(Vibizmedia – Nasional) Erupsi Anak Krakatau dan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah Indonesia kembali memperlihatkan bahwa bencana dapat berkembang menjadi gangguan ekonomi ketika memutus konektivitas transportasi, logistik, energi, telekomunikasi, hingga aktivitas pekerja.
Kadin Indonesia Institute menilai kondisi tersebut menjadi momentum untuk menempatkan ketahanan bencana sebagai bagian dari daya saing ekonomi Indonesia.
Bagi dunia usaha, kemampuan menghadapi bencana tidak cukup diukur dari kecepatan respons, tetapi juga dari seberapa cepat kegiatan produksi, distribusi, dan perdagangan dapat kembali berjalan.
“Disaster resilience is now an economic competitiveness issue,” ujar Director of Insight Kadin Indonesia Institute Fakhrul Fulvian dalam keterangannya, Selasa (8/9/2026).
Menurut Fakhrul, gangguan pada satu simpul ekonomi dapat dengan cepat merambat ke sektor lain. Rangkaian erupsi Anak Krakatau terakhir ini, misalnya, berdampak terhadap aktivitas penerbangan dengan hampir 3.000 penerbangan mengalami pembatalan atau penundaan dan sekitar 341.000 penumpang terdampak.
Di satu pihak, risiko karhutla yang masih muncul di sejumlah daerah menunjukkan pentingnya kesiapan menghadapi gangguan berulang. Karena itu, Indonesia dinilai perlu bergeser dari pendekatan disaster response menuju economic continuity.
Kadin Indonesia Institute merespon hal ini dengan penyusunan National Business Continuity Framework yang menghubungkan pemerintah, pengelola infrastruktur, dan dunia usaha. Kerangka ini dapat memetakan critical economic nodes, seperti bandara, pelabuhan, kawasan industri, jaringan listrik, telekomunikasi, pusat data, serta jalur logistik.
Setiap simpul ekonomi perlu memiliki skenario operasi alternatif. Jika bandara terganggu, misalnya, harus tersedia skema pengalihan penumpang dan kargo. Begitu pula ketika jalur logistik terputus, pelaku usaha perlu memiliki alternative route dan pemasok alternatif.
Fakhrul juga mendorong perubahan cara pandang terhadap investasi mitigasi. Sistem peringatan dini, infrastruktur alternatif, komunikasi darurat, peralatan pemadam, hingga cadangan energi bukan sekadar biaya, tetapi economic buffer yang dapat mengurangi kerugian dan mempercepat pemulihan.
Dari sisi bisnis, prinsip efisiensi juga perlu dilengkapi just-in-case melalui persediaan penyangga, pemasok dan jalur logistik alternatif, cadangan listrik, serta business continuity plan.
Dengan demikian, ketahanan terhadap bencana semakin menjadi faktor daya saing dan pertimbangan investasi. Indonesia tidak mungkin menghilangkan seluruh risiko bencana, tetapi dapat memastikan bahwa ketika gangguan terjadi, perekonomian tidak ikut berhenti.









