Kemenperin Perkuat Daya Saing Wastra Nasional melalui Kolaborasi Lintas Sektor

0
61
Foto: Kemenperin

(Vibizmedia – Jakarta) Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mendorong pengembangan industri wastra Indonesia melalui inovasi produk, penguatan daya saing, dan perluasan akses pemasaran. Upaya tersebut dilakukan untuk memastikan kekayaan tekstil tradisional Indonesia tidak hanya terjaga sebagai warisan budaya, tetapi juga mampu berkembang menjadi produk fesyen bernilai ekonomi tinggi dan menarik bagi pasar internasional.

Salah satu langkah konkret diwujudkan melalui penyelenggaraan Journey of Wastra yang digelar Balai Pemberdayaan Industri Fesyen dan Kriya (BPIFK) bersama Discovery Kartika Plaza Hotel di Badung, Bali, pada 2 Oktober 2026. Kegiatan ini menjadi bagian dari rangkaian peringatan Hari Batik Nasional 2026 sekaligus wadah untuk mempertemukan pelaku industri, desainer, perajin, dan sektor pariwisata.

Menteri Perindustrian (Menperin) Muhammad Sarmuji menyampaikan bahwa wastra memiliki peran strategis dalam memperkuat industri tekstil dan pakaian jadi nasional. Selain menjadi bagian dari identitas budaya bangsa, kekayaan wastra juga dapat menjadi sumber inspirasi dan keunggulan bagi industri fesyen Indonesia.

“Selain berbagai upaya dalam melestarikan industri wastra nasional, kita harus memastikan bahwa wastra tetap menjadi identitas dan ciri khas dalam pengembangan industri fesyen nasional,” kata Menperin dalam keterangannya di Jakarta, Rabu (14/10).

Potensi pengembangan industri tersebut tercermin dari kinerja sektor tekstil dan pakaian jadi yang tumbuh 6,36 persen secara tahunan pada triwulan II 2026. Pada periode Januari–Juli 2026, nilai ekspor sektor ini tercatat mencapai USD7,18 miliar. Dari sisi ekosistem produksi, Indonesia juga memiliki 465 sentra tenun dan 200 sentra batik yang menjadi penopang perkembangan industri wastra nasional.

Menurut Sarmuji, data tersebut memperlihatkan bahwa industri wastra memiliki peluang besar untuk terus tumbuh. Namun, potensi tersebut perlu dioptimalkan melalui pembaruan desain, pengembangan ragam produk, dan peningkatan kualitas agar mampu bersaing di tengah dinamika pasar.

“Pertumbuhan industri tekstil dan pakaian jadi menunjukkan bahwa sektor ini memiliki potensi besar untuk terus dikembangkan. Dengan dukungan ekosistem industri wastra yang kita miliki, inovasi dan pengembangan produk perlu terus ditingkatkan agar semakin relevan dengan kebutuhan pasar serta memiliki nilai tambah yang berdaya saing,” ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa kekayaan motif, teknik pembuatan, bahan, serta filosofi budaya yang melekat pada wastra Indonesia merupakan modal penting dalam menciptakan produk fesyen dengan karakter yang khas. Meski demikian, pengembangan sektor ini masih menghadapi berbagai kendala, mulai dari keberlanjutan regenerasi perajin hingga persaingan dengan produk tekstil bermotif batik dan produk negara lain yang memiliki struktur biaya lebih kompetitif.

Oleh karena itu, pelestarian wastra perlu berjalan beriringan dengan penguatan aspek bisnis. Pengembangan desain, diversifikasi produk, pembangunan merek, peningkatan nilai produk, serta strategi pemasaran yang adaptif menjadi sejumlah langkah penting untuk memperluas jangkauan pasar.

“Kondisi tersebut mendorong perlunya inovasi produk wastra, mulai dari desain dan diversifikasi produk hingga penguatan merek, nilai produk, dan pemasaran. Dengan demikian, kekayaan budaya wastra dapat diterjemahkan menjadi produk bernilai tambah yang mampu menjawab kebutuhan pasar,” tambahnya.

Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka (IKMA) Kemenperin, Reni Yanita, menilai kolaborasi lintas sektor menjadi salah satu kunci dalam memperkuat ekosistem industri fesyen dan kriya berbasis wastra. Menurutnya, Journey of Wastra dirancang sebagai ruang interaksi yang memungkinkan para pelaku industri berbagi wawasan, mengembangkan kreativitas, membangun jejaring usaha, dan menjajaki peluang pasar baru.

“Selain mempromosikan potensi dan kekayaan wastra nasional, kami berharap kegiatan ini dapat mendorong lahirnya berbagai kolaborasi antara pelaku industri wastra dan sektor terkait,” ungkap Reni.

Ia menambahkan, keunikan wastra Indonesia terletak pada identitas dan nilai budaya yang terkandung dalam setiap produk. Tantangan bagi para pelaku industri adalah mengolah keunggulan tersebut menjadi desain dan produk yang tetap memiliki karakter tradisional, tetapi mampu mengikuti perkembangan tren serta preferensi konsumen.

“Tantangannya adalah bagaimana kekuatan identitas dan nilai budaya tersebut dapat diterjemahkan melalui desain menjadi produk yang relevan dengan kebutuhan konsumen,” jelasnya.

Kolaborasi dengan sektor perhotelan perluas pasar wastra

Kepala BPIFK Dickie Sulistya Apriliyanto menyoroti pentingnya dukungan sektor swasta dalam memperkenalkan wastra Indonesia kepada khalayak yang lebih luas. Menurutnya, industri perhotelan dapat menjadi mitra strategis untuk menghadirkan produk fesyen dan kriya berbasis budaya dalam pengalaman wisatawan, termasuk wisatawan mancanegara.

“Keterlibatan Discovery Kartika Plaza Hotel dalam Journey of Wastra menjadi salah satu bentuk dukungan sektor perhotelan dalam menghadirkan wastra sebagai bagian dari pengalaman kreatif dan budaya yang dapat dinikmati masyarakat maupun wisatawan,” ujar Dickie.

Ia berharap kerja sama antara pemerintah, pelaku usaha, desainer, akademisi, perajin, dan sektor swasta dapat terus dikembangkan. Sinergi tersebut dinilai penting untuk menjaga keberlanjutan warisan budaya sekaligus menciptakan peluang inovasi, memperkuat pengembangan produk, dan membuka akses pemasaran yang lebih luas bagi industri fesyen dan kriya.

Dalam pelaksanaannya, Journey of Wastra menghadirkan berbagai agenda yang menggabungkan diskusi, pertunjukan fesyen, promosi produk, dan edukasi budaya. Salah satunya adalah Design Talk bertema “Wastra for Market Readiness: Adaptasi Desain Wastra terhadap Pasar dan Konsumen”.

Diskusi ini mempertemukan perspektif pemerintah, akademisi, dan praktisi industri kreatif melalui kehadiran Kepala BPIFK Dickie Sulistya Apriliyanto, Creative Director Setia Cap Cili Idon Pande, serta Ketua IMODEA sekaligus Koordinator Program Studi Desain Mode ISI Bali, Dr. Tjok Istri Ratna C.S., S.Sn.

Selain menjadi forum pertukaran gagasan, acara tersebut menampilkan peragaan busana karya Tjok Abi dan Duabe by Padmi, serta koleksi dari sejumlah industri kecil dan menengah (IKM) binaan BPIFK. Para pelaku usaha yang terlibat meliputi Kekean, Kominela, Geokraft Bag, Suwari Loka, Sekar Bali Jewelry, dan TSDC (Tanda Sayang dan Cinta) Bag.

Koleksi yang diperagakan menunjukkan potensi pengolahan wastra menjadi produk fesyen dan kriya kontemporer. Melalui pendekatan desain yang kreatif, material dan motif tradisional dapat dihadirkan dalam bentuk produk yang memiliki daya tarik estetika sekaligus peluang komersial.

Promosi produk juga dilakukan melalui kegiatan pop-up market yang menghadirkan berbagai produk IKM binaan BPIFK, di antaranya Theacastor, Tinizhop, Suwari Loka, Enigma, Sekar Bali Jewelry, AUM Healthy Apparel, dan Lotta Terra.

Kehadiran pasar temporer ini memberikan kesempatan bagi pelaku usaha untuk memperkenalkan produk secara langsung kepada pengunjung, membangun interaksi dengan konsumen, serta memperluas jaringan pemasaran. Dengan demikian, kegiatan promosi tidak hanya berfokus pada pengenalan budaya, tetapi juga membuka peluang transaksi dan pengembangan usaha.

Aspek edukasi budaya turut dihadirkan melalui demonstrasi mencanting. Dalam sesi ini, masyarakat dan wisatawan memperoleh kesempatan untuk menyaksikan secara langsung teknik pembuatan batik sekaligus mengenal proses kreatif yang menghasilkan karya wastra Indonesia.

General Manager Discovery Kartika Plaza Hotel, Luis Daniel Garcia, mengatakan bahwa Journey of Wastra merupakan bentuk penghargaan terhadap warisan budaya dan kreativitas Indonesia. Menurutnya, kegiatan ini menjadi kesempatan untuk mempertemukan desainer, perajin, dan pelaku industri dalam menunjukkan perkembangan wastra kepada masyarakat modern.

“Kami bangga dapat menghadirkan sebuah wadah yang mempertemukan desainer, perajin, dan pelaku industri untuk bersama-sama menunjukkan bagaimana wastra dapat terus berkembang dan semakin dekat dengan masyarakat masa kini,” ujarnya.

Melalui penyelenggaraan Journey of Wastra, Kemenperin berharap kolaborasi antara industri wastra, sektor pariwisata, dan industri kreatif semakin kuat. Pendekatan tersebut diharapkan mampu mendorong inovasi, meningkatkan nilai tambah produk, memperluas kesempatan usaha bagi perajin dan IKM, serta memperkuat daya saing wastra Indonesia di pasar nasional maupun internasional.