Ekonomi Indonesia Tetap Tangguh di Tengah Gejolak Global, Pemerintah Andalkan Hilirisasi dan Ekonomi Digital

0
1847
Foto: Kemenko Perekonomian

(Vibizmedia – Jakarta) Perekonomian Indonesia dinilai masih memiliki fondasi yang cukup kuat di tengah ketidakpastian ekonomi global. Tekanan geopolitik, meningkatnya proteksionisme perdagangan, perubahan rantai pasok, hingga perkembangan pesat kecerdasan artifisial (AI) menjadi sejumlah faktor yang terus memengaruhi prospek ekonomi dunia.

Di tengah situasi tersebut, Indonesia mencatat pertumbuhan ekonomi sebesar 5,45 persen pada Semester I-2026. Angka tersebut menunjukkan bahwa aktivitas ekonomi domestik masih mampu bertahan di tengah perlambatan dan berbagai tekanan eksternal.

Sejumlah indikator lain juga memperlihatkan kondisi ekonomi yang relatif terjaga. Hingga Juli 2026, inflasi berada pada level 2,88 persen, sementara aktivitas manufaktur masih berada di atas ambang ekspansi 50. Tingkat keyakinan konsumen juga relatif kuat dengan Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) mencapai 119.

Ketahanan ekonomi turut tercermin dari kinerja investasi. Realisasi investasi pada Semester I-2026 terus menunjukkan penguatan, terutama investasi yang berkaitan dengan program hilirisasi. Posisi cadangan devisa juga tetap solid dengan tingkat yang setara sekitar 5,5 bulan impor.

Dari sektor perbankan, penyaluran kredit tumbuh 12,67 persen secara tahunan, sementara kredit investasi meningkat lebih tinggi hingga 24,9 persen. Pertumbuhan tersebut menunjukkan bahwa pembiayaan untuk kegiatan produktif masih bergerak positif.

Waspadai Risiko El Nino

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan pemerintah tetap perlu mengantisipasi berbagai risiko yang dapat mengganggu kesinambungan pertumbuhan ekonomi. Salah satu perhatian adalah potensi El Nino yang dapat memengaruhi ketersediaan dan kebutuhan sejumlah komoditas, terutama pangan.

Hal tersebut disampaikan Airlangga dalam Sidang Pleno ISEI XXV dan Seminar Nasional ISEI 2026, Kamis (27/8/2026).

Menurutnya, pemerintah terus menyiapkan berbagai kebijakan untuk menjaga momentum pertumbuhan sekaligus mempercepat peningkatan kesejahteraan masyarakat. Kebijakan tersebut diarahkan untuk memperkuat sektor-sektor yang memiliki potensi menjadi sumber pertumbuhan baru.

ISEI dan Perannya dalam Kebijakan Ekonomi

Forum tersebut diselenggarakan oleh Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI), organisasi profesi keilmuan yang memiliki sejarah panjang dalam perkembangan pemikiran ekonomi nasional.

ISEI berdiri pada 14 Januari 1955 dan sejak awal diarahkan untuk berkontribusi terhadap pengembangan ilmu ekonomi serta peningkatan kualitas pemikiran dan kebijakan ekonomi di Indonesia. Organisasi ini juga menjadi ruang bagi para ekonom dari kalangan akademisi, birokrat dan profesional untuk bertukar gagasan mengenai persoalan ekonomi nasional.

Dalam perjalanan lebih dari tujuh dekade, ISEI berkembang menjadi salah satu wadah yang mempertemukan pemikiran akademik dengan kebutuhan dunia usaha dan kebijakan pemerintah. Peran tersebut kembali terlihat dalam penyelenggaraan Seminar Nasional ISEI 2026 dan Sidang Pleno ISEI XXV di IPB International Convention Center, Bogor, pada 26–28 Agustus 2026.

Tahun ini, forum tersebut mengangkat tema “Penguatan Sinergi Pemerintah, Pelaku Usaha, dan Akademisi dalam Mendorong Stabilitas Ekonomi Dinamis, Hilirisasi-Industrialisasi, serta Ekonomi Kerakyatan Menuju Indonesia Maju.” Forum tersebut dirancang bukan hanya sebagai ruang diskusi, tetapi juga untuk menghasilkan gagasan dan rekomendasi bagi arah kebijakan ekonomi nasional maupun daerah.

Mencari Sumber Pertumbuhan Baru

Dalam menghadapi perubahan ekonomi global, pemerintah kini mendorong diversifikasi sumber pertumbuhan. Digitalisasi, industri semikonduktor, dan AI menjadi sejumlah sektor yang dinilai memiliki potensi besar.

Pengembangan sektor tersebut membutuhkan lebih dari sekadar investasi. Indonesia juga perlu memperkuat penguasaan teknologi, riset, pengetahuan, dan kualitas sumber daya manusia.

Dalam industri semikonduktor, misalnya, pemerintah telah menjalin kerja sama dengan perusahaan teknologi Inggris, ARM, untuk mempersiapkan tenaga kerja yang memiliki kompetensi sesuai kebutuhan industri tersebut.

Sementara itu, digitalisasi juga terus diperluas ke sektor-sektor strategis seperti pertanian dan energi, termasuk untuk mendukung kesiapan penerapan program B50.

Pada sektor mineral, pemerintah melakukan berbagai penyesuaian kebijakan, termasuk penguatan mekanisme bursa mineral, agar pembentukan harga dan pengelolaan komoditas mineral dapat memberikan manfaat yang lebih optimal bagi perekonomian nasional.

Perluas Pasar dan Perkuat Hilirisasi

Pemerintah juga melanjutkan deregulasi dan memperluas hubungan perdagangan dengan negara mitra. Saat ini Indonesia telah memiliki 25 perjanjian perdagangan internasional, termasuk kerja sama CPTPP yang melibatkan 12 negara.

Di sisi lain, proses aksesi Indonesia menuju OECD terus bergerak. Indonesia telah memasuki tahap Technical Review, yang dinilai menjadi perkembangan penting dalam upaya meningkatkan standar dan kualitas tata kelola ekonomi nasional.

Pemerintah juga memperkuat dukungan fiskal untuk menciptakan iklim investasi yang lebih kondusif. Kebijakan tersebut diarahkan antara lain untuk mendorong proyek strategis, termasuk pengembangan industri hilir yang berkaitan dengan energi terbarukan.

Pengembangan kawasan industri dan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) juga terus dipercepat agar dapat menjadi pusat kegiatan ekonomi baru sekaligus menarik investasi produktif.

Di bidang perdagangan, penguatan kapasitas ekspor menjadi semakin penting karena sejumlah negara menerapkan kebijakan proteksionisme. Indonesia perlu meningkatkan daya saing produk dan kapasitas produksi agar dapat memanfaatkan peluang perdagangan global secara lebih optimal.

AI Buka Peluang Investasi Baru

Airlangga juga melihat perkembangan AI sebagai peluang baru bagi Indonesia. Menurutnya, Indonesia telah bergabung sebagai founding member World AI Collaboration Organization.

Keanggotaan tersebut dinilai dapat membuka peluang investasi di sektor AI sekitar US$8–12 miliar selama 2026–2030. Investasi tersebut berpotensi mencakup berbagai kebutuhan ekosistem AI, termasuk pembangunan pusat data yang menjadi infrastruktur penting dalam pengembangan teknologi tersebut.

Perkembangan AI sekaligus menunjukkan bahwa transformasi digital membutuhkan dukungan infrastruktur fisik dan energi yang besar. Karena itu, pengembangan ekonomi digital perlu berjalan beriringan dengan pembangunan infrastruktur pendukung.

Mengangkat Komoditas Rakyat

Selain teknologi dan industri, pemerintah juga menyiapkan sumber pertumbuhan dari sektor berbasis komoditas rakyat. Salah satunya melalui pengembangan industri kelapa.

Sebagian besar produksi kelapa Indonesia berasal dari perkebunan rakyat. Pengembangan industri hilir diharapkan tidak hanya meningkatkan nilai tambah, tetapi juga memperbaiki posisi tawar dan harga yang diterima petani serta memperluas ragam produk turunannya.

Indonesia juga terus mengembangkan ekosistem berbasis nikel. Komoditas tersebut menjadi salah satu fondasi pengembangan industri baterai kendaraan listrik dan ekosistem otomotif nasional.

Pengembangan industri berbasis nikel diharapkan mampu memperkuat struktur manufaktur dalam negeri sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap ekspor bahan mentah.

Ekonomi Digital dan Integrasi ASEAN

Di sektor digital, pemerintah terus memperkuat kerja sama regional melalui Digital Economy Framework Agreement (DEFA). Kesepakatan tersebut diharapkan memperkuat integrasi ekonomi digital ASEAN sekaligus membuka peluang lebih luas bagi pelaku usaha Indonesia.

Ekosistem pembayaran digital juga terus berkembang. Sistem pembayaran yang telah digunakan di sejumlah negara Asia dinilai dapat memperkuat konektivitas transaksi lintas negara, baik untuk perdagangan maupun aktivitas ritel.

Integrasi tersebut dapat menjadi salah satu fondasi penting bagi ekonomi kawasan yang semakin terhubung, terutama ketika perdagangan dan konsumsi bergerak menuju platform digital.

Juru Bicara Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Haryo Limanseto mengatakan berbagai peluang tersebut perlu dimanfaatkan secara bersamaan. Percepatan hilirisasi, pengembangan industri semikonduktor dan AI, penguatan ekonomi digital, serta perluasan akses pasar melalui kerja sama perdagangan dinilai dapat menjadi kombinasi penting untuk meningkatkan daya saing Indonesia.

Menurutnya, Indonesia memiliki peluang untuk memanfaatkan perkembangan teknologi digital sebagai sumber pertumbuhan baru sekaligus memperkuat posisi dalam persaingan ekonomi global.

Sinergi Menjadi Kunci

Rangkaian agenda yang dibahas dalam Sidang Pleno ISEI XXV dan Seminar Nasional ISEI 2026 menunjukkan bahwa tantangan ekonomi Indonesia semakin membutuhkan pendekatan lintas sektor.

ISEI sendiri menempatkan sinergi antara pemerintah, dunia usaha, dan akademisi sebagai salah satu bagian penting dari perannya. Dalam forum 2026, gagasan tersebut diterjemahkan melalui pembahasan mengenai stabilitas ekonomi, hilirisasi dan industrialisasi, hingga penguatan ekonomi kerakyatan.

Dengan mempertemukan para ekonom, akademisi, pelaku usaha dan pembuat kebijakan, ISEI diharapkan dapat membantu menjembatani kajian ekonomi dengan kebutuhan nyata di lapangan. Rekomendasi yang lahir dari forum tersebut diharapkan tidak berhenti sebagai wacana akademik, tetapi dapat menjadi masukan bagi kebijakan ekonomi nasional dan daerah.

Bagi Indonesia, momentum tersebut menjadi penting karena tantangan ke depan tidak hanya berkaitan dengan menjaga pertumbuhan, tetapi juga menentukan sumber pertumbuhan baru. Hilirisasi, digitalisasi, AI, semikonduktor, energi terbarukan, ekonomi kerakyatan, dan perluasan pasar ekspor menjadi bagian dari upaya membangun struktur ekonomi yang lebih produktif dan berdaya saing.

Dengan fondasi ekonomi domestik yang relatif kuat serta dukungan sinergi antara pemerintah, dunia usaha dan kalangan akademisi, Indonesia memiliki ruang untuk menjaga momentum pertumbuhan sekaligus mempercepat transformasi menuju ekonomi yang lebih maju, inklusif, dan berkelanjutan.