Pemerintah Jaga Pasokan BBM Nasional di Tengah Kenaikan Harga Minyak Dunia

0
40
Foto: BPMI Setpres

(Vibizmedia – Jakarta) Pemerintah terus memperkuat ketersediaan dan distribusi bahan bakar minyak (BBM) di berbagai wilayah Indonesia di tengah tren kenaikan harga minyak mentah global. Upaya tersebut dilakukan untuk memastikan kebutuhan energi masyarakat tetap terpenuhi sekaligus menjaga kelancaran pasokan di dalam negeri.

Hal itu disampaikan Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi sekaligus Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia setelah menghadiri rapat terbatas yang dipimpin Presiden Prabowo Subianto di Istana Merdeka, Jakarta, Senin (19/10/2026).

Bahlil mengungkapkan, harga minyak mentah Indonesia atau Indonesian Crude Price (ICP) saat ini berada pada kisaran USD105–106 per barel. Sementara itu, rata-rata ICP selama periode Januari hingga Oktober 2026 tercatat sekitar USD91–92 per barel.

“Rata-rata dari Januari sampai dengan bulan Oktober sekarang ICP kita di angka 91 sampai dengan 92 dolar per barel,” kata Bahlil.

Di tengah kondisi tersebut, pemerintah memastikan cadangan BBM nasional masih terjaga. Untuk Pertalite dengan Research Octane Number (RON) 90, cadangan berada pada kisaran 16–18 hari. Adapun stok BBM jenis lain, termasuk Pertamax RON 92, RON 95, RON 98, serta Solar, tersedia untuk kebutuhan lebih dari 20 hari.

Bahlil menegaskan bahwa pemerintah terus memantau ketersediaan BBM agar kebutuhan masyarakat dapat dipenuhi dan distribusi energi tetap berjalan lancar.

“Untuk di sektor BBM saya dapat pastikan bahwa cadangan nasional kita rata-rata–minus Pertalite yang RON 90, RON 90 sekarang di angka 16-20 hari, kemudian selebihnya untuk bentuk BBM yang lain itu rata-rata di atas 20 hari,” tegasnya.

Pemerintah juga mengambil langkah khusus untuk memperkuat pasokan BBM di Bali. Setelah berkoordinasi dengan Gubernur Bali, Direktur Utama Pertamina, dan Direktur Utama Pertamina Patra Niaga, cadangan BBM di wilayah tersebut ditingkatkan menjadi 11–12 hari. Pemerintah menargetkan jumlah tersebut bertambah menjadi 15 hari dalam waktu satu minggu ke depan.

Menurut Bahlil, kendala pasokan sebelumnya dipicu keterlambatan kedatangan kapal pengangkut BBM dari Jawa menuju Bali. Namun, persoalan tersebut berangsur teratasi berkat koordinasi antara Pertamina, pemerintah daerah, Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), kepolisian, dan TNI.

“Sehingga dia betul-betul sama dengan standar nasional. Problem-nya adalah memang kemarin terjadi kapal yang terlambat masuk dari Jawa ke Bali untuk menyuplai, tapi sekarang sudah bisa terurai yang dibantu oleh Forkopimda dan Gubernur dan Kapolda dan TNI, dan sudah benar-benar Pertamina melakukan ini, itu dari sisi BBM,” tuturnya.

Perbaikan distribusi juga dilakukan di sejumlah wilayah Jawa Timur. Bahlil mengatakan, berdasarkan laporan yang diterimanya dari Pertamina, kendala pasokan di beberapa lokasi mulai teratasi melalui langkah distribusi yang telah dilakukan perusahaan.

“Beberapa tempat di Jawa Timur, karena memang tanggung jawab untuk menyuplai di bawah itu adalah Pertamina, sudah mendapat saya laporan bahwa sudah bisa terurai dengan pasokan yang sudah mereka lakukan di sana,” ujarnya.

Selain membahas pasokan BBM, Bahlil turut menyoroti perkembangan sektor mineral dan batu bara (minerba). Ia menyebut harga batu bara mulai meningkat dan saat ini mencapai USD154 per ton untuk kalori 6.330. Pemerintah akan tetap menjalankan kebijakan relaksasi produksi secara terbatas untuk menjaga keseimbangan pasokan dan permintaan (supply and demand), sekaligus mengoptimalkan peluang peningkatan devisa negara.

“Sekarang hari ini mencapai 154 dolar per ton untuk kalori 633, dan harapan kita memang adalah harganya bagus, produksinya kita naikkan, dan sekarang kita tetap akan melakukan relaksasi terbatas untuk menjaga supply and demand, tapi kita juga ingin untuk dalam waktu dekat, kita ingin sekali untuk bagaimana devisa kita bisa masuk,” ucapnya.

Di bidang hilirisasi, Bahlil menyampaikan bahwa pengembangan industri nikel berjalan dengan baik. Hal ini antara lain ditandai dengan peresmian sejumlah pabrik di kawasan Weda Bay, Maluku Utara, oleh Presiden Prabowo Subianto.

Pemerintah juga bersiap meresmikan fasilitas industri dalam ekosistem baterai kendaraan listrik di Karawang, Jawa Barat. Proyek tersebut merupakan hasil kerja sama antara perusahaan asal China, CATL, dan badan usaha milik negara (BUMN) Indonesia, yang peletakan batu pertamanya dilakukan Presiden sekitar satu tahun lalu.

“Sebentar lagi kita akan melakukan peresmian pabrik ekosistem baterai mobil di Karawang, yang satu tahun lalu Bapak Presiden melakukan ground breaking, itu adalah kerja sama antara CATL dan BUMN kita,” kata Bahlil.

Melalui penguatan pasokan energi, pengelolaan produksi minerba, dan percepatan hilirisasi, pemerintah berupaya menjaga ketahanan energi nasional sekaligus memanfaatkan peluang ekonomi di tengah dinamika harga komoditas global.