(Vibizmedia – Surabaya) Politeknik Penerbangan (Poltekbang) Surabaya kembali memperkuat perannya sebagai pusat pengembangan sumber daya manusia (SDM), riset, dan inovasi di bidang penerbangan melalui penyelenggaraan Seminar Nasional Inovasi Teknologi Penerbangan (SNITP) ke-10 dan The 5th International Conference on Advanced Transportation, Engineering and Applied Social Science (ICATEAS) 2026.
Dua forum akademik tersebut digelar pada 9 September 2026 di Poltekbang Surabaya dengan mempertemukan kalangan akademisi, peneliti, praktisi, regulator, serta pelaku industri. Penyelenggaraan SNITP dan ICATEAS menjadi bagian dari upaya memperkuat hubungan antara dunia pendidikan vokasi dengan kebutuhan industri penerbangan yang terus berubah akibat perkembangan teknologi.
SNITP sendiri merupakan agenda tahunan Poltekbang Surabaya yang memasuki penyelenggaraan ke-10 pada 2026. Forum ini dirancang sebagai ruang bertemunya peneliti, akademisi, praktisi, dan pemangku kepentingan untuk mendiskusikan perkembangan teknologi penerbangan sekaligus mempresentasikan hasil penelitian. Penyelenggaraannya dilakukan melalui sesi utama dan sesi paralel yang diisi oleh para pemakalah dari berbagai institusi.
Sementara itu, ICATEAS 2026 merupakan penyelenggaraan kelima konferensi internasional yang dikembangkan Poltekbang Surabaya. Forum ini memberikan ruang yang lebih luas bagi pertukaran pengetahuan dan hasil riset dalam bidang transportasi, engineering, penerbangan, serta ilmu sosial terapan. Konferensi tersebut juga diarahkan untuk membangun jejaring akademik dan profesional pada tingkat internasional.
SNITP ke-10 mengangkat tema “Membangun Kesiapan Kerja SDM Penerbangan melalui Kemitraan Pendidikan Vokasi dan Industri Berbasis Teknologi untuk Ekosistem Kompetensi Berkelanjutan.”
Adapun ICATEAS 2026 mengusung tema “Enhancing Workplace Preparedness in Aviation: Building Resilient and Competent Aviation Professionals for Future Challenges.”
Kedua tema tersebut memiliki benang merah yang kuat, yakni bagaimana lembaga pendidikan penerbangan dapat menghasilkan tenaga profesional yang bukan hanya menguasai kompetensi teknis, tetapi juga mampu beradaptasi terhadap perubahan teknologi, kebutuhan industri, tuntutan keselamatan, serta tantangan penerbangan masa depan.
Kegiatan dibuka Kepala Pusat Pengembangan Sumber Daya Manusia Perhubungan Udara (PPSDMPU) M. Abrar Tuntalanai melalui Zoom Meeting.
Dalam sambutannya, Abrar menekankan bahwa pembangunan SDM penerbangan harus dilakukan secara menyeluruh dan berkelanjutan. Penguatan kualitas tidak hanya ditujukan kepada taruna, tetapi juga instruktur dan tenaga pendidik yang menjadi bagian penting dalam membentuk profesional penerbangan masa depan.
Menurutnya, perkembangan industri penerbangan membutuhkan SDM dengan kombinasi antara kompetensi teknis, integritas, kemampuan beradaptasi, dan pemahaman terhadap teknologi baru. Karena itu, pendidikan vokasi penerbangan harus terus memperbarui metode pembelajaran agar tidak tertinggal dari perubahan yang terjadi di industri.
SNITP Memasuki Satu Dekade
Memasuki penyelenggaraan ke-10, SNITP memiliki posisi penting sebagai forum ilmiah yang menghubungkan penelitian dengan kebutuhan praktis di sektor penerbangan dan transportasi.
Selama penyelenggaraannya, SNITP menjadi wadah bagi akademisi dan peneliti untuk mendiskusikan berbagai isu, mulai dari teknologi pesawat, keselamatan dan keamanan penerbangan, navigasi, bandar udara, transportasi, hingga pemanfaatan teknologi digital.
Peran tersebut juga diperkuat melalui publikasi ilmiah. Prosiding SNITP diterbitkan secara berkala dan memuat hasil penelitian bidang penerbangan serta transportasi. Prosiding tersebut memiliki ISSN 2548-8112 dan e-ISSN 2628-8890 serta tercatat terindeks Google Scholar dan Indonesian Publication Index.
Dengan demikian, SNITP tidak sekadar menjadi agenda seminar, tetapi juga bagian dari ekosistem penelitian dan publikasi ilmiah Poltekbang Surabaya.
Memasuki satu dekade penyelenggaraan, tantangan berikutnya adalah memastikan hasil penelitian tidak berhenti pada publikasi akademik. Riset perlu diarahkan agar dapat diterjemahkan menjadi inovasi, rekomendasi kebijakan, maupun solusi yang dapat digunakan industri penerbangan.
ICATEAS Memperluas Kolaborasi Internasional
Jika SNITP memberikan penekanan kuat pada forum nasional, ICATEAS membawa perspektif yang lebih luas melalui keterlibatan akademisi dan profesional dari berbagai latar belakang.
Pada edisi kelima tahun 2026, ICATEAS menghadirkan sejumlah pembicara internasional dan industri, antara lain Prof. Achim I. Czerny dari The Hong Kong Polytechnic University serta Captain Kamarul Arifin Bin Othman, Director of Training Malaysia Airlines Berhad (MAB) Academy.
Kehadiran pembicara dari lingkungan akademik dan industri tersebut memperlihatkan bahwa pengembangan SDM penerbangan membutuhkan perspektif multidisiplin.
Pendidikan penerbangan tidak dapat berdiri sendiri. Perubahan teknologi pesawat, digitalisasi bandar udara, kecerdasan buatan, analisis data, otomatisasi, hingga perubahan pola kerja membutuhkan keterhubungan yang semakin erat antara kampus, regulator, dan industri.
Karena itu, ICATEAS dapat menjadi salah satu sarana untuk membandingkan perkembangan pendidikan dan teknologi penerbangan Indonesia dengan praktik serta pengalaman yang berkembang di negara lain.
Menghadapi Era Aviation 4.0
Transformasi industri penerbangan kini bergerak menuju pemanfaatan teknologi yang semakin terintegrasi.
Artificial intelligence (AI), big data, predictive analytics, Internet of Things, otomatisasi, digital twin, augmented reality (AR), dan virtual reality (VR) mulai membuka berbagai kemungkinan baru dalam operasi, pemeliharaan, pelatihan, pelayanan penumpang, hingga pengelolaan bandar udara.
Perubahan tersebut pada akhirnya mengubah profil kompetensi yang dibutuhkan industri.
Seorang tenaga profesional penerbangan masa depan tidak cukup hanya memahami prosedur operasional. Mereka juga perlu memahami data, teknologi digital, sistem otomatis, keamanan siber, serta mampu mengambil keputusan dalam lingkungan kerja yang semakin kompleks.
Namun, digitalisasi tidak boleh menggeser prinsip dasar penerbangan, yaitu keselamatan.
Justru semakin kompleks teknologi yang digunakan, semakin penting kemampuan manusia dalam melakukan pengawasan, mengevaluasi risiko, memahami keterbatasan sistem, dan mengambil keputusan ketika terjadi kondisi yang tidak dapat sepenuhnya ditangani oleh teknologi.
AI Tidak Menggantikan Human Judgment
Perspektif tersebut menjadi salah satu isu penting yang dibahas dalam forum SNITP dan ICATEAS 2026.
Country Head of People Indonesia AirAsia Novretta Nursetyawati menekankan pentingnya membangun pola pikir adaptif melalui semangat “Dare to Dream.”
Menurutnya, teknologi harus dimanfaatkan untuk meningkatkan produktivitas dan efisiensi, tetapi penerapannya tetap harus mempertahankan aspek manusia.
AI dapat membantu mempercepat analisis dan memberikan dukungan dalam pengambilan keputusan. Namun, pada situasi yang berkaitan dengan keselamatan, keputusan akhir tetap membutuhkan human judgment.
Pandangan tersebut menjadi semakin relevan ketika industri penerbangan mulai memasuki fase pemanfaatan AI secara lebih luas. Tantangannya bukan lagi sekadar bagaimana menggunakan AI, melainkan bagaimana memastikan teknologi tersebut digunakan secara aman, bertanggung jawab, transparan, dan sesuai dengan standar penerbangan.
Indonesia AirAsia juga mendorong perubahan pendekatan dalam program magang industri. Pengalaman peserta didik di industri diharapkan tidak sekadar menjadi aktivitas On the Job Training (OJT), tetapi berkembang menjadi model problem-based learning.
Melalui pendekatan ini, peserta didik dapat berhadapan langsung dengan persoalan nyata yang dihadapi industri dan belajar mencari solusi berdasarkan pengetahuan akademik sekaligus pengalaman praktis.
Dari OJT Menuju Kemitraan yang Lebih Strategis
Perspektif serupa disampaikan Maintenance & Engineering Director Batik Air Indonesia Setyo Jarnoko.
Menurutnya, industri penerbangan membutuhkan T-Shaped Professional, yaitu tenaga profesional yang mempunyai kedalaman kompetensi pada bidang spesifik sekaligus memiliki wawasan luas mengenai bidang lain yang berkaitan dengan pekerjaannya.
Konsep tersebut menjadi penting karena pekerjaan dalam industri penerbangan semakin terintegrasi.
Seorang teknisi, misalnya, tidak hanya membutuhkan keterampilan mekanik atau elektronika, tetapi juga perlu memahami aspek keselamatan, digitalisasi, komunikasi, pengelolaan data, dan koordinasi lintas fungsi.
Karena itu, hubungan antara perguruan tinggi vokasi dan industri tidak seharusnya berhenti pada program magang.
Kemitraan perlu berkembang menjadi ekosistem Co-Design, Co-Develop, Co-Train, Co-Assess, dan Co-Improve.
Melalui pendekatan tersebut, industri dan lembaga pendidikan dapat bersama-sama menentukan kompetensi yang dibutuhkan, merancang kurikulum dan pembelajaran, melaksanakan pelatihan, melakukan penilaian kompetensi, serta mengevaluasi dan memperbaiki kualitas lulusan.
Model kolaborasi semacam ini sekaligus dapat memperkecil kesenjangan antara kompetensi lulusan dengan kebutuhan aktual dunia kerja.
117 Paper Dipresentasikan
Skala akademik SNITP dan ICATEAS 2026 juga terlihat dari jumlah peserta dan karya ilmiah yang dipresentasikan.
Kedua forum tersebut diikuti 119 peserta dan pemakalah, dengan total 117 paper ilmiah yang dipresentasikan. Sebanyak 93 paper dipresentasikan melalui ICATEAS, sementara 24 paper lainnya melalui SNITP.
Sejumlah institusi pendidikan dan lembaga turut berpartisipasi, antara lain Telkom University, Universitas Brawijaya, Universitas Negeri Surabaya (UNESA), Institut Teknologi Sumatera (ITERA), dan AirNav Indonesia.
Keterlibatan institusi yang berasal dari berbagai bidang menunjukkan bahwa persoalan penerbangan semakin membutuhkan pendekatan lintas disiplin.
Riset mengenai penerbangan saat ini tidak hanya berkaitan dengan pesawat, mesin, dan navigasi, tetapi juga menyentuh transportasi, teknologi informasi, human factors, manajemen, keselamatan, lingkungan, hingga aspek sosial.
Poltekbang Surabaya sendiri menyediakan ekosistem publikasi untuk mendukung keberlanjutan hasil penelitian. Selain Prosiding SNITP, institusi tersebut juga menerbitkan prosiding ICATEAS yang menjadi wadah publikasi hasil penelitian dari konferensi internasional tersebut.
Menjadikan Riset sebagai Solusi Industri
Direktur Poltekbang Surabaya Ahmad Bahrawi berharap SNITP dan ICATEAS tidak berhenti sebagai forum bertukar gagasan.
Menurutnya, pengetahuan dan hasil penelitian yang muncul dari kedua kegiatan tersebut perlu diterjemahkan menjadi kolaborasi yang memberikan manfaat nyata bagi pengembangan SDM penerbangan.
Harapan tersebut menjadi semakin penting di tengah percepatan transformasi industri penerbangan. Perguruan tinggi vokasi dituntut mampu bergerak lebih cepat dalam membaca kebutuhan industri, sementara industri juga perlu semakin aktif terlibat dalam proses pendidikan.
Dengan demikian, kampus tidak hanya menghasilkan lulusan berdasarkan kurikulum akademik, tetapi membentuk tenaga profesional berdasarkan kebutuhan nyata lapangan kerja.
Pada saat yang sama, industri mendapatkan akses terhadap hasil penelitian, talenta baru, serta inovasi yang dikembangkan oleh perguruan tinggi.
Membangun SDM Penerbangan untuk Masa Depan
Penyelenggaraan SNITP ke-10 dan ICATEAS 2026 pada akhirnya menunjukkan bahwa tantangan terbesar industri penerbangan bukan semata-mata bagaimana mengadopsi teknologi baru, melainkan bagaimana menyiapkan manusia yang mampu bekerja berdampingan dengan teknologi tersebut.
AI, otomatisasi, analisis data, AR/VR, dan berbagai teknologi digital akan terus berkembang. Namun, teknologi tetap membutuhkan manusia yang memiliki kompetensi, integritas, kemampuan berpikir kritis, serta kesadaran terhadap keselamatan.
Karena itu, agenda pengembangan SDM penerbangan ke depan perlu dibangun di atas tiga fondasi utama: pendidikan vokasi yang relevan, kemitraan industri yang kuat, serta riset dan inovasi yang mampu menjawab persoalan nyata.
SNITP yang telah memasuki satu dekade dan ICATEAS yang kini mencapai penyelenggaraan kelima dapat menjadi platform penting untuk memperkuat ketiga fondasi tersebut.
Melalui kolaborasi antara pemerintah, perguruan tinggi, peneliti, regulator, dan industri, Indonesia memiliki peluang untuk membangun SDM penerbangan yang tidak hanya siap menghadapi perubahan teknologi, tetapi juga mampu menciptakan inovasi dan menjaga standar keselamatan di tengah perkembangan industri penerbangan global.
Dengan kata lain, masa depan penerbangan tidak hanya ditentukan oleh seberapa canggih pesawat dan sistem yang digunakan, tetapi juga oleh kualitas manusia yang merancang, mengoperasikan, merawat, mengatur, dan memastikan seluruh ekosistem penerbangan tetap aman dan berkelanjutan.









