Rengginang dibuat dari beras ketan yang dimasak hingga matang, kemudian diberi bumbu sederhana seperti garam, bawang putih, atau terasi agar rasanya semakin gurih. Setelah itu, ketan dibentuk bulat pipih dan dijemur di bawah sinar matahari hingga benar-benar kering. Proses penjemuran menjadi bagian penting karena menentukan hasil akhir saat digoreng. Setelah kering, rengginang digoreng dalam minyak panas hingga mengembang dan berwarna keemasan.
Keunikan rengginang terletak pada bahan dasarnya. Berbeda dengan kebanyakan kerupuk yang dibuat dari tepung tapioka, rengginang menggunakan butiran beras ketan yang masih utuh. Karena itu, teksturnya lebih padat dengan sensasi renyah yang khas ketika digigit. Rasa gurih alami dari ketan juga menjadi ciri yang membuat camilan ini mudah dikenali.
Di berbagai daerah, rengginang hadir dengan beragam cita rasa. Ada yang tetap mempertahankan rasa gurih asli, ada pula yang diberi tambahan ikan, ebi, udang, balado, hingga keju untuk mengikuti selera pasar. Meski banyak variasi bermunculan, rengginang tradisional tetap menjadi pilihan favorit karena menawarkan cita rasa sederhana yang akrab di lidah.
Dibandingkan banyak camilan lain, rengginang memiliki sejumlah keunggulan. Bahan bakunya sederhana dan tidak memerlukan banyak bahan tambahan. Dalam kondisi kering dan disimpan di wadah tertutup, rengginang dapat bertahan cukup lama sehingga praktis dijadikan stok camilan di rumah maupun oleh-oleh. Harganya yang relatif terjangkau juga membuat makanan tradisional ini tetap diminati oleh berbagai kalangan.
Bagi banyak orang, rengginang bukan sekadar makanan ringan. Camilan ini sering hadir saat hari raya, hajatan, atau sebagai teman minum teh dan kopi bersama keluarga. Tidak sedikit yang mengenang rengginang sebagai bagian dari masa kecil karena kerap disajikan oleh orang tua atau kakek-nenek ketika berkumpul di rumah.
Di balik kesederhanaannya, pembuatan rengginang membutuhkan ketelatenan. Proses pengeringan masih sangat bergantung pada cuaca. Saat musim hujan, waktu produksi biasanya menjadi lebih lama karena rengginang harus benar-benar kering sebelum digoreng. Jika kadar air masih tinggi, rengginang tidak akan mengembang sempurna dan hasilnya kurang renyah.
Kini, banyak pelaku usaha kecil terus mengembangkan rengginang agar tetap menarik bagi masyarakat. Selain menghadirkan berbagai pilihan rasa, mereka juga memperbarui desain kemasan sehingga lebih modern dan cocok dijadikan buah tangan. Penjualan melalui media sosial dan platform belanja daring juga membantu memperluas pasar hingga ke berbagai daerah.
Menariknya, beberapa negara juga memiliki camilan yang mirip dengan rengginang. Jepang mengenal okaki dan arare, yaitu kerupuk berbahan beras ketan yang dibumbui kecap asin, rumput laut, atau cabai. Korea Selatan memiliki nurungji, camilan dari kerak nasi yang dipanggang atau digoreng hingga renyah. Sementara itu di Thailand terdapat kerupuk ketan yang disajikan dengan cita rasa manis maupun gurih.
Meski demikian, rengginang Indonesia memiliki ciri khas yang membedakannya. Camilan ini dibuat dari butiran beras ketan utuh yang kemudian dipadatkan, dijemur secara alami sebelum digoreng hingga mengembang. Rasa gurih dari bawang putih, terasi, atau ebi juga memberikan karakter yang berbeda dibandingkan camilan sejenis di negara lain.12:55









