Festival 28 Bahasa 2026 Perkuat Toleransi dan Kreativitas Generasi Muda

0
1679
Foto; Kemenekraf

(Vibizmedia – Jakarta) Wakil Menteri Ekonomi Kreatif/Wakil Kepala Badan Ekonomi Kreatif (Wamenekraf) Irene Umar menilai Festival 28 Bahasa 2026 memiliki peran strategis dalam memperkenalkan keberagaman budaya sekaligus membangun ruang interaksi yang inklusif bagi generasi muda.

Hal tersebut disampaikan Irene saat membahas persiapan Festival 28 Bahasa 2026 bersama organisasi Unlocking Nusantara dalam audiensi di Kantor Kementerian Ekonomi Kreatif, Jakarta, Selasa (15/9/2026). Festival tersebut direncanakan berlangsung di SMK Bakti Karya Parigi, Pangandaran.

Menurut Irene, keberadaan lingkungan pendidikan yang mampu mempertemukan anak-anak dari berbagai latar belakang dapat menjadi ruang yang aman untuk berkembang. Kondisi tersebut dinilai penting karena kreativitas akan lebih mudah tumbuh ketika anak merasa diterima dan kebutuhan dasarnya terpenuhi.

“Sekolah multikultural jadi ruang aman untuk semua anak-anak menjadi anak-anak tanpa melihat perbedaan ras, suku dan warna kulit. Ketika mereka merasa aman dan kebutuhannya terpenuhi, di situlah kreativitas seorang anak bisa bertumbuh karena pada akhirnya setelah mereka lulus, siswa-siswi ini yang akan jadi penggerak ekonomi masa depan,” ujar Irene.

Ia menekankan bahwa pembangunan sumber daya manusia (SDM) ekonomi kreatif perlu dilakukan sejak usia dini. Upaya tersebut tidak hanya berkaitan dengan pendidikan formal, tetapi juga mencakup pemenuhan kebutuhan dasar, penyediaan fasilitas pendidikan yang berkualitas, serta kesempatan bagi anak untuk mengekspresikan kreativitasnya dalam lingkungan yang terbuka dan tidak diskriminatif.

Keberagaman Budaya dalam Ekonomi Kreatif

Festival 28 Bahasa 2026 dirancang sebagai kegiatan edukasi kebangsaan yang mengangkat nilai toleransi dan keberagaman melalui pendekatan ekonomi kreatif.

Sejumlah subsektor kreatif akan terlibat dalam rangkaian acara, antara lain seni pertunjukan, musik, kriya, dan kuliner. Berbagai kegiatan telah disiapkan, mulai dari Pawai Budaya, Tari Kreasi, Tari Daerah, Musik Bahasa Daerah, Orasi Bahasa Daerah, Atraksi Bakar Batu, Pameran Rumah Adat, Bazar UMKM, workshop, diskusi lintas generasi, hingga Stage Festival.

Penggagas Program Kelas Multikultural, Ai Nurhidayat, mengatakan festival tersebut memberikan kesempatan bagi anak-anak dari latar belakang berbeda untuk mengenal budaya satu sama lain secara langsung.

“Perayaan ini jadi ruang bagi anak-anak dengan latar belakang yang berbeda untuk saling belajar tentang penerimaan, keterbukaan, dan kebersamaan dalam perbedaan. Hal ini menumbuhkan rasa penasaran mereka terhadap budaya teman mereka yang lain, tapi juga mampu membuat mereka sendiri bangga terhadap budaya miliknya,” ungkap Ai.

Menurutnya, interaksi lintas budaya tidak hanya memperluas wawasan peserta, tetapi juga dapat memperkuat penghargaan terhadap identitas budaya masing-masing.

Memberikan Dampak bagi Ekonomi Lokal

Selain menjadi ruang pertukaran budaya, Festival 28 Bahasa juga memiliki dampak terhadap aktivitas ekonomi masyarakat di Kecamatan Parigi, Pangandaran.

Sejak pertama kali diselenggarakan pada 2018 hingga 2025, kegiatan tersebut telah melibatkan lebih dari 10.000 peserta yang berasal dari berbagai kelompok, mulai dari pelajar dan generasi muda hingga wisatawan serta kelompok ibu rumah tangga.

Pada penyelenggaraan 2026, panitia menargetkan sekitar 1.000 peserta dapat berpartisipasi secara langsung dalam festival.

Kegiatan tersebut diharapkan terus berkembang sebagai ruang bagi generasi muda untuk menghasilkan dan menampilkan karya kreatif sekaligus mengenal kekayaan budaya Indonesia.

Kolaborasi antara pemerintah, institusi pendidikan, dan komunitas dinilai menjadi salah satu fondasi dalam menciptakan lingkungan yang mendukung tumbuhnya talenta kreatif sejak dini. Melalui pendekatan tersebut, Festival 28 Bahasa 2026 diharapkan turut berkontribusi dalam menyiapkan sumber daya manusia kreatif yang dapat mengambil peran dalam pembangunan Indonesia pada masa mendatang.