BMKG Imbau Waspada Cuaca Ekstrem Akhir Januari 2026, Sumatra hingga Nusa Tenggara Berpotensi Terdampak

0
98
Dashboard prakiraan cuaca dan iklim. (Foto: BMKG)

(Vibizmedia – Nasional) Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengingatkan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan menyusul potensi peningkatan cuaca ekstrem di sejumlah wilayah Indonesia menjelang akhir Januari 2026. Wilayah yang diperkirakan terdampak mencakup Sumatra bagian selatan, Jawa, Bali, hingga Nusa Tenggara.

Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, mengatakan analisis terbaru dinamika atmosfer menunjukkan adanya gangguan atmosfer yang cukup signifikan. Kondisi tersebut memicu pertumbuhan awan konvektif secara intens dan berpotensi menimbulkan hujan lebat yang disertai kilat serta angin kencang.

“Kami mengimbau masyarakat untuk tetap tenang namun meningkatkan kewaspadaan menghadapi potensi cuaca ekstrem menjelang akhir Januari. Dengan kesiapsiagaan dan pemantauan informasi resmi BMKG, risiko bencana dapat ditekan,” ujar Faisal di Jakarta, Selasa (20/1/2026).

Plt. Deputi Bidang Meteorologi BMKG, Andri Ramdhani, menjelaskan bahwa potensi cuaca ekstrem dalam sepekan ke depan dipengaruhi oleh beberapa faktor atmosfer. Salah satunya adalah keberadaan Bibit Siklon Tropis 97S di Samudra Hindia selatan Indonesia, dengan kecepatan angin maksimum sekitar 15 knot dan tekanan minimum 1001 hPa.

“Pergerakan sistem 97S ke arah barat berpotensi memperkuat pertemuan dan belokan angin dari pesisir barat Sumatra hingga Nusa Tenggara, sehingga mendukung peningkatan pembentukan awan hujan di wilayah Indonesia bagian selatan,” jelas Andri.

Selain itu, penguatan Monsun Asia yang diperkirakan berlangsung hingga 23 Januari 2026, disertai seruakan udara dingin dari daratan Asia, turut meningkatkan kecepatan angin di Laut Cina Selatan dan memicu pertumbuhan awan hujan secara luas di wilayah selatan khatulistiwa.

Aktivitas Madden-Julian Oscillation (MJO), Gelombang Rossby Ekuator, dan Gelombang Kelvin yang diperkuat oleh nilai Outgoing Longwave Radiation (OLR) negatif, juga berkontribusi pada pembentukan awan Cumulonimbus. Kondisi tersebut semakin diperkuat oleh tingginya kelembapan udara serta labilitas atmosfer pada lapisan bawah hingga menengah.

BMKG mencatat potensi cuaca ekstrem pada 21 Januari 2026 terjadi di Bengkulu, Lampung, Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara Barat, dan Nusa Tenggara Timur.

Pada 22 Januari, potensi serupa masih berpeluang terjadi di Bengkulu, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, NTB, dan NTT. Sementara pada 23 Januari, wilayah terdampak meliputi DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, NTB, dan NTT.

Selanjutnya, cuaca ekstrem diprakirakan berpotensi terjadi di Jawa Tengah dan Jawa Timur pada 24 Januari, sedangkan peningkatan curah hujan di Bali, NTB, dan NTT diperkirakan berlangsung pada 25–26 Januari 2026.

BMKG menegaskan bahwa kondisi cuaca bersifat dinamis dan dapat berubah sewaktu-waktu seiring perkembangan atmosfer. Masyarakat diimbau lebih berhati-hati dalam merencanakan aktivitas luar ruang serta perjalanan darat, laut, dan udara, serta rutin memantau informasi cuaca melalui aplikasi InfoBMKG, laman resmi BMKG, dan media sosial @infobmkg.