Ekspor Indonesia Tembus USD26,61 Miliar, Nonmigas Tumbuh 7,23 Persen

0
61
Deputi BPS Ateng Haryono (Foto: Info Publik)

Kinerja ekspor Indonesia kembali mencatat pertumbuhan positif pada Agustus 2026. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat nilai ekspor mencapai USD26,61 miliar, meningkat 6,72 persen secara tahunan (year on year/yoy) dibandingkan Agustus 2025.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono mengatakan, pertumbuhan tersebut terutama ditopang oleh ekspor nonmigas yang mencapai USD25,62 miliar, naik 7,23 persen yoy. Sementara itu, ekspor migas tercatat sebesar USD0,99 miliar, meningkat 5,10 persen yoy.

“Pada Agustus tahun 2026 nilai ekspor mencapai USD26,61 miliar atau naik sebesar 6,72 persen dibandingkan dengan Agustus tahun 2025,” ujar Ateng dalam Berita Resmi Statistik di Kantor BPS Pusat, Jakarta, Kamis (1/10/2026).

Ekspor Nonmigas Jadi Penopang

Berdasarkan komoditasnya, peningkatan ekspor nonmigas pada Agustus 2026 terutama berasal dari sejumlah produk unggulan. Ekspor nikel dan barang daripadanya (HS 75) meningkat 51,67 persen, sedangkan besi dan baja (HS 72) tumbuh 20,38 persen.

Kenaikan paling tinggi tercatat pada ekspor aluminium dan barang daripadanya (HS 76) yang melonjak 206,78 persen secara tahunan.

Dari sisi sektoral, industri pengolahan masih menjadi penyumbang terbesar ekspor nonmigas. Nilai ekspor sektor ini pada Agustus 2026 mencapai USD22,29 miliar, atau sekitar 87 persen dari total ekspor nonmigas.

Menurut Ateng, ekspor industri pengolahan tumbuh 12,48 persen yoy. Pertumbuhan tersebut antara lain ditopang oleh ekspor logam dasar bukan besi, nikel, aluminium, tembaga, bahan kimia dasar organik, serta berbagai produk industri lainnya.

“Peningkatan nilai ekspor nonmigas utamanya didorong oleh sektor industri pengolahan yang naik secara year on year sebesar 12,48 persen,” kata Ateng.

Secara kumulatif, sepanjang Januari–Agustus 2026, nilai ekspor Indonesia mencapai USD193,64 miliar, meningkat 4,74 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Untuk ekspor nonmigas, nilainya mencapai USD185,63 miliar, atau tumbuh 5,48 persen secara kumulatif. Kenaikan tersebut antara lain berasal dari ekspor nikel dan barang daripadanya, bahan bakar mineral, serta lemak dan minyak hewani atau nabati.

Dari sisi negara tujuan, Tiongkok, Amerika Serikat, dan India menjadi tiga pasar utama ekspor nonmigas Indonesia sepanjang Januari–Agustus 2026. Ketiga negara tersebut secara bersama-sama menyumbang 44,50 persen dari total ekspor nonmigas Indonesia.

Ekspor nonmigas ke Tiongkok mencapai USD47,44 miliar, meningkat 17,42 persen dibandingkan periode yang sama pada 2025.

Sementara itu, ekspor nonmigas ke Amerika Serikat tercatat sebesar USD22,41 miliar, sedangkan ekspor ke India mencapai USD12,77 miliar.

Pertumbuhan juga terlihat pada sejumlah komoditas unggulan Indonesia selama periode Januari–Agustus 2026. Ekspor besi dan baja meningkat 4,88 persen, minyak kelapa sawit (CPO) dan turunannya tumbuh 6,57 persen, sementara ekspor batu bara naik 4,31 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Harga Komoditas Global Mendukung Ekspor

Perkembangan ekspor tersebut berlangsung bersamaan dengan kenaikan harga sejumlah komoditas di pasar global pada Agustus 2026.

BPS mencatat kenaikan harga secara tahunan terjadi pada beberapa kelompok komoditas, meliputi pertanian, energi, logam mulia, serta logam dan mineral.

Salah satu komoditas yang mengalami peningkatan signifikan adalah batu bara kualitas tinggi, dengan harga yang naik 20,50 persen secara tahunan.

Perkembangan tersebut turut memberikan dukungan terhadap kinerja perdagangan Indonesia, terutama bagi komoditas ekspor berbasis sumber daya alam dan produk industri pengolahan.

Secara keseluruhan, pertumbuhan ekspor pada Agustus dan periode Januari–Agustus 2026 menunjukkan bahwa sektor nonmigas masih menjadi penopang utama perdagangan luar negeri Indonesia. Penguatan industri pengolahan, pertumbuhan sejumlah komoditas unggulan, serta meningkatnya permintaan dari beberapa pasar utama menjadi faktor yang mendukung perkembangan ekspor nasional hingga memasuki paruh kedua 2026.