan giginya terjual seharga US$1,5 juta atau sekitar Rp26,9 miliar, sementara satu kaki T. rex setinggi sekitar 9,5 kaki yang dijual oleh Black Hills Institute untuk membantu pendanaan museum sejarah alam barunya berhasil terjual seharga US$1,8 juta atau sekitar Rp32,3 miliar.

Kepala Black Hills Institute, Peter Larson, yang sebelumnya juga memimpin penggalian Sue dan Stan, menilai nilai ekonomi fosil telah berubah secara drastis dalam beberapa dekade terakhir. Menurutnya, para kolektor kini bersedia membayar fosil sesuai dengan nilai ilmiah, sejarah, dan kelangkaannya, menjadikan pasar fosil sebagai salah satu segmen koleksi paling bergengsi di dunia.

Indonesia memang belum pernah menemukan fosil dinosaurus seperti Tyrannosaurus rex, namun memiliki sejarah penemuan fosil purba yang sama pentingnya bagi dunia ilmu pengetahuan. Penemuan paling terkenal adalah Java Man (Homo erectus) di Trinil, Ngawi, Jawa Timur, oleh ilmuwan Belanda Eugène Dubois pada 1891. Fosil tersebut menjadi salah satu bukti awal evolusi manusia yang diakui secara internasional. Indonesia juga menggemparkan dunia pada 2003 melalui penemuan Homo floresiensis atau “manusia hobbit” di Gua Liang Bua, Flores, spesies manusia purba bertubuh kecil yang diperkirakan hidup hingga sekitar 50.000 tahun lalu.

Selain manusia purba, Indonesia menyimpan kekayaan fosil hewan purba di berbagai lokasi seperti Sangiran, Ngandong, dan Flores. Di kawasan tersebut ditemukan fosil Stegodon (kerabat gajah purba), badak purba, kerbau purba, hingga rusa purba yang hidup pada zaman Pleistosen. Sangiran sendiri telah ditetapkan sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO karena menyimpan lebih dari 13.000 fosil, termasuk sekitar setengah dari seluruh koleksi Homo erectus yang pernah ditemukan di dunia. Berbeda dengan Amerika Serikat yang memperbolehkan perdagangan fosil dari lahan pribadi, seluruh fosil penting di Indonesia dilindungi sebagai warisan budaya dan memiliki nilai ilmiah yang jauh lebih besar daripada nilai komersial.

Hingga kini, belum ada fosil dinosaurus yang terkonfirmasi ditemukan di Indonesia. Para peneliti menjelaskan bahwa ketika dinosaurus masih mendominasi Bumi sekitar 66–230 juta tahun lalu, sebagian besar wilayah yang kini menjadi Indonesia masih berada di bawah laut. Selain itu, aktivitas tektonik yang tinggi, letusan gunung api, serta iklim tropis mempercepat proses pelapukan batuan dan fosil sehingga peluang ditemukannya sisa-sisa dinosaurus menjadi jauh lebih kecil dibandingkan wilayah seperti Amerika Utara atau Mongolia. Karena itu, apabila Amerika Serikat dikenal melalui kisah lelang fosil T. rex bernilai ratusan miliar rupiah, Indonesia justru dikenang melalui penemuan manusia purba yang mengubah pemahaman dunia mengenai sejarah evolusi manusia.