(Vibizmedia – Nasional) Bank Indonesia (BI) memasuki fase baru kebijakan moneter. Setelah beberapa bulan berfokus memperkuat stabilitas rupiah, menjaga kredibilitas kebijakan, dan menarik kembali aliran modal asing, bank sentral kini mulai mengarahkan perhatian pada bagaimana stabilitas tersebut dapat mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih kuat dan berkelanjutan.
Kepala Ekonom Trimegah Sekuritas Indonesia, Fakhrul Fulvian, menilai keputusan BI mempertahankan BI Rate 5,75 persen dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) Agustus 2026 sebagai perubahan yang penting dari arah komunikasi BI.
“Fokus utama sejak Mei hingga Juli adalah stabilisasi. Menurut saya, fase tersebut sebagian besar sudah berhasil dicapai,” ujar Fakhrul, Kamis (20/8/2026).
Menurutnya, kondisi rupiah dan pasar keuangan yang semakin stabil memberi ruang bagi BI untuk mengalihkan perhatian dari sekadar menjaga stabilitas, menuju penguatan transmisi kebijakan ke sektor riil.
Kini, perhatian bukan hanya pada price of money seperti suku bunga dan imbal hasil, tetapi juga pada flow of money, yakni bagaimana likuiditas yang tersedia dapat mengalir secara efektif ke dunia usaha.
“Stabilisasi bukan tujuan akhir. Stabilisasi adalah fondasi untuk menciptakan likuiditas yang lebih sehat, kredit yang lebih efektif, investasi yang meningkat, dan pertumbuhan ekonomi yang lebih kuat,” jelasnya.
Namun tantangan berikutnya adalah memperkuat peran sektor swasta. Pertumbuhan ekonomi saat ini masih cukup ditopang oleh konsumsi dan investasi pemerintah. Agar pertumbuhan semakin tinggi dan berkelanjutan, investasi swasta, manufaktur, pasar modal, serta sektor produktif perlu kembali menjadi mesin utama ekonomi.
Pelemahan PMI manufaktur dalam beberapa bulan terakhir menjadi sinyal penting perlunya mendorong aktivitas sektor riil dan investasi. Sementara, di sisi lain, penguatan instrumen pasar uang, pengelolaan likuiditas, serta KLM PPU dinilai menunjukkan bahwa BI mulai membangun kerangka kebijakan pascastabilisasi.
“Ini bukan lagi soal mempertahankan stabilitas semata, tetapi bagaimana membuat stabilitas tersebut bekerja bagi perekonomian,” katanya.
Ke depan, indikator keberhasilan kebijakan moneter diperkirakan semakin luas, mulai dari pertumbuhan kredit, investasi, ekspansi usaha, penciptaan lapangan kerja hingga respons sektor swasta.
Fakhrul menilai perubahan bahasa dalam komunikasi BI juga menjadi sinyal penting bahwa fokus kebijakan mulai bergerak dari stabilisasi menuju transmisi.
“Pertanyaan berikutnya adalah bagaimana likuiditas yang sudah terkumpul dapat mengalir ke sektor riil, mendukung investasi, memperkuat dunia usaha, dan menciptakan pertumbuhan yang lebih seimbang antara pemerintah dan sektor swasta,” pungkasnya.









