Patung Hachiko di Tokyo Diserbu Wisatawan, Kisah Kesetiaan Sang Anjing Terus Memikat Dunia

0
42
Banyak wisatawan antri hendah berfoto di depan patung Hachiko (Foto: Rima Santa Nova)

(Vibizmedia – Denyut Dunia) Jika berbicara mengenai ikon Tokyo, nama Shibuya hampir selalu muncul bersama persimpangan jalan terkenalnya, Shibuya Scramble Crossing. Namun, hanya beberapa langkah dari hiruk-pikuk persimpangan tersebut terdapat sebuah patung yang ukurannya tidak terlalu besar, tetapi memiliki daya tarik luar biasa bagi wisatawan dari berbagai penjuru dunia: Patung Hachiko.

Setiap hari, kawasan di sekitar patung anjing Akita berwarna perunggu ini menjadi salah satu titik yang ramai dikunjungi wisatawan. Pengunjung rela mengantre untuk mendapatkan kesempatan berfoto bersama Hachiko, bahkan pada waktu-waktu tertentu antreannya dapat mengular hingga membuat area kecil di sekitar patung terlihat penuh.

Popularitas tersebut tidak lepas dari posisi Hachiko yang berada tepat di salah satu kawasan paling sibuk dan terkenal di Tokyo. Shibuya sendiri merupakan pusat perdagangan, hiburan, budaya anak muda, serta salah satu simpul transportasi utama ibu kota Jepang. Panduan resmi pariwisata Tokyo bahkan menempatkan Shibuya Scramble Crossing dan Patung Hachiko sebagai salah satu atraksi yang wajib dikunjungi ketika berada di kawasan tersebut.

Bukan Sekadar Patung Anjing

Bagi wisatawan yang baru pertama kali datang ke Shibuya, Hachiko mungkin terlihat seperti sekadar sebuah patung anjing yang menjadi tempat berfoto.

Namun, bagi masyarakat Jepang, Hachiko memiliki kisah yang jauh lebih dalam.

Hachiko adalah seekor anjing Akita yang dikenal karena kesetiaannya kepada pemiliknya, Profesor Hidesaburo Ueno. Setelah Ueno meninggal dunia pada 1925, Hachiko tetap datang ke Stasiun Shibuya selama bertahun-tahun, seolah-olah masih menunggu kepulangan sang pemilik.

Kisah kesetiaan tersebut kemudian menyebar luas di Jepang. Hachiko bahkan menjadi simbol kesetiaan dan pengabdian yang begitu kuat sehingga masyarakat mulai mengenalnya sebagai “Anjing Hachiko yang Setia”.

Menurut panduan resmi pariwisata Tokyo, Hachiko terus menunggu di luar gerbang tiket Stasiun Shibuya selama bertahun-tahun setelah kematian Profesor Ueno. Kisah tersebut kemudian menjadikan patung Hachiko sebagai salah satu tempat pertemuan paling terkenal di Shibuya.

Patung Pertama Dibangun pada 1934

Popularitas Hachiko bahkan telah dimulai ketika anjing tersebut masih hidup.

Pada 21 April 1934, patung pertama Hachiko diresmikan di depan Stasiun Shibuya. Patung tersebut dibuat oleh pematung Teru Ando, sementara Hachiko sendiri hadir dalam upacara peresmian.

Hachiko mati pada 8 Maret 1935 pada usia sekitar 11 tahun.

Patung pertama tersebut kemudian dibongkar selama Perang Dunia II untuk dimanfaatkan logamnya. Namun, setelah perang berakhir, sebuah patung baru dibuat oleh Takeshi Ando, putra Teru Ando, dan diresmikan pada 15 Agustus 1948.

Patung inilah yang kemudian menjadi salah satu simbol paling terkenal dari Shibuya.

Dari Tempat Menunggu Menjadi Tempat Bertemu

Menariknya, fungsi Patung Hachiko tidak hanya sebagai objek wisata.

Selama puluhan tahun, Hachiko Square menjadi salah satu lokasi pertemuan yang paling dikenal di Tokyo.

“Ketemu di Hachiko” menjadi semacam referensi lokasi yang mudah dipahami oleh masyarakat yang berada di Shibuya. Posisi patung yang berada di dekat Stasiun Shibuya membuatnya sangat mudah dikenali.

Inilah yang membuat Hachiko memiliki karakter unik: ia merupakan monumen sejarah sekaligus bagian dari kehidupan sehari-hari kota.

Hachiko bukan hanya sesuatu yang dilihat wisatawan. Ia juga menjadi titik temu masyarakat lokal.

Berfoto di depan patung Hachiko (Foto: Deviyani)

Mengapa Semakin Ramai?

Lonjakan wisatawan internasional ke Tokyo ikut membuat kawasan Hachiko semakin populer.

Shibuya merupakan salah satu kawasan yang paling mudah ditemukan dalam konten perjalanan, media sosial, video wisata, hingga film dan budaya populer Jepang. Wisatawan yang datang ke Tokyo biasanya menggabungkan beberapa atraksi sekaligus—Shibuya Crossing, Patung Hachiko, pusat perbelanjaan, restoran, hingga kawasan hiburan.

Akibatnya, area yang relatif kecil di sekitar Hachiko harus menampung wisatawan yang ingin melakukan aktivitas yang sama: berfoto dengan patung tersebut.

Dalam beberapa kasus, antrean bahkan menjadi bagian dari pengalaman wisata itu sendiri.

Pada April 2026, sebuah video yang viral di media sosial memperlihatkan wisatawan yang diduga memotong antrean di Patung Hachiko. Laporan tersebut menyebut pengunjung lain telah menunggu sekitar 10 hingga 30 menit untuk mendapatkan kesempatan berfoto. Peristiwa tersebut kemudian memicu perdebatan mengenai etika wisatawan dan pentingnya menghormati antrean di Jepang. (India Today)

Fenomena tersebut memperlihatkan betapa tingginya daya tarik Hachiko sebagai objek wisata.

Hachiko di Tengah Lautan Wisatawan

Popularitas Hachiko juga tidak dapat dipisahkan dari karakter Shibuya sebagai salah satu pusat keramaian Tokyo.

Stasiun Shibuya sendiri merupakan salah satu stasiun tersibuk dan paling kompleks di Tokyo. Arus manusia yang sangat besar, ditambah popularitas kawasan tersebut di kalangan wisatawan internasional, membuat kawasan sekitar stasiun hampir selalu hidup.

Pada 2026, bahkan sejumlah perubahan akses di sekitar Stasiun Shibuya dilakukan karena kawasan tersebut menghadapi kepadatan pejalan kaki yang tinggi. Perubahan tersebut termasuk penyesuaian lokasi Hachiko Gate dan sejumlah akses menuju stasiun.

Dengan demikian, ketika wisatawan berhenti untuk berfoto di Hachiko, mereka sebenarnya sedang berada di tengah salah satu kawasan perkotaan paling dinamis di Jepang.

Hachiko Tidak Lagi Hanya Milik Tokyo

Menariknya, kisah Hachiko kini telah berkembang jauh melampaui Tokyo.

Kisah kesetiaan seekor anjing yang setiap hari menunggu pemiliknya telah menjadi cerita universal mengenai kasih sayang, kehilangan dan kesetiaan.

Itulah sebabnya Hachiko mampu menarik perhatian orang yang bahkan tidak memahami bahasa Jepang ataupun sejarah Jepang secara mendalam.

Wisatawan mungkin datang karena ingin melihat ikon Shibuya yang mereka lihat di media sosial. Namun, setelah mengetahui ceritanya, pengalaman melihat patung tersebut dapat berubah menjadi sesuatu yang lebih emosional.

Patung itu bukan sekadar objek untuk difoto.

Di baliknya terdapat kisah tentang seekor anjing yang terus datang ke tempat yang sama karena seolah-olah percaya bahwa orang yang dicintainya akan kembali.

Hachiko dan Tantangan Overtourism

Popularitas Hachiko sekaligus memperlihatkan tantangan baru yang dihadapi destinasi wisata Jepang: overtourism atau kepadatan wisata akibat lonjakan kunjungan.

Shibuya harus mempertahankan keseimbangan antara memberikan pengalaman terbaik kepada wisatawan dan menjaga kenyamanan masyarakat yang tinggal, bekerja, serta menggunakan Stasiun Shibuya setiap hari.

Persoalannya bukan semata-mata jumlah wisatawan. Perilaku wisatawan juga menjadi faktor penting.

Mengantre dengan tertib, tidak menghalangi jalur pejalan kaki, tidak berdesak-desakan untuk mengambil foto, serta tidak mengganggu aktivitas masyarakat setempat menjadi bagian penting dari etika berwisata di kawasan tersebut.

Pemerintah dan pengelola kawasan Shibuya sendiri terus berupaya menata kawasan tersebut agar lebih aman, nyaman dan mudah dilalui. Transformasi kawasan Shibuya diarahkan bukan hanya untuk menciptakan pusat komersial baru, tetapi juga meningkatkan kualitas ruang publik dan pergerakan pejalan kaki.

Hachiko Tetap Menjadi Simbol Shibuya

Popularitas Hachiko bahkan terus dirayakan melalui berbagai kegiatan budaya.

Pada 7–9 Agustus 2026, misalnya, Shibuya menyelenggarakan HACHI-8 PROJECT 2026, sebuah proyek budaya yang terinspirasi dari Hachiko. Acara tersebut menghadirkan lebih dari 88 karya dari 88 seniman dan dirancang untuk memperkenalkan kembali kisah serta makna Hachiko kepada generasi berikutnya.

Ini menunjukkan bahwa Hachiko bukan sekadar peninggalan sejarah. Ia telah berkembang menjadi bagian dari identitas budaya Shibuya.

Bagi wisatawan, mengunjungi Hachiko mungkin hanya membutuhkan beberapa menit. Mengantre, mengambil foto, kemudian melanjutkan perjalanan menuju Shibuya Crossing atau pusat perbelanjaan.

Dan setiap hari, ketika wisatawan dari berbagai negara kembali memenuhi area di depan Stasiun Shibuya untuk berfoto bersama Hachiko, kisah kesetiaan sang anjing terus mendapatkan generasi pembaca dan pengunjung baru.