Strategi Baru Kemenkes: Fokus pada Deteksi Dini, Bukan Hanya Pengobatan Kanker

0
333
Menkes Budi Gunadi Sadikin saat membuka **Pertemuan Tahunan ke-5 Asian Association for Pediatric and Congenital Heart Surgery (AAPCHS)** yang digelar bersamaan dengan **Pertemuan Ilmiah Tahunan Himpunan Bedah Toraks Kardiak dan Vaskular Indonesia (PIT HBTKVI)** di Bali, Jumat (5/9/2025). (Foto: Kemenkes RI)

(Vibizmedia – Bali) Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin menyampaikan bahwa pemerintah sedang menyiapkan program besar untuk memperkuat deteksi dini kanker paru, yang menjadi salah satu penyebab kematian tertinggi akibat kanker di Indonesia.

Dalam pernyataannya pada Pertemuan Tahunan ke-5 Asian Association for Pediatric and Congenital Heart Surgery (AAPCHS) yang dirangkaikan dengan Pertemuan Ilmiah Tahunan Himpunan Bedah Toraks Kardiak dan Vaskular Indonesia (PIT HBTKVI) di Bali, Menkes menegaskan bahwa fokus utama strategi penanganan kanker adalah deteksi sejak dini, bukan semata pengobatan. Ia menjelaskan, apabila kanker dapat diidentifikasi pada stadium awal, peluang pasien untuk bertahan hidup jauh lebih besar.

Budi juga menekankan, kanker yang terdeteksi pada stadium satu umumnya bisa ditangani dengan operasi, tanpa harus melalui kemoterapi atau radioterapi. Oleh karena itu, peningkatan fasilitas skrining diyakini akan berdampak besar dalam memperbanyak jumlah pasien yang terdiagnosis lebih awal sehingga bisa segera mendapatkan perawatan.

Program ini menjadi bagian dari strategi besar Kementerian Kesehatan untuk menekan angka kematian akibat penyakit tidak menular, terutama jantung dan kanker. Ia menambahkan, meski pembangunan infrastruktur kesehatan penting, keberhasilan tetap kembali pada faktor manusianya. Namun dengan skrining yang lebih baik, semakin banyak nyawa dapat diselamatkan.

Sebagai langkah konkret, pemerintah kini mendistribusikan CT Scan dosis rendah ke seluruh kota di Indonesia agar layanan kesehatan mampu melakukan skrining kanker paru secara lebih cepat dan merata. Selain itu, Kementerian Kesehatan juga menyiapkan 514 laboratorium imunohistokimia di berbagai kota untuk mendukung diagnosis yang lebih akurat.

Di tingkat provinsi, pemerintah berencana mengembangkan laboratorium patologi anatomi dengan teknologi Next Generation Sequencing (NGS), sehingga proses diagnosis kanker bisa dilakukan lebih cepat sekaligus mendukung terapi yang lebih tepat sasaran.