Menkeu: Ekonomi 2026 Diproyeksikan Tumbuh 5,4 Persen

0
72
Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa selesai memimpin Rapat Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK). (Foto: InfoPublik)

(Vibizmedia – Jakarta) Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia tetap solid dan mampu menjaga momentum positif ke depan, meskipun menghadapi tekanan global serta moderasi harga komoditas.

Ia menyampaikan bahwa pertumbuhan ekonomi pada triwulan IV 2025 diperkirakan lebih tinggi dibandingkan triwulan sebelumnya. Kinerja tersebut terutama didorong oleh peningkatan permintaan domestik seiring membaiknya kepercayaan pelaku ekonomi, yang diperkuat oleh stimulus kebijakan fiskal dan moneter.

“Sejumlah indikator ekonomi pada triwulan IV 2025 menunjukkan kinerja yang kuat. PMI manufaktur berada di zona ekspansi berdasarkan survei S&P Global, penjualan ritel tumbuh positif, dan neraca perdagangan kembali mencatat surplus,” ujar Purbaya di Jakarta, Selasa (27/1/2026).

Selain itu, penempatan kas negara di perbankan turut memperkuat likuiditas sistem keuangan. Kondisi ini tercermin dari pertumbuhan uang primer (M0) yang mencapai 11,4 persen secara tahunan (year on year/yoy) pada Desember 2025, sekaligus menurunkan biaya dana perbankan.

Purbaya menjelaskan bahwa tingginya pertumbuhan M0 dipengaruhi oleh koordinasi kebijakan fiskal dan moneter yang sejalan dengan ekspansi likuiditas bank sentral serta stimulus fiskal pemerintah pada akhir tahun.

Sementara itu, pertumbuhan uang beredar dalam arti luas (M2) pada Desember 2025 tercatat sebesar 9,6 persen yoy, seiring dengan perkembangan penyaluran kredit.

Dengan berbagai indikator tersebut, pemerintah memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia sepanjang 2025 berada di kisaran 5,2 persen. Adapun pada 2026, pertumbuhan ekonomi diproyeksikan meningkat menjadi 5,4 persen, didukung oleh penguatan permintaan domestik serta sinergi kebijakan antara pemerintah dan lembaga anggota Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK).

Ke depan, pemerintah akan terus mendorong investasi, antara lain melalui peran Danantara sebagai pengungkit investasi swasta, termasuk di sektor hilirisasi sumber daya alam. Upaya tersebut juga diperkuat dengan pembentukan Satuan Tugas Percepatan Program Strategis Pemerintah (Satgas P2SP) guna menciptakan iklim investasi yang lebih kompetitif.

Di pasar keuangan, kinerja pasar Surat Berharga Negara (SBN) menunjukkan perbaikan berkelanjutan pada triwulan IV 2025. Yield SBN tenor 10 tahun turun menjadi 6,01 persen, dari posisi akhir 2024 yang masih berada di atas 7 persen. Penurunan ini mencerminkan meningkatnya kepercayaan investor terhadap pengelolaan fiskal pemerintah yang dinilai prudent.

Di tengah tekanan global, Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tetap berperan strategis sebagai peredam guncangan ekonomi melalui belanja negara yang efektif. Peran tersebut diperkuat melalui sinergi kebijakan bersama Bank Indonesia, Otoritas Jasa Keuangan, dan Lembaga Penjamin Simpanan.

Hingga akhir triwulan IV 2025, realisasi belanja negara mencapai Rp3.451,4 triliun atau 95,3 persen dari pagu APBN, sementara pendapatan negara tercatat sebesar Rp2.756,3 triliun atau 91,7 persen dari target.

Dengan capaian tersebut, APBN mencatat defisit sebesar Rp695,1 triliun atau setara 2,92 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB), dengan keseimbangan primer masih berada pada level defisit sebesar Rp180,7 triliun.