Beda Cermin Potret Kemiskinan Indonesia

0
47
Kemiskinan
Kota Balikpapan capai kemiskinan terendah (Foto: Info Publik)

(Vibizmedia-Kolom) Bayangkan sebuah negeri yang sedang menatap wajah kemiskinan dirinya sendiri melalui sebuah cermin besar. Di depan cermin itu berdiri ratusan juta orang dengan kehidupan yang berbeda-beda. Ada keluarga yang tinggal di rumah sederhana, pedagang yang membuka lapak sejak pagi, pekerja informal yang pendapatannya berubah setiap hari, pegawai dengan gaji tetap, hingga pemilik aset dan simpanan bernilai miliaran rupiah. Semuanya masuk ke dalam satu potret bernama Indonesia. Namun, bagaimana jika cermin yang digunakan untuk melihat potret itu ternyata tidak menangkap seluruh wajah?

Pertanyaan semacam itulah yang muncul ketika angka kemiskinan Indonesia dibandingkan dengan realitas kehidupan sehari-hari. Dengan menggunakan garis kemiskinan internasional US$8,30 per hari berdasarkan paritas daya beli, sekitar 64,2 persen penduduk Indonesia dapat masuk dalam kategori miskin. Angka itu terdengar mengejutkan. Bayangkan berjalan di sebuah kota dengan sepuluh orang yang kita temui di jalan, lalu enam di antaranya disebut miskin. Apakah gambaran itu benar-benar sesuai dengan kehidupan yang kita lihat di pasar, pusat perbelanjaan, perkantoran, kawasan perumahan, jalan raya, hingga ruang-ruang digital tempat jutaan orang bertransaksi setiap hari?

Di sinilah persoalan menjadi menarik. Sebab angka statistik tidak pernah berdiri sendirian. Ia lahir dari cara kita bertanya, cara rumah tangga mengingat pengeluaran, cara transaksi dicatat, cara sampel dipilih, dan cara seluruh informasi tersebut kemudian diterjemahkan menjadi sebuah angka. Statistik adalah peta. Ia sangat berguna untuk menemukan jalan, tetapi peta tetap bukanlah wilayah yang sesungguhnya.

Cermin Tidak Menangkap Semua Wajah

Seorang teman mungkin terlihat hidup biasa-biasa saja. Rumahnya tidak mencolok, mobilnya bukan kendaraan mewah, dan ia tidak pernah membicarakan kekayaannya. Namun di balik layar, mungkin ada rekening, investasi, tanah, saham, atau aset lain yang tidak tampak ketika seseorang sekadar melihat kehidupannya dari luar. Begitu pula sebaliknya. Ada orang yang tampak memiliki kehidupan cukup nyaman, tetapi sebenarnya setiap bulan harus menghitung dengan cermat uang yang tersisa setelah membayar kebutuhan rumah tangga.

Survei ekonomi menghadapi persoalan yang sama. Tidak semua aktivitas ekonomi mudah ditangkap. Kelompok masyarakat paling kaya dapat sulit masuk secara proporsional ke dalam survei rumah tangga. Jika pengeluaran mereka tidak tercatat sepenuhnya, bagian paling atas dari distribusi konsumsi akan terlihat lebih rendah daripada kondisi sebenarnya. Akibatnya, jarak antara kelompok kaya dan kelompok lain dapat tampak lebih sempit daripada kenyataan.

Gambaran mengenai ketimpangan simpanan perbankan memperlihatkan betapa terkonsentrasinya kekayaan finansial. Dari ratusan juta rekening, hanya sebagian sangat kecil yang memiliki saldo di atas Rp5 miliar, tetapi kelompok tersebut menguasai bagian yang sangat besar dari total nilai simpanan. Sementara sebagian besar rekening justru memiliki saldo relatif kecil. Bayangkan sebuah kolam yang terlihat dangkal jika kita hanya mengukur bagian tengahnya, padahal di salah satu ujung terdapat lubang yang sangat dalam. Begitulah persoalan distribusi ekonomi jika bagian paling atas tidak tertangkap dengan baik.Namun masalah tidak berhenti di sana.

Ada Ekonomi yang Tidak Terlihat

Indonesia adalah negeri dengan ekonomi informal yang sangat besar. Di berbagai sudut kota, kehidupan ekonomi berlangsung tanpa suara mesin kasir modern. Pedagang pasar menerima uang tunai. Warung keluarga mencatat utang pelanggan di buku kecil. Petani mengonsumsi sebagian hasil kebunnya sendiri. Pekerja harian menerima pendapatan yang berubah-ubah. Jasa perorangan berpindah tangan tanpa selalu meninggalkan jejak digital.Semua itu adalah ekonomi nyata.

Tetapi ketika seorang petugas survei bertanya berapa pengeluaran sebuah rumah tangga dalam periode tertentu, tidak selalu mudah bagi keluarga tersebut untuk mengingat seluruh transaksi yang mereka lakukan. Sebagian pembelian kecil mungkin terlupakan. Sebagian kebutuhan dipenuhi dari hasil usaha sendiri. Sebagian lagi datang dari bantuan keluarga. Ada pula pengeluaran yang sifatnya tidak rutin sehingga sulit ditempatkan dalam pola bulanan.

Bayangkan seorang pedagang kecil yang pagi hari menjual makanan, siang membeli bahan baku, sore membayar kebutuhan sekolah anak, sementara sebagian makanan di rumah berasal dari barang dagangan yang tidak terjual. Jika seluruh kehidupan ekonomi itu harus diterjemahkan menjadi beberapa angka dalam sebuah survei, selalu ada kemungkinan sebagian cerita hilang di antara angka-angka tersebut.

Ketika jutaan rumah tangga mengalami hal serupa, persoalannya menjadi jauh lebih besar. Angka konsumsi yang tercatat dapat berbeda dari konsumsi yang benar-benar terjadi. Dan ketika konsumsi menjadi dasar untuk mengukur kesejahteraan, perbedaan kecil di tingkat rumah tangga dapat berubah menjadi perbedaan besar pada tingkat nasional.

Vietnam dan Pertanyaan yang Sulit

Kemudian muncul Vietnam sebagai sebuah cermin pembanding. Dalam data yang dibahas, rata-rata konsumsi per kapita Indonesia dan Vietnam berada pada tingkat yang hampir sama. Porsi pekerja informal juga relatif besar. Namun ketika garis kemiskinan dinaikkan, jarak antara kedua negara justru semakin melebar.

Pada garis US$3 per hari, perbedaannya masih relatif terbatas. Ketika garis dinaikkan menjadi US$4,20, jaraknya semakin terlihat. Dan ketika mencapai US$8,30, perbedaannya menjadi sangat besar: sekitar 64,2 persen untuk Indonesia dibanding sekitar 21,5 persen untuk Vietnam.

Di titik ini, kita seperti melihat dua termometer yang dimasukkan ke dalam ruangan yang sama, tetapi menghasilkan suhu yang sangat berbeda. Pertanyaannya bukan buru-buru menentukan termometer mana yang salah. Pertanyaan yang lebih penting adalah: apakah kedua termometer bekerja dengan cara yang sama? Apakah data yang dimasukkan ke dalamnya memiliki kualitas yang sama? Apakah karakteristik rumah tangga yang diukur benar-benar sebanding?

Perbandingan semacam ini justru penting karena dapat membuka pintu untuk memeriksa kembali kualitas pengukuran. Sebab jika konsumsi rata-rata kedua negara relatif dekat, tetapi proporsi penduduk yang berada di bawah garis tertentu sangat berbeda, ada sesuatu yang perlu diperiksa lebih dalam.

Jangan Sampai Angka Mengalahkan Kenyataan

Tetapi membicarakan persoalan pengukuran bukan berarti mengatakan kemiskinan Indonesia tidak nyata. Di balik setiap angka terdapat manusia. Ada keluarga yang harus memilih antara membayar biaya sekolah atau memperbaiki atap rumah. Ada pekerja informal yang pendapatannya hilang ketika sakit. Ada rumah tangga yang secara statistik berada sedikit di atas garis kemiskinan, tetapi satu kejadian tak terduga dapat membuat seluruh tabungannya lenyap.

Kelompok seperti inilah yang sering berada di wilayah abu-abu statistik. Mereka bukan lagi miskin menurut satu ukuran, tetapi juga belum benar-benar aman. Mereka hidup beberapa langkah di atas garis kemiskinan, tetapi lantainya belum kokoh. Ketika harga pangan naik, pekerjaan hilang, anggota keluarga sakit, atau usaha kecil mengalami kerugian, mereka dapat kembali jatuh.

Karena itu, kemiskinan seharusnya tidak hanya dibayangkan sebagai sebuah garis merah yang memisahkan orang miskin dan orang tidak miskin. Kehidupan jauh lebih cair daripada itu. Ada orang miskin, ada kelompok rentan, ada kelas menengah yang sedang bertahan, dan ada kelompok kaya yang memiliki kemampuan menghadapi guncangan jauh lebih besar.

Kehidupan ekonomi lebih mirip sebuah tangga daripada garis lurus. Seseorang bisa naik satu anak tangga hari ini, lalu turun dua anak tangga ketika terjadi krisis. Yang perlu dibangun bukan hanya kemampuan menaikkan orang melewati garis, tetapi juga kemampuan membuat mereka tetap berdiri ketika badai datang.

Memperbaiki Cara Kita Melihat

Karena itu, perdebatan mengenai angka kemiskinan pada dasarnya bukan hanya perdebatan tentang angka 64,2 persen. Ia adalah perdebatan tentang bagaimana sebuah negara melihat rakyatnya sendiri. Apakah kita sudah memiliki kamera yang cukup tajam untuk menangkap kehidupan rumah tangga? Apakah kelompok paling kaya terlihat dengan jelas? Apakah pekerja informal tercatat dengan baik? Apakah konsumsi tunai dan non-tunai tertangkap? Apakah transaksi dari usaha keluarga masuk dalam perhitungan?

Semakin modern kehidupan ekonomi, semakin banyak sumber data yang sebenarnya tersedia. Data administrasi, perpajakan, perlindungan sosial, transaksi digital, serta berbagai sumber lainnya dapat membantu memperkaya survei rumah tangga. Tentu saja, pemanfaatannya harus dilakukan dengan tata kelola yang baik dan perlindungan terhadap privasi masyarakat.

Survei Sosial Ekonomi Nasional juga perlu terus diperbaiki dan direkonsiliasi dengan neraca nasional. Tujuannya bukan untuk membuat angka terlihat lebih rendah atau lebih tinggi. Tujuannya justru sederhana: membuat angka semakin dekat dengan kenyataan.

Sebab angka yang baik bukan angka yang menyenangkan. Angka yang baik adalah angka yang dapat dipercaya.

Kemiskinan Bukan Sekadar Sebuah Garis

Pada akhirnya, mungkin kita perlu berhenti membayangkan kemiskinan sebagai sebuah garis yang kaku. Kemiskinan adalah perjalanan. Ada keluarga yang sedang berusaha keluar dari kemiskinan, ada yang baru saja jatuh ke dalamnya, ada yang berada tepat di tepinya, dan ada yang telah jauh meninggalkannya tetapi masih menyimpan kecemasan akan kembali.

Di sebuah warung kecil, seorang ibu mungkin sedang menghitung uang belanja sambil memastikan anaknya tetap bisa sekolah. Di gedung perkantoran, seorang pekerja mungkin sedang memikirkan cicilan dan biaya kesehatan orang tuanya. Di pasar, pedagang sedang berharap dagangannya habis sebelum sore. Di sebuah kawasan elite, seseorang mungkin sedang memindahkan kekayaan dari satu aset ke aset lainnya. Semua itu adalah bagian dari ekonomi Indonesia, tetapi tidak selalu muncul dengan intensitas yang sama dalam satu survei.

Maka angka kemiskinan seharusnya menjadi pintu untuk bertanya, bukan akhir dari pertanyaan. Ketika sebuah angka terlihat terlalu besar dibandingkan gambaran kehidupan yang kita temui, kita tidak perlu buru-buru menolaknya. Kita juga tidak perlu menerimanya tanpa pemeriksaan. Kita perlu melihat bagaimana angka itu dibuat, siapa yang tertangkap, siapa yang mungkin terlewat, dan apa yang sesungguhnya sedang diukur.

Karena Indonesia tidak membutuhkan cermin yang membuat wajahnya terlihat lebih indah dari kenyataan. Indonesia juga tidak membutuhkan cermin yang membuat wajahnya terlihat lebih buruk. Yang dibutuhkan adalah cermin yang jernih.

Dengan cermin yang jernih, kemiskinan dapat terlihat sebagaimana adanya. Mereka yang benar-benar miskin dapat ditemukan. Mereka yang rentan dapat dilindungi sebelum jatuh. Mereka yang telah sejahtera dapat dipetakan dengan lebih tepat. Dan kebijakan publik dapat bergerak bukan berdasarkan bayangan, melainkan berdasarkan kenyataan yang benar-benar terjadi di kehidupan masyarakat.