Pembatasan Pertalite Jadi Opsi Penataan Subsidi BBM, Desil 9–10 Masuk Kajian

0
110

Rencana pembatasan pembelian Pertalite bagi masyarakat yang masuk kelompok desil 9 dan 10 hingga kini belum diputuskan. Pemerintah masih mengkaji kebijakan tersebut sehingga penyaluran Pertalite masih berlangsung dengan mekanisme yang berlaku saat ini.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menjelaskan melalui keterangan resmi pada Rabu (19/8/2026), bahwa pembatasan Pertalite masih menjadi bagian dari pembahasan pemerintah. Selama belum ada keputusan final, distribusi BBM bersubsidi tersebut tetap berjalan seperti biasa.

Bahlil menyebutkan bahwa ketentuan yang berlaku saat ini menetapkan konsumsi Pertalite maksimal 200 liter per hari bagi bus dan truk. Sementara itu, kendaraan roda empat memiliki batas konsumsi sebanyak 50 liter per hari.

Ia menegaskan bahwa Pertalite pada dasarnya diperuntukkan bagi masyarakat yang memang berhak memperoleh subsidi energi. Karena itu, masyarakat yang dinilai telah memiliki kemampuan ekonomi diharapkan menggunakan bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi sehingga anggaran subsidi dapat lebih tepat sasaran.

Sebelumnya, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa juga menyampaikan bahwa pemerintah tengah menyiapkan langkah pengendalian subsidi BBM, khususnya Pertalite. Menurutnya, kebijakan tersebut dapat diterapkan secara bertahap karena sistem yang dimiliki PT Pertamina dinilai telah cukup mendukung pelaksanaan pembatasan.

Salah satu opsi yang tengah dibahas adalah menghentikan akses pembelian Pertalite bagi masyarakat yang berada dalam kelompok desil 9 dan 10. Kelompok masyarakat tersebut nantinya diarahkan untuk menggunakan BBM nonsubsidi.

Purbaya menambahkan bahwa penerapan kebijakan tersebut masih menunggu penyelesaian pembahasan serta kesiapan sistem. Pemerintah berharap mekanisme pengendalian subsidi dapat segera diterapkan setelah seluruh perangkat pendukung dinyatakan siap.

Dalam klasifikasi kesejahteraan yang digunakan Badan Pusat Statistik (BPS), desil merupakan pembagian kelompok keluarga berdasarkan tingkat kesejahteraan sosial ekonomi. Pengelompokan tersebut disusun berdasarkan sejumlah indikator, antara lain pekerjaan, tingkat pendidikan, kondisi tempat tinggal, daya listrik, serta kepemilikan aset.

Kelompok desil 9 mencakup keluarga yang berada pada posisi 81–90 persen dalam distribusi tingkat kesejahteraan. Sementara itu, desil 10 merupakan 10 persen kelompok keluarga dengan tingkat kesejahteraan relatif paling tinggi.