Neraca Perdagangan Surplus USD10,61 Miliar hingga September 2026

0
54
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS RI, Ateng Hartono (Sumber: BPS)
(Vibizmedia – Economy & Business) Neraca perdagangan Indonesia masih menunjukkan kinerja positif hingga September 2026 dengan mencatatkan surplus sebesar USD10,61 miliar sepanjang Januari–September 2026. Capaian ini menjadi modal penting dalam menjaga stabilitas eksternal ekonomi nasional di tengah peningkatan aktivitas perdagangan internasional dan lonjakan impor.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, surplus kumulatif tersebut ditopang oleh kinerja perdagangan nonmigas yang membukukan surplus USD34,21 miliar. Sementara itu, perdagangan migas masih mengalami defisit sebesar USD23,60 miliar.

Menurut keterangan Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS RI, Ateng Hartono, neraca perdagangan pada September 2026 sendiri mencatatkan surplus USD3,36 miliar. Hal tersebut disampaikan dalam konferensi pers Berita Resmi Statistik BPS di Jakarta, Senin (2/11/2026).

Jika ditinjau dari sisi ekspor, Indonesia membukukan nilai USD221,23 miliar selama sembilan bulan pertama 2026, meningkat 5,58 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Pertumbuhan terutama didorong ekspor nonmigas yang naik 6,30 persen. Industri pengolahan menjadi kontributor terbesar dengan nilai ekspor USD182,83 miliar, tumbuh 8,93 persen secara tahunan.

Negara tujuan utama ekspor nonmigas Indonesia masih tetap Tiongkok, dengan nilai USD54,17 miliar, disusul Amerika Serikat USD25,39 miliar dan India USD15 miliar.

Di sisi lain, impor meningkat 19,67 persen menjadi USD210,63 miliar. Kenaikan ini terutama berasal dari impor bahan baku atau penolong yang mencapai USD150,57 miliar, tumbuh 21,11 persen. Impor barang modal juga naik 16,49 persen menjadi USD41,55 miliar, sedangkan barang konsumsi mencapai USD18,51 miliar.

Tiongkok menjadi negara asal utama impor nonmigas dengan nilai USD76,16 miliar, diikuti Jepang USD10,04 miliar dan Australia USD8,07 miliar.

Surplus nonmigas terutama ditopang komoditas lemak dan minyak hewani atau nabati sebesar USD29,31 miliar, bahan bakar mineral USD21,42 miliar, besi dan baja USD13,95 miliar, nikel USD9,52 miliar, serta alas kaki USD4,86 miliar.

Kinerja tersebut memperlihatkan peran ekspor industri pengolahan dan komoditas unggulan dalam menopang perdagangan nasional. Meski demikian, peningkatan impor bahan baku dan barang modal juga menunjukkan besarnya kebutuhan industri terhadap pasokan produksi dari luar negeri.