Kemenhut Tingkatkan Pemadaman Karhutla di Tanjung Puting, 26 Kali Water Bombing Dilakukan

0
54
Foto: Kemenhut

(Vibizmedia – Jakarta) Kementerian Kehutanan (Kemenhut) memperkuat upaya pemadaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Taman Nasional Tanjung Puting, Kalimantan Tengah. Hingga Minggu (18/10/2026), operasi pemadaman melalui pengeboman air (water bombing) telah dilakukan sebanyak 26 kali di kawasan Sungai Perlu dan Teluk Rengas.

Menteri Kehutanan Raja Antoni menyampaikan bahwa intensitas pemadaman udara tersebut meningkat dibandingkan sehari sebelumnya. Pada Sabtu (17/10/2026), operasi water bombing tercatat sebanyak 16 kali dan terus ditingkatkan untuk mempercepat pengendalian kebakaran.

“Water bombing (WB) di Tanjung Puting, kemarin 16 WB, hari ini sementara 26 WB,” kata Raja Antoni melalui pembaruan penanganan karhutla di akun Instagram pribadinya, Minggu (18/10/2026).

Meski demikian, pelaksanaan pemadaman udara masih menghadapi kendala berupa terbatasnya jarak pandang. Sebanyak enam helikopter water bombing yang berada di Kalimantan Tengah belum dapat beroperasi akibat kondisi jarak pandang di Bandara Tjilik Riwut yang belum memadai.

Untuk menjaga keberlanjutan operasi, satu helikopter water bombing milik perusahaan swasta, Sinar Mas, dapat diberangkatkan dari Kuala Pembuang, Kabupaten Seruyan. Operasi ini dimungkinkan setelah koordinasi dilakukan dengan mempertimbangkan kondisi jarak pandang yang lebih baik di lokasi tersebut.

Dukungan udara juga diperkuat dengan kedatangan helikopter water bombing milik TNI Angkatan Udara dan Kementerian Kehutanan di Kuala Pembuang. Kedua helikopter tersebut tiba dari Bandara Syamsudin Noor, Banjarmasin.

“Segala daya upaya terus diikhtiarkan termasuk mempertebal pasukan darat,” ujar Raja Antoni.

Pemadaman Darat Dioptimalkan

Selain mengandalkan operasi udara, Kemenhut memaksimalkan penanganan kebakaran melalui jalur darat, terutama di wilayah Pesalat dan Teluk Pulai.

Direktur Konservasi Kawasan Kemenhut, Sapto Aji Prabowo, menjelaskan bahwa tim di lapangan didukung berbagai peralatan pemadam, antara lain pompa suplai, pompa apung, pompa jinjing, mini strike, dan selang. Peralatan tersebut digunakan untuk menunjang pemadaman serta distribusi air ke titik-titik kebakaran.

Operasi darat melibatkan tim gabungan yang terdiri atas petugas Taman Nasional Tanjung Puting, Manggala Agni, personel bantuan kendali operasi (BKO) Kementerian Kehutanan, TNI, Polri, BPBD, dan relawan.

Untuk memenuhi kebutuhan air selama pemadaman, petugas memanfaatkan sumber air dari sungai maupun sumur bor yang tersedia di sekitar lokasi kebakaran.

“Resor Pesalat dan Teluk Pulai, tim darat gabungan (TNTP, Manggala Agni, BKO Kemenhut, TNI, Polri, BPBD dan relawan) terus memaksimalkan upaya pemadaman bersumber dari air sungai dan sumur bor,” kata Sapto.

Penguatan operasi udara dan darat tersebut diharapkan dapat mempercepat penanganan karhutla di Taman Nasional Tanjung Puting. Selain mencegah api meluas, langkah ini juga menjadi bagian dari upaya melindungi ekosistem hutan serta habitat satwa liar dari ancaman kebakaran.