Konser Internasional Dinilai Buka Peluang Penguatan Ekosistem Ekonomi Kreatif

0
110
Foto: Kemenekraf

(Vibizmedia – Jakarta) Penyelenggaraan pertunjukan musik berskala internasional dinilai tidak hanya memberikan hiburan bagi masyarakat, tetapi juga dapat membuka ruang pertumbuhan bagi ekosistem ekonomi kreatif (ekraf) Indonesia.

Keterlibatan pekerja kreatif, vendor, kreator, desainer, musisi, hingga berbagai talenta pendukung produksi membuat konser internasional berpotensi memberikan dampak ekonomi yang lebih luas sekaligus menjadi sarana peningkatan kapasitas sumber daya manusia kreatif di dalam negeri.

Menteri Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Ekonomi Kreatif (Ekraf) Teuku Riefky Harsya menyampaikan pandangan tersebut dalam audiensi bersama Raw Vision Collective (RVC) untuk membahas persiapan YE Live in Jakarta 2026. Pertemuan berlangsung di Marqen Hotel, Jakarta, Senin (14/9/2026).

Konser YE Live in Jakarta 2026 dijadwalkan berlangsung pada 24 Oktober 2026 di Stadion Utama Gelora Bung Karno (GBK), Jakarta. Kehadiran pertunjukan tersebut dinilai menjadi salah satu momentum untuk mempertemukan talenta kreatif Indonesia dengan standar dan jejaring industri hiburan global.

“Kami ingin melihat konser internasional bukan hanya sebagai sebuah pertunjukan, tetapi sebagai bagian dari proses upskilling & upscaling ekosistem ekraf. Mereka yang terlibat tidak hanya bekerja dalam sebuah produksi, tetapi juga mendapatkan pengalaman dengan standar internasional,” ujar Teuku Riefky.

Menurutnya, pengalaman terlibat dalam produksi berskala global dapat menjadi bagian dari proses peningkatan kemampuan, profesionalisme, serta daya saing para pekerja dan pelaku industri kreatif Indonesia.

Membuka Ruang bagi Talenta Lokal

Penampilan perdana YE atau Kanye West di Indonesia juga disebut menjadi momentum yang menunjukkan semakin terbukanya Indonesia sebagai lokasi penyelenggaraan pertunjukan internasional.

Namun, menurut Teuku Riefky, besarnya skala sebuah konser perlu diikuti dengan kesempatan bagi pelaku kreatif lokal untuk mengambil bagian. Kolaborasi antara penyelenggara internasional dan talenta Indonesia dapat menjadi sarana memperkenalkan karya serta kapasitas kreatif dalam negeri kepada jejaring industri global.

Ia menilai kualitas artistik pertunjukan tetap dapat dijaga sembari memberikan ruang yang lebih besar bagi konten dan kreativitas lokal.

“Ini momentum emas atau golden moment untuk para pegiat, termasuk wirausaha kreatif naik kelas. Spirit-nya bukan hanya untuk yang hadir menonton, tetapi harus sampai keluar stadion. Di sinilah storytelling dan kolaborasi menjadi penting untuk membangkitkan semangat semua pihak,” kata Teuku Riefky.

Ia menambahkan, peluang yang muncul dari penyelenggaraan konser internasional perlu dilihat sebagai kesempatan untuk membawa pelaku ekonomi kreatif Indonesia menuju pasar yang lebih luas.

Jakarta Jadi Bagian dari Tur YE

Marketing & Communications Lead Raw Vision Collective, Karen Tjahja, mengatakan konser YE di Jakarta mendapat perhatian dari penggemar musik dari berbagai negara.

Jakarta menjadi satu-satunya kota di kawasan Asia Tenggara dan Oseania yang masuk dalam rangkaian tur YE tahun ini. Antusiasme penonton juga terlihat dari minat penggemar yang berasal dari sejumlah negara, antara lain Australia, Singapura, Malaysia, Filipina, Vietnam, dan Thailand.

Menurut Karen, pertunjukan tersebut akan menggunakan konsep Globe Stage, yakni panggung 360 derajat yang dirancang agar penonton berada di pusat pengalaman konser dan dapat menyaksikan pertunjukan dari berbagai sisi.

“Kami ingin menghadirkan pengalaman pertunjukan yang berbeda melalui Globe Stage, konsep panggung 360 derajat yang menempatkan penonton di pusat pengalaman konser dan memungkinkan mereka menikmati pertunjukan dari berbagai sisi,” ujar Karen.

Selain menghadirkan pengalaman pertunjukan yang berbeda, RVC berharap keterlibatan Kementerian Ekraf dapat membuka kesempatan untuk memperkenalkan lebih jauh potensi industri kreatif Indonesia kepada jaringan pelaku industri internasional.

Kolaborasi yang terbentuk melalui penyelenggaraan konser tersebut diharapkan tidak berhenti pada satu acara, tetapi dapat berkembang menjadi kerja sama jangka panjang dengan para pekerja dan pelaku ekonomi kreatif Indonesia.

Dengan demikian, konser internasional dapat menjadi salah satu pintu masuk untuk menciptakan nilai jangka panjang bagi ekosistem kreatif nasional, baik melalui peningkatan kompetensi, perluasan jejaring, maupun peluang kolaborasi lintas negara.

Dalam pertemuan tersebut, Teuku Riefky didampingi Deputi Bidang Kreativitas Media Cecep Rukendi, Staf Khusus Menteri Rian Syaf, dan Kepala Biro Komunikasi Kiagoos Irvan Faisal.

Sementara itu, RVC diwakili General Partner Muhammad Gentha Putra Fadilla dan Aditya Keo Santoso, Managing Director Bimo Wirjasoekarta, serta Advisor David Aditya Soeryadjaya.