Ukir Jepara Menuju Panggung Dunia, Pemerintah Siapkan Pengajuan ke UNESCO

0
71
Pameran Seni Ukir Jepara "TATAH 2026" yang digelar di Museum Nasional Indonesia (Foto: Istimewa)

(Vibizmedia – Industry) Pemerintah terus mendorong seni ukir Jepara agar tidak hanya lestari sebagai warisan budaya, tetapi juga berkembang sebagai kekuatan ekonomi kreatif yang berdaya saing global. Salah satu langkah konkret diwujudkan melalui penyelenggaraan Pameran Seni Ukir Jepara TATAH 2026 di Museum Nasional Indonesia.

Melalui pameran ini, Kementerian Kebudayaan menegaskan pendekatan baru dalam pelestarian budaya, yakni mengintegrasikan nilai historis dan filosofis dengan potensi ekonomi yang dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat, khususnya para perajin.

Menteri Kebudayaan Fadli Zon menyampaikan bahwa ukir Jepara memiliki nilai strategis yang melampaui fungsi estetika semata. Menurutnya, tradisi ini mampu menjadi penggerak ekonomi melalui penciptaan lapangan kerja serta penguatan ekosistem industri kreatif. Ia juga menegaskan bahwa pemerintah tengah menyiapkan pengajuan ukir Jepara sebagai warisan budaya takbenda dunia ke UNESCO sebagai bagian dari diplomasi budaya Indonesia.

Pameran “TATAH” menghadirkan lebih dari 30 karya, termasuk ikon seperti Macan Kurung dan Kursi Kartini. Dengan mengusung narasi “Suluk–Sulur–Jepara”, pameran ini tidak hanya menampilkan keindahan visual, tetapi juga mengulas perjalanan sejarah serta transformasi teknik dan estetika ukiran dari masa ke masa berbasis riset.

Pendekatan edukatif menjadi daya tarik utama. Pengunjung diajak memahami proses kreatif melalui rekonstruksi ruang kerja pengukir (brak), sekaligus mengenal alat dan teknik tradisional yang diwariskan secara turun-temurun. Hal ini memperkuat posisi pameran sebagai ruang interaksi antara tradisi dan inovasi.

Dalam konteks global, pemerintah juga membuka peluang kolaborasi lintas negara untuk memperkuat pengakuan terhadap tradisi ukir sebagai warisan dunia, sekaligus memperluas jejaring kerja sama budaya dan industri kreatif Indonesia.

Bupati Jepara, Witiarso Utomo, menegaskan bahwa ukir Jepara merupakan bagian tak terpisahkan dari identitas masyarakat. Ia menyebut setiap ukiran mengandung nilai sejarah, makna filosofis, sekaligus menjadi sumber penghidupan bagi ribuan keluarga.

Namun, tantangan regenerasi perajin masih menjadi perhatian. Menurunnya minat generasi muda terhadap profesi pengukir dinilai membutuhkan intervensi kebijakan serta kolaborasi lintas sektor.

Direktur Pelaksana “TATAH” 2026, Veronica Rompies, menjelaskan bahwa pameran ini dirancang sebagai ruang refleksi yang mengangkat ukiran sebagai karya seni adiluhung yang sarat nilai kemanusiaan. Ia berharap dampaknya tidak berhenti pada apresiasi, tetapi juga berkontribusi pada keberlanjutan hidup para perajin.

Kementerian Kebudayaan menegaskan komitmennya untuk terus memperkuat ekosistem ukir Jepara melalui sinergi antara pemerintah, industri, komunitas, dan akademisi. Upaya ini diarahkan agar warisan budaya tetap hidup, adaptif terhadap perkembangan zaman, sekaligus memberikan kontribusi nyata bagi pertumbuhan ekonomi.

Pameran yang berlangsung hingga awal Juli 2026 ini diharapkan menjadi momentum penting untuk membawa seni kriya Indonesia ke panggung dunia, sekaligus mendorong lahirnya generasi baru perajin yang mampu menjaga dan mengembangkan tradisi ukir Jepara secara berkelanjutan.