Jembatan Persahabatan Thailand–Jepang yang Terkenal di Bangkok

0
180
Thai–Japanese Bridge (Foto: Basril Tarigan)

(Vibizmedia – Denyut Dunia) Jembatan Persahabatan Thailand–Jepang atau Thai–Japanese Bridge merupakan salah satu infrastruktur transportasi yang menarik di pusat kota Bangkok. Berbeda dengan jembatan besar yang melintasi sungai, bangunan ini sebenarnya merupakan jalan layang (flyover/overpass) untuk kendaraan yang melintasi salah satu persimpangan paling sibuk di kawasan pusat Bangkok.

1. Lokasi dan fungsi

Thai–Japanese Bridge berada di Rama IV Road, tepat di kawasan Sala Daeng, pada persimpangan Rama IV Road dengan Silom Road dan jaringan jalan di sekitarnya. Lokasinya berdekatan dengan Lumphini Park, kawasan Silom, serta simpul transportasi BTS Sala Daeng dan MRT Si Lom.

Posisi ini sangat strategis karena Silom merupakan salah satu kawasan bisnis utama Bangkok. Karena itu, persimpangan tersebut sejak lama menghadapi volume kendaraan yang sangat tinggi.

Jalan layang dibangun untuk membuat sebagian arus kendaraan melewati persimpangan tanpa harus berhenti di lampu lalu lintas di permukaan jalan. Dengan demikian, kendaraan yang menggunakan jalur layang dapat bergerak lebih lancar, sementara lalu lintas di bawahnya tetap melayani kendaraan yang harus berbelok atau menuju ruas jalan lainnya. Sumber mengenai lokasi dan fungsi jembatan menyebutnya sebagai jalan layang khusus kendaraan yang dibangun untuk membantu mengurangi kemacetan di kawasan Silom.

2. Dibangun dengan bantuan Jepang

Salah satu hal yang membuat jembatan ini istimewa adalah sejarah pembangunannya. Thai–Japanese Bridge selesai pada 1992 melalui bantuan hibah Jepang. Jadi, nama “Thai–Japanese” bukan sekadar nama simbolis, tetapi berkaitan langsung dengan kerja sama pembangunan antara kedua negara.

Pembangunan tersebut berlangsung ketika Bangkok sedang mengalami pertumbuhan ekonomi dan urbanisasi yang pesat. Peningkatan aktivitas perdagangan, perkantoran, kendaraan pribadi, dan transportasi perkotaan membuat kebutuhan terhadap infrastruktur untuk mengatasi kemacetan semakin mendesak.

Kerja sama seperti ini juga merupakan bagian dari sejarah panjang keterlibatan Jepang dalam pembangunan infrastruktur Thailand. Pemerintah Jepang melalui skema kerja sama pembangunan dan bantuan resmi telah lama terlibat dalam proyek jalan, transportasi, jembatan, serta infrastruktur lainnya di Thailand. Kementerian Pertanahan, Infrastruktur, Transportasi dan Pariwisata Jepang mencatat bahwa kerja sama Jepang dengan Thailand dalam pembangunan jalan telah berlangsung selama bertahun-tahun, termasuk melalui studi pengembangan dan bantuan pembangunan.

3. Mengapa dibangun di kawasan Silom?

Pada dasarnya, jawabannya adalah kemacetan dan posisi strategis.

Silom merupakan salah satu pusat kegiatan ekonomi Bangkok. Kawasan ini berkembang sebagai distrik perkantoran, perdagangan, perbankan, hotel dan kegiatan bisnis internasional. Rama IV Road sendiri merupakan salah satu koridor penting yang menghubungkan berbagai bagian pusat kota.

Persimpangan Rama IV–Silom–Sala Daeng menjadi titik pertemuan berbagai arus kendaraan. Karena itu, pembangunan flyover memungkinkan lalu lintas pada koridor utama bergerak secara lebih kontinu.

Menariknya, pembangunan jalan layang tersebut merupakan bagian dari kecenderungan Bangkok pada era 1980-an dan 1990-an untuk menggunakan persimpangan bertingkat sebagai salah satu solusi mengatasi kemacetan. Thai–Belgian Bridge yang dibangun sebelumnya menjadi salah satu contoh penting, dan setelah itu Bangkok membangun sejumlah jalan layang lainnya.

4. Bukan sekadar infrastruktur

Yang menarik dari Thai–Japanese Bridge adalah bagaimana infrastruktur transportasi sekaligus menjadi simbol hubungan bilateral.

Di bagian jembatan terdapat papan bertuliskan: THAI–JAPANESE BRIDGE, disertai bendera Thailand dan Jepang. Namun, papan tersebut ternyata baru dipasang pada 2015, sebagai bagian dari kegiatan publikasi mengenai kerja sama pembangunan Jepang. Jembatannya sendiri telah selesai sejak 1992.

Dengan demikian, ada dua lapisan makna pada jembatan ini. Pertama, secara praktis dibangun untuk meningkatkan kelancaran lalu lintas; kedua, ecara diplomatik menjadi simbol kerja sama dan persahabatan Thailand–Jepang.

Hal tersebut sejalan dengan sejarah hubungan kedua negara yang sangat panjang. Kedutaan Besar Jepang di Thailand mencatat bahwa hubungan Thailand–Jepang memiliki sejarah lebih dari 600 tahun, sementara kerja sama modern kedua negara berkembang luas dalam bidang ekonomi, teknologi, pendidikan dan pembangunan infrastruktur.

5. Mengintip Kawasan di Sekitarnya

Thai–Japanese Bridge sekarang berada di tengah lingkungan perkotaan yang sangat padat dan modern. Di bawah dan di sekitar flyover terdapat persimpangan besar dengan mobil, taksi, bus, sepeda motor dan pejalan kaki.

Di dekatnya terdapat Silom Road, salah satu pusat bisnis Bangkok; Sala Daeng, kawasan komersial dan perkantoran; Lumphini Park, salah satu ruang terbuka terbesar di pusat Bangkok; BTS Sala Daeng; MRT Si Lom; berbagai gedung perkantoran, hotel, pusat perbelanjaan dan restoran.

Karena itu, kawasan ini menjadi contoh menarik bagaimana berbagai lapisan transportasi Bangkok bertemu dalam satu ruang: jalan raya di permukaan, flyover di atasnya, kemudian BTS dan MRT yang berada tidak jauh dari lokasi.

Foto-foto terkini bahkan menunjukkan bagaimana Thai–Japanese Bridge berdampingan dengan jaringan transportasi modern Bangkok dan gedung-gedung tinggi di kawasan pusat kota.

6. Telah Berusia Lebih dari 30 Tahun dan Tetap Penting

Jembatan ini telah beroperasi selama lebih dari tiga dekade. Pada 2009, misalnya, pemerintah kota Bangkok melakukan penutupan sementara untuk pekerjaan pemeliharaan setelah jembatan tersebut beroperasi selama lebih dari 17 tahun.

Artinya, keberadaan Thai–Japanese Bridge tidak berhenti sebagai proyek bantuan pada awal 1990-an. Infrastruktur tersebut terus menjadi bagian dari sistem lalu lintas pusat Bangkok.

Bahkan hingga sekarang, foto-foto kawasan tersebut masih menunjukkan arus kendaraan yang sangat padat di bawah dan di sekitar jembatan. Ini sekaligus memperlihatkan tantangan transportasi Bangkok: sebuah flyover yang dirancang untuk mengatasi kemacetan pada 1990-an masih menjadi bagian penting dari jaringan jalan kota yang menghadapi pertumbuhan kendaraan dan aktivitas ekonomi yang jauh lebih besar.

7. Monumen Persahabatan Jepang-Thailand

Thai–Japanese Bridge sebenarnya dapat dilihat sebagai contoh sederhana tentang bagaimana bantuan pembangunan dapat meninggalkan warisan yang berjangka panjang.

Jepang tidak hanya memberikan bantuan dalam bentuk dana, tetapi kerja sama pembangunan dengan Thailand selama beberapa dekade juga mencakup infrastruktur, teknologi dan transfer pengetahuan. Thai PBS, misalnya, menggambarkan keterlibatan Jepang melalui JICA dalam pembangunan transportasi Thailand sebagai bagian dari kerja sama sekitar 70 tahun yang mencakup berbagai proyek besar.

Karena itu, Thai–Japanese Bridge menarik bukan karena ukurannya atau nilai arsitekturnya, melainkan karena fungsi praktisnya bertemu dengan sejarah diplomasi.

Sebuah jalan layang yang setiap hari dilalui ribuan kendaraan ternyata juga menjadi “monumen” hubungan Thailand dan Jepang.

Dan ada satu hal yang cukup menarik: jembatan ini bukan tempat wisata dalam pengertian konvensional. Tidak ada taman atau dek observasi khusus. Daya tariknya justru terletak pada lokasinya di tengah denyut kehidupan Bangkok—di antara Silom, Lumphini Park, BTS, MRT, gedung pencakar langit dan lalu lintas yang nyaris tidak pernah berhenti.