(Vibizmedia – Sragen, Jawa Tengah) Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi) Meutya Hafid mendorong pemanfaatan teknologi digital, khususnya Internet of Things (IoT) dan kecerdasan artifisial (AI), untuk meningkatkan produktivitas masyarakat sekaligus memperkuat ketahanan pangan nasional.
Menurut Meutya, transformasi digital tidak boleh berhenti di kawasan perkotaan atau hanya dimanfaatkan untuk kebutuhan bisnis dan layanan digital. Teknologi harus mampu menjawab persoalan nyata yang dihadapi masyarakat, termasuk para petani dan pembudidaya ikan di daerah.
“IoT dan kecerdasan artifisial adalah teknologi baru yang harus kita manfaatkan agar memberikan dampak langsung terhadap produktivitas masyarakat,” ujar Meutya dalam keterangannya terkait kunjungan ke Desa Pengkok, Kabupaten Sragen, Jawa Tengah, Selasa (6/10/2026).
Sragen menjadi salah satu contoh penerapan teknologi digital yang memberikan dampak langsung terhadap aktivitas pertanian. Melalui penggunaan sensor tanah, petani dapat memperoleh informasi mengenai kondisi lahan sebagai dasar dalam menentukan kebutuhan pupuk.
Sensor Tanah Pangkas Penggunaan Pupuk
Salah satu petani di Desa Pengkok, Sumarno, memanfaatkan perangkat sensor pertanian Jinawi untuk mengetahui kondisi tanah sebelum menentukan pemupukan.
Teknologi tersebut membantu petani memperoleh gambaran mengenai tingkat kesuburan tanah sehingga penggunaan pupuk dapat disesuaikan dengan kebutuhan tanaman. Hasilnya, kebutuhan pupuk yang sebelumnya mencapai sekitar 1.600 kilogram per hektare dapat ditekan menjadi sekitar 750 kilogram per hektare, atau berkurang sekitar 53 persen.
“Alat digital Jinawi sangat membantu, terutama dalam menentukan pemupukan. Sebelumnya satu hektare bisa menghabiskan sekitar 1.600 kilogram pupuk. Setelah menggunakan alat ini, kondisi tanah diketahui masih subur sehingga kebutuhan pupuk hanya sekitar 750 kilogram,” kata Sumarno.
Pemanfaatan sensor tersebut menunjukkan bahwa digitalisasi dapat memberikan manfaat yang terukur di tingkat petani. Informasi berbasis data membantu petani mengambil keputusan secara lebih tepat, sekaligus membuka peluang untuk meningkatkan efisiensi biaya produksi.
IoT Tingkatkan Produksi Perikanan
Penerapan IoT tidak hanya dilakukan di sektor pertanian, tetapi juga mulai dimanfaatkan untuk mendukung produktivitas perikanan.
Di Kabupaten Sukabumi, Kelompok Pembudidaya Ikan (Pokdakan) Cipancur Cimahi Farm Feed menggunakan aerator berbasis IoT untuk membantu menjaga kadar oksigen di dalam kolam budidaya ikan.
Menurut pembudidaya ikan nila Abdullah Agus Salim, penerapan teknologi yang dibarengi dengan pembelajaran dan pendampingan telah membantu kelompoknya meningkatkan produktivitas.
Saat ini, sebanyak 20 anggota Pokdakan tersebut mampu menghasilkan sekitar 40 ton ikan nila dalam satu siklus panen.
“Pertumbuhan hasil ikan nila terus meningkat berkat pembelajaran dan pendampingan teknologi ini,” ujar Abdullah.
Produktivitas tersebut juga mulai terhubung dengan kebutuhan pangan masyarakat. Kelompok pembudidaya tersebut memasok sekitar 400 kilogram ikan nila setiap pekan untuk mendukung kebutuhan operasional dapur program **Makan Bergizi Gratis (MBG)** di Sukabumi.
Kondisi ini menunjukkan bahwa pemanfaatan teknologi digital tidak hanya berdampak pada proses produksi, tetapi juga dapat memperkuat keterhubungan antara produsen pangan di daerah dengan kebutuhan konsumsi masyarakat.
Teknologi Harus Menjawab Kebutuhan Masyarakat
Meutya menegaskan, perluasan digitalisasi ke berbagai sentra produksi pangan menjadi bagian penting dari upaya pemerintah membangun ekosistem pangan yang lebih produktif dan efisien.
Menurutnya, keberhasilan transformasi digital tidak semata-mata diukur dari banyaknya teknologi yang digunakan, tetapi dari sejauh mana teknologi tersebut mampu menyelesaikan persoalan konkret di lapangan.
“Ketahanan pangan menjadi salah satu fokus utama pemerintah. Kami ingin memastikan digitalisasi diterapkan langsung dalam *use case* di lapangan. Teknologi digital jangan hanya dinikmati di perkotaan, tetapi harus masuk ke desa-desa untuk mendukung program swasembada pangan Presiden,” kata Meutya.
Sejalan dengan arahan tersebut, Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemkomdigi) terus mendorong pemanfaatan IoT untuk kebutuhan produktif di berbagai daerah. Penerapannya diarahkan pada persoalan yang dekat dengan aktivitas masyarakat, mulai dari pemantauan kondisi tanah, efisiensi penggunaan pupuk, hingga pengelolaan kualitas air dan peningkatan produksi perikanan.
Pengalaman di Sragen dan Sukabumi memperlihatkan bahwa digitalisasi dapat memberikan manfaat yang langsung dirasakan masyarakat ketika diterapkan sesuai kebutuhan. Efisiensi penggunaan pupuk dan peningkatan produktivitas ikan menjadi contoh bahwa teknologi dapat menjadi instrumen penting untuk memperkuat sektor pangan sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat di tingkat desa.
Pada akhirnya, perluasan teknologi digital ke sentra-sentra produksi pangan diharapkan mampu membangun rantai produksi yang lebih efisien, berbasis data, dan berkelanjutan. Dengan demikian, transformasi digital tidak hanya menjadi bagian dari kemajuan teknologi, tetapi juga menjadi salah satu fondasi dalam memperkuat kemandirian dan ketahanan pangan Indonesia.









