Industrialisasi Didorong Jadi Mesin Pertumbuhan dan Lapangan Kerja

0
180
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita (Foto: Kemenperin)

(Vibizmedia – Nasional) Kementerian Perindustrian (Kemenperin) memperkuat agenda industrialisasi nasional untuk menjadikan sektor manufaktur sebagai mesin pertumbuhan ekonomi sekaligus pencipta lapangan kerja. Langkah ini merupakan respons atas arahan Presiden Prabowo Subianto dalam Pidato Presiden pada Sidang Tahunan MPR RI dan Sidang Bersama DPR RI-DPD RI 2026.

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menegaskan, investasi dan pertumbuhan ekonomi harus memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. Karena itu, industrialisasi diarahkan untuk menciptakan nilai tambah di dalam negeri, memperkuat kemandirian ekonomi, serta membuka kesempatan kerja seluas-luasnya.

Kinerja manufaktur menjadi modal penting. Pada triwulan II-2026, industri pengolahan nonmigas (IPNM) tumbuh 5,32 persen secara tahunan, melampaui pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 5,29 persen. Sektor industri pengolahan juga menyumbang 18,50 persen terhadap PDB dan menjadi sumber pertumbuhan terbesar dengan kontribusi 0,90 persen.

Untuk menjaga momentum tersebut, Kemenperin menjalankan Strategi Besar Industrialisasi Nasional (SBIN) yang mencakup penguatan struktur industri, percepatan hilirisasi, peningkatan produktivitas dan daya saing, perluasan pasar, serta penciptaan lapangan kerja berkualitas. Aktivitas manufaktur juga masih berada di zona ekspansif, tercermin dari IKBM 52,31, PMI Manufaktur Juli 2026 sebesar 50,2, dan IKI 53,10.

Agus menekankan, hilirisasi tidak boleh berhenti pada produk antara. Semakin panjang rantai nilai yang dibangun di Indonesia, semakin besar nilai tambah dan lapangan kerja yang tercipta. Pada Mei 2026, industri pengolahan menyerap 13,53 persen tenaga kerja nasional.

Di sisi lain, penguatan industri domestik diperlukan untuk mengurangi ketergantungan impor sekaligus meningkatkan ekspor. Nilai impor barang konsumsi tercatat meningkat 27,15 persen secara tahunan, sementara net ekspor pada triwulan II-2026 masih memberi andil negatif 0,78 persen terhadap pertumbuhan ekonomi.

Kemenperin juga mendorong industri nasional memanfaatkan perluasan perjanjian perdagangan untuk menembus rantai pasok global. Investasi yang masuk diharapkan membawa teknologi, inovasi, pengembangan SDM, serta keterlibatan industri domestik.

“Target kita bukan sekadar menjadi pasar. Indonesia harus menjadi basis produksi, basis inovasi, dan bagian penting dari rantai pasok dunia,” ujar Agus.

Menurutnya, industrialisasi pada akhirnya bukan sekadar membangun pabrik, melainkan menciptakan nilai tambah, memperkuat kemandirian, menguasai teknologi, membuka lapangan kerja, dan memastikan kekayaan nasional memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi masyarakat.