Industri Mamin Tumbuh 6,51%, Pasokan Gas dan Bahan Baku Jadi Tantangan

0
70
Industri makanan dan minuman
Industri makanan dan minuman. FOTO: KEMENPERIN

(Vibizmedia-Nasional) Industri makanan dan minuman (mamin) menjadi salah satu motor pertumbuhan manufaktur nasional setelah mencatat pertumbuhan 6,51% pada triwulan II 2026. Namun, di tengah meningkatnya permintaan dan peluang ekspor, kepastian pasokan serta stabilitas harga gas industri dan bahan baku masih menjadi tantangan yang perlu diselesaikan untuk mendorong pertumbuhan lebih tinggi.

Pertumbuhan industri mamin tersebut melampaui industri pengolahan nonmigas yang tumbuh 5,32% dan ekonomi nasional sebesar 5,29%. Kinerja ini memperlihatkan peran strategis industri mamin dalam menjaga momentum pertumbuhan sektor manufaktur sekaligus memperkuat daya saing produk Indonesia di pasar global.

Menteri Perindustrian Muhammad Sarmuji mengatakan pemerintah akan terus memberikan dukungan agar industri mamin dapat berkembang lebih optimal, terutama dalam menghadapi persoalan ketersediaan dan harga bahan baku maupun gas industri.

“Ada beberapa hal yang masih memerlukan dukungan, misalnya terkait gas industri serta bahan baku yang kontinuitas pasokan dan harganya masih perlu mendapat perhatian kita bersama. Pemerintah akan terus memberikan dukungan agar industri, khususnya makanan dan minuman, dapat tumbuh lebih tinggi lagi,” kata Sarmuji seusai membuka The 25th ALLPACK Indonesia Expo 2026 di Jakarta, Selasa (20/10/2026).

Menurutnya, industri mamin merupakan salah satu penyangga industri nasional. Produk Indonesia, mulai dari biskuit hingga mi instan, juga semakin dikenal dan diminati di berbagai negara, sehingga membuka peluang untuk memperluas pasar ekspor.

Pertumbuhan Manufaktur Menguat

Kinerja industri pengolahan nonmigas yang tumbuh lebih tinggi dibandingkan ekonomi nasional menjadi sinyal positif bagi perekonomian. Pada triwulan II 2026, sektor ini menyumbang Rp1.102,88 triliun terhadap produk domestik bruto (PDB) dan berkontribusi 38,98% terhadap realisasi investasi nasional.

Sementara itu, sepanjang Januari–Agustus 2026, industri pengolahan nonmigas menyumbang 82,40% dari total ekspor nasional. Besarnya kontribusi tersebut menegaskan bahwa penguatan manufaktur menjadi salah satu kunci untuk meningkatkan nilai tambah ekonomi dan memperkuat posisi Indonesia dalam perdagangan global.

Pertumbuhan industri juga menunjukkan perkembangan yang semakin merata. Sebanyak 14 dari 15 subsektor industri pengolahan nonmigas mencatat pertumbuhan positif pada triwulan II 2026.

Kondisi ini turut membuka peluang bagi industri pendukung, khususnya sektor kemasan yang memasok kebutuhan industri makanan dan minuman, farmasi, kosmetik, kertas, hingga mesin. Peningkatan aktivitas produksi di berbagai subsektor dapat mendorong permintaan terhadap kemasan yang lebih efisien, aman, dan sesuai dengan kebutuhan pasar.

Industri Kemasan Didorong Lebih Ramah Lingkungan

Di tengah pertumbuhan manufaktur, transformasi industri kemasan juga menjadi perhatian. Melalui ALLPACK Indonesia Expo 2026, pelaku industri dapat memperkenalkan teknologi pengemasan modern sekaligus memperluas kolaborasi dalam penerapan prinsip ekonomi sirkular.

Sarmuji menilai penggunaan bahan daur ulang dalam proses produksi menunjukkan bahwa sebagian pelaku industri mulai mengadopsi praktik yang lebih berkelanjutan.

“Saya juga melihat beberapa peserta pameran yang sudah memproduksi barang-barang hasil daur ulang. Ini menunjukkan bahwa industri mulai menerapkan prinsip ekonomi sirkular,” ujarnya.

Pemerintah mendorong agar pengembangan industri kemasan tidak hanya berorientasi pada peningkatan kapasitas dan efisiensi produksi, tetapi juga memperhatikan dampaknya terhadap lingkungan dan kesehatan masyarakat.

Salah satu upayanya adalah pengembangan green packaging, termasuk bioplastik sebagai alternatif plastik konvensional. Pendekatan ini didukung penerapan penggunaan kembali (reuse), daur ulang (recycle), serta tanggung jawab produsen atas kemasan setelah digunakan konsumen melalui skema Extended Producer Responsibility (EPR).

Di sisi lain, Kementerian Perindustrian mendorong modernisasi mesin dan peralatan melalui program restrukturisasi yang memberikan bantuan penggantian sebagian biaya pembelian mesin bagi industri yang memenuhi persyaratan. Program tersebut mencakup sejumlah sektor, termasuk makanan dan minuman, hasil hutan dan perkebunan, serta industri kecil dan menengah (IKM).

Langkah modernisasi diharapkan dapat meningkatkan produktivitas, efisiensi proses produksi, dan kemampuan industri memenuhi standar pasar yang semakin kompetitif.

Standar Kemasan Jadi Perhatian

Selain teknologi dan keberlanjutan, keamanan kemasan pangan menjadi faktor penting dalam pengembangan industri. Kementerian Perindustrian telah menetapkan Peraturan Menteri Perindustrian Nomor 6 Tahun 2025 mengenai pemberlakuan standar nasional Indonesia (SNI) wajib untuk kertas dan karton sebagai bahan baku kemasan primer pangan.

Kebijakan tersebut sejalan dengan Peraturan BPOM Nomor 11 Tahun 2026 tentang Kemasan Pangan untuk mendukung peningkatan keamanan dan mutu kemasan yang beredar di masyarakat.

Ke depan, pertumbuhan industri mamin dan kemasan akan ditentukan oleh kemampuan pelaku usaha menjaga efisiensi biaya, menjamin ketersediaan bahan baku, mengadopsi teknologi, serta memenuhi standar mutu dan lingkungan. Kepastian pasokan gas dan bahan baku menjadi faktor penting agar peningkatan permintaan tidak diikuti tekanan biaya produksi yang dapat mengurangi daya saing.

Sarmuji berharap ALLPACK Indonesia Expo 2026 menjadi momentum untuk memperkuat kerja sama antara pelaku industri, penyedia teknologi, asosiasi, dan pemerintah dalam meningkatkan produktivitas, memperluas pasar ekspor, serta memperkuat pemenuhan kebutuhan pasar domestik.