Bio Farma Perkuat Kapasitas Produksi Vaksin dan Penguasaan Teknologi untuk Wujudkan Kemandirian Kesehatan

0
111
Foto: Bio Farma
(Vibizmedia – Jakarta) PT Bio Farma (Persero) terus memperkuat kemampuan industri vaksin nasional melalui rencana ekspansi fasilitas produksi, pengembangan teknologi, serta hilirisasi hasil penelitian. Langkah ini menjadi bagian dari strategi perusahaan untuk meningkatkan kemandirian kesehatan Indonesia sekaligus memperluas daya saing produk vaksin di pasar internasional.

Rencana pengembangan tersebut disampaikan dalam Danantara Technology Innovation and Investment Forum (DTIIF) 2026 yang digelar pada 26–28 Oktober 2026 di Fairmont, Jakarta. Dalam forum tersebut, Bio Farma memaparkan sejumlah agenda strategis, mulai dari pembangunan fasilitas manufaktur baru, pemanfaatan teknologi digital, hingga penjajakan investasi dan kemitraan strategis.

Mengangkat tema Investing in Tomorrow: Advancing Technology, Innovation, and Sustainable Growth, DTIIF 2026 diikuti lebih dari 1.500 peserta yang berasal dari kalangan industri, investor, lembaga penelitian, perusahaan teknologi, serta mitra strategis internasional.

Direktur Utama Bio Farma, Shadiq Akasya, dalam sesi pleno bertajuk From Laboratory to Industry: How Science Becomes Economic Capability, menegaskan bahwa kemajuan industri bioteknologi tidak dapat dicapai hanya melalui kegiatan penelitian. Diperlukan sinergi antara pemerintah, perguruan tinggi, lembaga riset, industri, dan mitra internasional untuk mengubah inovasi menjadi produk yang memiliki nilai ekonomi.

Menurut Shadiq, hasil penelitian harus ditopang kesiapan teknologi, fasilitas manufaktur, dukungan pendanaan jangka panjang, serta akses pasar. Dengan ekosistem yang memadai, inovasi dapat dikembangkan menjadi produk yang diproduksi secara berkelanjutan dan memberikan manfaat luas bagi masyarakat.

Saat ini, Bio Farma telah memasok 13 dari 14 jenis vaksin dalam Program Imunisasi Nasional dengan volume lebih dari 120 juta dosis per tahun. Perusahaan juga telah menjangkau 153 negara dengan total distribusi mencapai 86 miliar dosis vaksin sejak 2001.

Ekspansi Fasilitas Produksi hingga 750 Juta Dosis

Untuk memperbesar kapasitas produksi, Bio Farma menyiapkan proyek Bio Shield Nusantara. Dalam sesi Investor Showcase DTIIF 2026, Direktur Riset dan Pengembangan Bio Farma, Dicky Mahardhika Taryono, menjelaskan rencana pembangunan fasilitas manufaktur baru di luar Bandung.

Fasilitas tersebut diproyeksikan memiliki kapasitas produksi hingga 750 juta dosis vaksin, dengan target mulai menghasilkan produk pada periode 2029–2031.

Dicky menjelaskan, ekspansi ke luar Bandung diperlukan karena fasilitas produksi yang saat ini beroperasi di kawasan Pasteur sudah berada di area perkotaan dengan tingkat kepadatan tinggi.

Selain membangun fasilitas baru, Bio Farma juga merencanakan revitalisasi sejumlah fasilitas produksi di kawasan Bandung-Pasteur. Pengembangan Gedung 12 dan Gedung 43 ditargetkan meningkatkan kapasitas sekitar 145 juta dosis, sedangkan revitalisasi Gedung 34 diproyeksikan memberikan tambahan kapasitas sekitar tujuh juta dosis.

Melalui berbagai proyek tersebut, Bio Farma menargetkan dapat memenuhi lebih dari 90 persen kebutuhan vaksin Program Imunisasi Nasional pada 2029. Perusahaan juga berupaya menekan ketergantungan terhadap produk impor strategis setidaknya 50 persen.

Untuk merealisasikan agenda ekspansi, Bio Farma membuka kesempatan kerja sama investasi dengan Danantara dan mitra strategis lainnya. Ruang lingkup kolaborasi meliputi pembangunan fasilitas baru, peningkatan kapasitas manufaktur, serta pengembangan teknologi bioteknologi.

Digitalisasi dan AI Dukung Efisiensi Industri Vaksin

Selain memperluas kapasitas manufaktur, Bio Farma juga mengembangkan pemanfaatan teknologi digital untuk meningkatkan efisiensi penelitian, produksi, dan distribusi vaksin.

Salah satu inovasi yang diperkenalkan adalah Medtrack, sistem pemantauan distribusi vaksin berbasis digital yang memungkinkan pengawasan secara real-time.

Teknologi ini dapat memonitor suhu selama proses pengiriman sekaligus mendeteksi potensi gangguan distribusi. Penerapannya diharapkan memperkuat sistem rantai dingin (cold chain) sehingga kualitas dan keamanan vaksin tetap terjaga hingga diterima oleh masyarakat.

Bio Farma juga mulai mengintegrasikan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) dalam kegiatan penelitian dan produksi. Sementara itu, teknologi Virtual Reality (VR) dimanfaatkan untuk meningkatkan kemampuan dan kompetensi sumber daya manusia.

Berbagai inovasi tersebut menjadi bagian dari transformasi perusahaan dalam mengoptimalkan seluruh tahapan pengembangan produk, mulai dari penelitian hingga distribusi.

Dalam sesi Deeptech for All: Innovation, Leadership and Inclusion, Direktur Operasi Bio Farma, Iin Susanti, menekankan bahwa tantangan utama industri bioteknologi adalah mengubah hasil penelitian menjadi produk yang dapat diproduksi dalam skala besar dan dipasarkan secara luas.

Menurut Iin, penelitian merupakan tahap awal dalam proses inovasi. Namun, tanpa kemampuan rekayasa proses dan komersialisasi, hasil penelitian akan sulit berkembang menjadi produk yang memberikan manfaat nyata.

Ia menjelaskan bahwa pengembangan vaksin membutuhkan tahapan panjang, mulai dari penelitian, pengujian praklinis, uji klinis, hingga pemenuhan ketentuan regulasi. Karena itu, percepatan hilirisasi harus didukung teknologi yang memadai, pembiayaan jangka panjang, fasilitas produksi, serta tenaga kerja yang kompeten.

Perkuat Kolaborasi Internasional dan Penguasaan Teknologi

Pengembangan vaksin novel oral polio vaccine type 2 (nOPV2) menjadi salah satu contoh keberhasilan Bio Farma dalam mengembangkan produk melalui kolaborasi dan penguasaan teknologi. Vaksin tersebut berhasil memperoleh prakualifikasi dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada 2023.

Dalam memperkuat kapasitas industri, Bio Farma juga terus menjalin kemitraan dengan sejumlah organisasi internasional, antara lain WHO, UNICEF, Gates Foundation, dan Coalition for Epidemic Preparedness Innovations (CEPI).

Kerja sama juga dikembangkan melalui transfer teknologi dan manufaktur bersama mitra di Senegal dan Ghana. Kolaborasi ini diarahkan untuk meningkatkan kemampuan produksi vaksin sekaligus memperkuat ketahanan kesehatan global.

Melalui kemitraan tersebut, Bio Farma tidak hanya berupaya memperluas pengembangan produk, tetapi juga meningkatkan kapasitas penelitian, manufaktur, dan penguasaan teknologi. Kemampuan tersebut dinilai penting untuk memperkuat posisi industri bioteknologi Indonesia dalam rantai pasok kesehatan dunia.

Raih Penghargaan atas Inovasi Vaksin Rotavirus

Pada penutupan rangkaian DTIIF 2026, Bio Farma meraih penghargaan kategori Biomedicine Innovation melalui inovasi vaksin rotavirus bertajuk Bio RV: The World’s First Neonatal Rotavirus Vaccine, from Scientific Innovation to National Vaccine Self-Reliance and Industry.

Penghargaan tersebut diberikan dalam ajang Innovation Award pada Rabu (28/10/2026).

Ketua Tim Kerja Produksi Vaksin Rotavirus Bio Farma, Catur Gunawan, menjelaskan bahwa pengembangan vaksin Bio-RV ditujukan untuk membantu mencegah penyakit diare akibat infeksi rotavirus pada bayi.

Keunggulan vaksin ini terletak pada kemampuannya memberikan perlindungan lebih awal sejak bayi baru dilahirkan, tanpa harus menunggu hingga usia sekitar dua bulan untuk mendapatkan vaksinasi.

Catur menyampaikan apresiasi kepada berbagai pihak yang berkontribusi dalam pengembangan vaksin tersebut, termasuk Kementerian Kesehatan, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), Murdoch Children’s Research Institute (MCRI), Universitas Gadjah Mada (UGM), serta tim pengembangan vaksin Bio-RV Bio Farma.

Kembangkan Portofolio Vaksin dan Teknologi Kesehatan

Ke depan, Bio Farma akan terus memperluas portofolio produk vaksinnya, mencakup HPV, rotavirus, tifoid konjugat, heksavalen, campak-rubela, dengue, dan hepatitis B.

Perusahaan juga memperkuat penguasaan teknologi mRNA dan rekombinan, sekaligus menjajaki pengembangan produk di bidang life sciences, termasuk biosimilar dan terapi sel.

Melalui strategi tersebut, Bio Farma berupaya meningkatkan kemampuan industri kesehatan nasional dalam menghasilkan produk inovatif yang mampu memenuhi kebutuhan dalam negeri sekaligus bersaing di pasar global.

Dengan mengusung semangat Advancing Hope, Shaping the Future, perusahaan menegaskan komitmennya untuk terus mengembangkan riset, teknologi, dan kapasitas produksi vaksin nasional.

Penguatan kemampuan penelitian dan manufaktur di dalam negeri diharapkan dapat memperluas perlindungan kesehatan masyarakat melalui program imunisasi, mengurangi ketergantungan impor, serta memperkokoh kemandirian dan ketahanan kesehatan Indonesia.