Airlangga Dorong Sinergi Pusat-Daerah, Kunci Capai Target Pertumbuhan Ekonomi 8 Persen

0
78
Foto: Kemenko Perekonomian

(Vibizmedia – Jakarta) Pemerintah terus memperkuat kolaborasi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan sektor jasa keuangan untuk menjaga laju pertumbuhan ekonomi nasional agar tetap inklusif dan berkelanjutan.

Di tengah ketidakpastian global, penguatan ekonomi daerah menjadi faktor krusial dalam memperkokoh ketahanan ekonomi nasional sekaligus mendorong pemerataan pertumbuhan antarwilayah.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menegaskan, target pertumbuhan ekonomi sebesar 8 persen hanya dapat dicapai jika daerah turut bergerak aktif. “Pertumbuhan nasional pada dasarnya merupakan akumulasi dari pertumbuhan daerah. Karena itu, penguatan daerah menjadi kunci,” ujarnya dalam Konferensi Nasional Pengembangan Ekonomi Daerah bertema *Akselerasi Pertumbuhan Ekonomi Daerah melalui Sinergi Kebijakan Lintas Sektor* di Jakarta, Senin (25/5/2026).

Ia juga menilai fundamental ekonomi Indonesia saat ini masih kuat, baik dari sisi korporasi maupun secara makro. Inflasi nasional tercatat terjaga di level 2,4 persen, sementara depresiasi rupiah berada di kisaran 2,6 persen—lebih stabil dibandingkan periode tekanan ekonomi sebelumnya.

Dalam upaya memperkuat ekonomi daerah, pemerintah terus mendorong peran UMKM sebagai tulang punggung perekonomian. Melalui program Kredit Usaha Rakyat (KUR) dengan alokasi sekitar Rp300 triliun, kapasitas UMKM diperkirakan meningkat hingga 34 persen, sekaligus berkontribusi terhadap kenaikan Pendapatan Asli Daerah (PAD) sebesar 18–27 persen. Hingga April 2026, realisasi penyaluran KUR telah mencapai sekitar Rp111 triliun melalui berbagai skema pembiayaan.

Selain itu, pemerintah juga mengakselerasi pengembangan ekonomi digital melalui sinergi dengan pemerintah daerah. Nilai ekonomi digital Indonesia saat ini diperkirakan mencapai USD150 miliar dan berpotensi melonjak hingga USD400 miliar pada 2030.

Airlangga menambahkan, jika integrasi ekonomi digital ASEAN berjalan optimal, nilai ekonomi digital kawasan bisa mencapai USD2 triliun, dengan potensi kontribusi Indonesia sekitar USD600 miliar.

Pada kesempatan yang sama, ia juga memaparkan perkembangan industri semikonduktor nasional. Pemerintah menargetkan pelatihan bagi 15 ribu talenta semikonduktor dalam tiga tahun ke depan. Tahap awal telah diikuti sekitar seribu peserta dari total 4.500 pendaftar.

Tak hanya fokus pada pengembangan sumber daya manusia, pemerintah juga mendorong daerah yang memiliki potensi silika untuk mengembangkan hilirisasi berbasis silika sebagai bagian dari penguatan ekosistem industri semikonduktor nasional.