(Vibizmedia-Nasional) Pemerintah memperkuat langkah strategis untuk mendorong kinerja industri manufaktur nasional melalui sinergi lintas sektor. Hal ini ditegaskan dalam pertemuan antara Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita dan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa di Jakarta, Selasa (5/5).
Dalam pertemuan tersebut, kedua kementerian membahas berbagai tantangan yang dihadapi pelaku industri sekaligus merumuskan solusi kebijakan yang lebih tepat sasaran. Salah satu fokus utama adalah mengidentifikasi hambatan di lapangan dan mempercepat penyelesaiannya melalui pendekatan terintegrasi.
“Kita bedah berbagai kendala yang dihadapi pelaku usaha industri, lalu kita carikan solusi konkret. Kami juga mengapresiasi langkah Kementerian Keuangan yang telah membuka ruang penyelesaian masalah melalui tim debottlenecking,” ujar Agus.
Menurutnya, koordinasi erat antara Kemenperin dan Kemenkeu menjadi kunci dalam menghadirkan kebijakan yang efektif, baik dalam bentuk stimulus maupun insentif. Langkah ini dinilai penting untuk menjaga momentum pertumbuhan sektor manufaktur yang selama ini menjadi tulang punggung ekonomi nasional.
Data Badan Pusat Statistik menunjukkan bahwa sekitar 75% hingga 80% ekspor Indonesia berasal dari sektor manufaktur. Namun, struktur industri nasional memiliki karakteristik berbeda dibanding negara seperti Vietnam, Thailand, dan Malaysia, di mana sebagian besar produksi Indonesia justru diserap oleh pasar domestik.
“Sekitar 80% output manufaktur kita untuk pasar dalam negeri, dan hanya 20% yang diekspor. Ini yang ingin kita optimalkan tanpa mengganggu kekuatan pasar domestik,” jelas Agus.
Pemerintah pun menargetkan peningkatan ekspor manufaktur dengan tetap menjaga perlindungan industri dalam negeri. Strategi ini diharapkan mampu memperluas pasar global sekaligus mempertahankan stabilitas ekonomi domestik.
Selain itu, pembahasan juga menyoroti pentingnya penguatan kebijakan insentif, termasuk untuk pengembangan kendaraan listrik. Insentif dinilai semakin relevan, tidak hanya dalam upaya menekan emisi, tetapi juga untuk mengurangi konsumsi bahan bakar minyak serta beban subsidi negara.
“Insentif kendaraan listrik harus berdampak ganda, yakni memperkuat industri dalam negeri sekaligus melindungi tenaga kerja kita,” tegasnya.
Melalui sinergi kebijakan ini, Kementerian Perindustrian menegaskan komitmennya untuk terus berkolaborasi dengan Kementerian Keuangan dan berbagai pemangku kepentingan. Tujuannya adalah menciptakan kebijakan yang adaptif dan responsif terhadap dinamika global, sekaligus meningkatkan daya saing industri manufaktur Indonesia di pasar internasional.









