Furnitur Indonesia Kian Dilirik Eropa, ITPC Milan Genjot Peluang Ekspor

0
72
ITPC Milan dan Italian Chamber of Commerce for South East Asia (CCISEA) selenggarakan Post-Event Coffee Break Salone del Mobile 2026. (Foto: Humas Kemendag)

(Vibizmedia – Industry) Upaya memperluas jejak furnitur Indonesia di pasar Eropa terus diperkuat. Setelah tampil dalam ajang desain dunia Salone del Mobile 2026 dan Salone Satellite 2026 di Milan pada 21—26 April lalu, Kementerian Perdagangan RI melalui ITPC Milan bersama Italian Chamber of Commerce for South East Asia (CCISEA) kembali menggelar Post-Event Coffee Break di kantor ITPC Milan, Italia, pada 29 April 2026.

Kegiatan ini menjadi langkah lanjutan untuk menjaga antusiasme pasar sekaligus membuka peluang transaksi ekspor yang lebih konkret bagi produk furnitur Indonesia.

Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional Kemendag, Fajarini Puntodewi, menilai post-event tersebut penting untuk memastikan ketertarikan buyer selama pameran dapat berkembang menjadi kerja sama jangka panjang.

“Kami ingin menjaga momentum bisnis pascapameran sekaligus mendorong realisasi transaksi ekspor. Pertemuan ini juga menunjukkan kesiapan produk furnitur Indonesia memenuhi standar pasar global,” ujar Puntodewi.

Kepala ITPC Milan, Seno Pratomo, menjelaskan bahwa sejumlah produk furnitur unggulan yang sebelumnya menarik perhatian pengunjung kembali dipamerkan dalam kegiatan tersebut. Menurutnya, furnitur Indonesia kini tidak hanya unggul dari sisi estetika, tetapi juga membawa nilai inovasi dan keberlanjutan yang sesuai dengan tren global.

Beberapa jenama yang tampil antara lain Vivere, Bika Living x DuAnyam, serta Box Living. Sementara karya dari Mergrath Design, Zulyo Kumara Studio, dan Studio Banda turut memperlihatkan eksplorasi material inovatif, mulai dari rotan hingga biomaterial berbasis limbah kopi sebagai bagian dari praktik ekonomi sirkular.

Selain pameran produk, acara juga menghadirkan diskusi bertajuk “Beyond Making” yang mengulas filosofi di balik desain furnitur Indonesia. Diskusi menghadirkan perwakilan dari Indonesia Design District, Domisilium Studio, Mergrath Design, Zulyo Kumara Studio, dan Studio Banda.

Manajer Komunikasi Pemasaran Indonesia Design District, Adityo Ramadhan, menilai forum tersebut menjadi ruang penting untuk memperkenalkan filosofi furnitur Indonesia yang memadukan kemewahan dengan kearifan lokal.

Apresiasi juga datang dari Santi Alaysius yang menyebut kegiatan ini efektif memperkuat jejaring antarpelaku industri kreatif dan membuka peluang kolaborasi baru.

Dukungan turut disampaikan mitra asal Italia, Gregorio Magazzi. Ia mengaku terkesan dengan kualitas material produk Indonesia dan melihat potensi besar kolaborasi antara perusahaan, seniman, serta desainer kedua negara.

Tak hanya menghadirkan furnitur, para tamu juga diajak menikmati pengalaman budaya Indonesia melalui sajian kopi Wonogiri serta kudapan tradisional seperti klepon, wingko, dan sosis solo. Menurut Seno, pendekatan ini menjadi bagian dari diplomasi hospitality untuk memperkuat citra Indonesia di Eropa.

Pada kesempatan tersebut, ITPC Milan juga mempromosikan Trade Expo Indonesia (TEI) ke-41 dan mengundang buyer serta pelaku industri kreatif Italia datang langsung ke Indonesia guna menjajaki peluang bisnis dengan produsen nasional.