17 Sekolah Nasional Terintegrasi Mulai Beroperasi, Pemerintah Targetkan SDM Unggul

0
146
Direktur Jenderal PAUD, Pendidikan Dasar, serta Pendidikan Nonformal dan Informal (Dirjen PAUD Dikdas PNFI) Kemendikdasmen, Gogot Suharwoto, saat membuka Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) SNT angkatan pertama tahun ajaran 2026/2027. (Foto: YouTube Kemendikdasmen)

(Vibizmedia – Jakarta) Pemerintah mulai menjalankan program Sekolah Nasional Terintegrasi (SNT) di 17 titik pada tahun ajaran 2026/2027. Program ini bertujuan memperluas pemerataan akses pendidikan berkualitas sekaligus menyiapkan sumber daya manusia unggul di berbagai wilayah.

Direktur Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar, serta Pendidikan Nonformal dan Informal (Dirjen PAUD Dikdas PNFI) Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), Gogot Suharwoto, menyampaikan bahwa kehadiran SNT menjadi salah satu langkah pemerintah dalam menghadirkan layanan pendidikan yang merata dan terintegrasi.

“SNT merupakan upaya pemerintah untuk memastikan seluruh anak Indonesia memperoleh pendidikan berkualitas melalui sistem yang terintegrasi, bermutu, dan berfokus pada pengembangan potensi peserta didik secara menyeluruh,” ujar Gogot saat membuka Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) SNT Angkatan Pertama Tahun Ajaran 2026/2027, yang digelar secara daring dan luring, Senin (10/8/2026).

Ia menjelaskan bahwa pengembangan SNT merupakan tindak lanjut dari Instruksi Presiden Nomor 10 Tahun 2026. Sekolah ini dirancang agar berada dekat dengan tempat tinggal peserta didik, sehingga akses terhadap pendidikan bermutu semakin terbuka luas.

Pada tahap awal, pemerintah menerima usulan pembangunan SNT dari 114 kabupaten/kota dan provinsi. Setelah melalui proses verifikasi dan peninjauan lapangan, ditetapkan 37 lokasi pembangunan pada tahun 2026. Dari jumlah tersebut, 17 lokasi sudah mulai beroperasi pada tahun ajaran 2026/2027, termasuk SNT 7 Bogor yang menjadi lokasi pembukaan MPLS angkatan pertama.

Gogot menegaskan bahwa kesiapan SNT tidak hanya terbatas pada pembangunan sarana dan prasarana, tetapi juga mencakup penyiapan kepala sekolah, guru, peserta didik, serta sistem pembelajaran. Untuk posisi kepala sekolah, Kemendikdasmen menyeleksi 17 orang dari sekitar 1.800 pendaftar. Sementara itu, sebanyak 204 guru dan tenaga pendamping pembelajaran direkrut dari sekitar 60.000 lulusan Program Pendidikan Profesi Guru (PPG) prajabatan. Seluruh tenaga pendidik tersebut telah mengikuti pembekalan selama lima hari sebelum mulai bertugas.

Dari sisi peserta didik, proses Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) SNT diikuti oleh 2.068 pendaftar. Hasil seleksi menetapkan 1.360 siswa sebagai angkatan pertama, terdiri dari 680 siswa jenjang SMP dan 680 siswa jenjang SMA.

Selain itu, Kemendikdasmen juga menyiapkan dukungan pembelajaran berbasis digital, seperti learning management system (LMS), bahan ajar, dan berbagai perangkat pembelajaran digital untuk menunjang proses belajar mengajar.

Dukungan Lintas Kementerian

Menurut Gogot, pembangunan SNT membutuhkan sinergi berbagai pihak, termasuk kementerian/lembaga lain, pemerintah daerah, serta pemangku kepentingan terkait. Pemerintah daerah memiliki peran penting, terutama dalam penyediaan lahan.

Dari total 37 lokasi, sebanyak 17 pemerintah daerah telah menuntaskan Naskah Perjanjian Hibah Daerah (NPHD) sebagai bagian dari proses penyerahan lahan kepada pemerintah pusat. Sementara itu, 20 daerah lainnya masih dalam tahap penyelesaian.

Selain itu, terdapat 19 kabupaten/kota yang telah menyatakan kesiapan untuk mengusulkan lokasi pembangunan SNT berikutnya. Usulan tersebut akan melalui proses verifikasi sebelum masuk dalam rencana pembangunan tahun 2026 maupun 2027.

Gogot menyampaikan apresiasi kepada pemerintah daerah yang telah berkontribusi dalam penyediaan lahan serta kepada semua pihak yang mendukung percepatan program ini. Ia berharap SNT tidak hanya menjadi tempat belajar, tetapi juga menjadi lingkungan yang mendorong siswa berkembang, berprestasi, dan mengoptimalkan potensi diri.

“Harapannya, SNT dapat menjadi wadah bagi anak-anak Indonesia untuk belajar, tumbuh, dan berprestasi, serta melahirkan pemimpin masa depan yang memberi kontribusi besar bagi bangsa dan daerah,” tutup Gogot.