Hilirisasi Mineral Indonesia Perlu Diperkuat untuk Menopang Ekosistem AI

0
99
Foto: Kemkomdigi

(Vibizmedia – Jakarta) Pengembangan kecerdasan artifisial atau Artificial Intelligence (AI) tidak hanya bergantung pada perangkat lunak, cip, dan pusat data. Di balik pertumbuhan teknologi tersebut terdapat kebutuhan terhadap material strategis, termasuk mineral kritis seperti nikel dan tembaga yang menjadi bagian penting dalam pembangunan infrastruktur digital.

Kondisi ini membuka peluang bagi Indonesia untuk menghubungkan agenda hilirisasi mineral dengan pengembangan ekonomi digital. Pengolahan mineral di dalam negeri tidak lagi sebatas meningkatkan nilai tambah komoditas pertambangan, tetapi juga dapat diarahkan untuk memperkuat fondasi industri teknologi dan infrastruktur AI nasional.

Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Wamenkomdigi) Nezar Patria mengatakan, Indonesia memiliki peluang strategis untuk mempertemukan kekuatan sektor mineral dengan kebutuhan infrastruktur AI yang terus berkembang.

“Jika dunia meminta Indonesia menyediakan bahan baku bagi transisi energi dan transisi digital, Indonesia harus memastikan bahwa rantai nilai tersebut berkelanjutan bagi kedua belah pihak,” ujar Nezar dalam Indonesia International Sustainability Forum (IISF) 2026 di Jakarta Pusat, Selasa (6/10/2026).

Menurut Nezar, nikel dan tembaga perlu dipandang lebih luas daripada sekadar komoditas tambang. Kedua mineral tersebut memiliki peran dalam berbagai komponen yang menopang ekosistem AI dan ekonomi digital, antara lain baterai, perangkat kelistrikan, jaringan transmisi, hingga sistem pendukung untuk menjaga keandalan pusat data.

Posisi Indonesia dalam rantai pasok mineral global memberikan modal strategis untuk mengambil peran lebih besar dalam perkembangan industri teknologi. Indonesia saat ini menyumbang sekitar 62 persen produksi tambang nikel dunia, sehingga memiliki peluang untuk meningkatkan keterlibatan dalam rantai nilai teknologi global.

Namun, besarnya potensi tersebut juga diikuti tanggung jawab untuk memastikan proses hilirisasi memberikan manfaat ekonomi tanpa mengabaikan aspek lingkungan dan sosial.

Nezar menegaskan, hilirisasi tidak boleh berhenti pada pembangunan fasilitas pengolahan mineral di sekitar wilayah pertambangan. Konsep hilirisasi perlu diperluas dengan memasukkan prinsip keberlanjutan di sepanjang rantai produksinya.

“Hilirisasi harus berarti lebih dari sekadar melakukan pengolahan mineral di dekat lokasi tambang. Hilirisasi harus mencakup peningkatan kinerja lingkungan, penguatan ketertelusuran, praktik ketenagakerjaan yang bertanggung jawab, penggunaan energi rendah karbon, serta perhatian serius terhadap limbah, air, dan dampak terhadap masyarakat,” tegasnya.

Infrastruktur AI Membutuhkan Ekosistem yang Kompleks

Di sisi lain, pembangunan infrastruktur AI juga memiliki kebutuhan yang jauh lebih luas dibandingkan sekadar pengadaan perangkat komputasi. Pusat data yang menjadi salah satu infrastruktur utama AI membutuhkan pasokan listrik yang andal, jaringan serat optik berkapasitas tinggi, lahan, sistem pendingin, cip, tenaga ahli, serta tata kelola yang mampu menjamin keamanan dan keberlanjutan.

Karena itu, pengembangan AI perlu ditempatkan sebagai agenda lintas sektor. Kemajuan teknologi digital memiliki hubungan erat dengan kebijakan energi, industri, investasi, pembiayaan, sumber daya manusia, hingga perlindungan lingkungan.

Pendekatan tersebut menjadi semakin penting seiring meningkatnya kebutuhan komputasi AI. Pertumbuhan pusat data akan meningkatkan kebutuhan energi dan berbagai material pendukung, sehingga strategi pengembangan AI perlu mempertimbangkan ketersediaan sumber daya sekaligus dampak lingkungan dalam jangka panjang.

Bagi Indonesia, kondisi ini menciptakan peluang untuk membangun rantai nilai yang lebih lengkap. Mineral yang dihasilkan di dalam negeri dapat diarahkan untuk mendukung industri manufaktur dan infrastruktur teknologi, sementara pengembangan pusat data dan talenta digital dapat mendorong terciptanya aktivitas ekonomi bernilai tambah lebih tinggi.

Peluang Menjadi Pusat AI Regional

Nezar menilai Indonesia memiliki sejumlah modal untuk berkembang menjadi salah satu pusat AI regional. Selain letaknya yang strategis, Indonesia memiliki pasar ekonomi digital yang terus tumbuh dan basis talenta digital yang semakin berkembang.

Namun, keunggulan tersebut harus diikuti dengan kesiapan infrastruktur dan kemampuan industri dalam negeri untuk menghasilkan nilai tambah.

Pengembangan AI dengan demikian tidak cukup hanya mengejar pertumbuhan investasi pusat data atau adopsi teknologi. Indonesia perlu memastikan bahwa pertumbuhan ekosistem AI turut memperkuat kapasitas industri nasional, membuka lapangan kerja berkualitas, meningkatkan kompetensi tenaga kerja, dan menciptakan rantai nilai yang lebih besar di dalam negeri.

“Kita harus mengubah pertumbuhan ini menjadi penciptaan lapangan kerja bernilai tambah tinggi, penguatan kapabilitas dalam negeri, dan pembangunan ekonomi yang berkelanjutan,” tuturnya.

Jika strategi tersebut dapat dijalankan secara terintegrasi, hilirisasi mineral dan transformasi digital dapat menjadi dua agenda yang saling memperkuat. Mineral kritis menyediakan fondasi material bagi infrastruktur teknologi, sementara perkembangan AI membuka peluang baru untuk meningkatkan nilai tambah dan daya saing industri Indonesia.