Dari Gawai ke Aktivitas Fisik, Pemerintah Kenalkan Buku Saku Permainan Anak

0
31
Menteri Kebudayaan Fadli Zon (berbaju oranye) bersama Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid (tengah) menghadiri Festival Generasi Berani Exploring dalam rangka Hari Anak Nasional 2026 di Cibis Park. (Foto: Kemkomdigi)

(Vibizmedia – Jakarta) Pemerintah memperkuat implementasi Peraturan Pemerintah tentang Tata Kelola Penyelenggaraan Sistem Elektronik dalam Perlindungan Anak (PP Tunas) dengan meluncurkan Buku Saku Generasi Berani Exploring. Buku ini ditujukan sebagai panduan bagi orang tua untuk mengalihkan aktivitas anak dari penggunaan gawai ke kegiatan fisik dan permainan tradisional.

Peluncuran buku saku tersebut dilakukan oleh Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemkomdigi) bersama Kementerian Kebudayaan dan sejumlah mitra.

Menteri Komunikasi dan Digital, Meutya Hafid, menjelaskan bahwa buku ini berisi 100 jenis permainan dan aktivitas yang dapat menjadi referensi bagi orang tua dalam mengisi waktu anak, khususnya setelah pembatasan penggunaan gawai.

Menurut Meutya, panduan ini diharapkan memberi lebih banyak pilihan aktivitas yang aman dan bermanfaat, sekaligus mengurangi risiko anak mengalami kecanduan gawai, terpapar konten berbahaya, maupun berinteraksi dengan pihak yang tidak dikenal.

Ia juga menambahkan, isi buku akan terus diperbarui seiring dengan pendataan permainan tradisional dari berbagai daerah di Indonesia.

Sementara itu, Menteri Kebudayaan Fadli Zon menyebut Indonesia memiliki lebih dari 2.500 jenis permainan tradisional yang tersebar dari Aceh hingga Papua. Namun, banyak di antaranya mulai ditinggalkan seiring meningkatnya penggunaan perangkat digital oleh anak-anak.

Melalui momentum PP Tunas, pemerintah berupaya menghidupkan kembali permainan tradisional agar kembali menjadi bagian dari keseharian anak, baik di rumah, sekolah, maupun lingkungan komunitas. Selain menyehatkan, permainan tersebut juga dinilai sarat nilai budaya dan mampu membentuk karakter.

Promosi permainan tradisional ke depan akan dilakukan secara lebih terstruktur melalui museum, situs budaya, kawasan cagar budaya, serta berbagai platform digital agar semakin dikenal oleh generasi muda.

Meutya menegaskan, inisiatif ini tidak berhenti pada peluncuran buku saku, melainkan akan diperluas ke berbagai daerah melalui kolaborasi lintas kementerian, pemerintah daerah, komunitas, dan sektor swasta. Distribusi buku juga akan dilakukan secara bertahap dalam bentuk cetak dan digital agar dapat menjangkau lebih banyak keluarga.

Sebagai penutup, Meutya mengajak anak-anak Indonesia untuk berani mencoba hal baru, tidak takut gagal, serta terus mencintai budaya bangsa, termasuk permainan tradisional sebagai bagian dari identitas nasional.