ASEAN-Japan Forum Perkuat Kolaborasi Pengembangan SDM Industri di Tengah Transformasi Manufaktur

0
86
Foto: Kemenperin

(Vibizmedia – Jakarta) Pemerintah terus memperkuat transformasi sektor industri manufaktur nasional melalui pengembangan sumber daya manusia (SDM) yang kompeten, adaptif, dan berdaya saing global. Langkah ini sejalan dengan visi Making Indonesia 4.0 serta target pembangunan menuju Indonesia Emas 2045 yang menempatkan sektor manufaktur sebagai motor utama pertumbuhan ekonomi.

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menegaskan bahwa transformasi industri tidak hanya berfokus pada peningkatan kapasitas produksi, tetapi juga pada pembangunan ekosistem manufaktur yang terintegrasi, tangguh, dan berkelanjutan.

“Tantangan utama transformasi digital sektor manufaktur terletak pada kesiapan teknologi dan kualitas tenaga kerja. Oleh karena itu, penguatan SDM industri menjadi fondasi yang sangat penting,” ujar Menperin dalam keterangannya di Jakarta, Kamis (28/5).

Untuk menjawab tantangan tersebut, Kementerian Perindustrian melalui Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Industri (BPSDMI) secara aktif menyelenggarakan berbagai program pelatihan industri 4.0, baik bagi pelaku industri maupun lembaga pendidikan vokasi. Program ini dijalankan melalui kolaborasi strategis dengan berbagai pemangku kepentingan, baik dalam negeri maupun internasional.

Kepala BPSDMI Doddy Rahadi menyampaikan bahwa dunia industri saat ini membutuhkan tenaga kerja yang mampu memanfaatkan teknologi digital, memahami otomatisasi dan Internet of Things (IoT), mengelola data industri, meningkatkan efisiensi energi, serta mendukung agenda dekarbonisasi dan industri hijau.

“Indonesia memiliki potensi besar dengan jumlah penduduk usia produktif yang signifikan. Namun, potensi tersebut harus diimbangi dengan peningkatan kompetensi yang relevan dengan kebutuhan industri masa depan,” ujarnya.

Ia menambahkan, kolaborasi antara pemerintah, dunia usaha, institusi pendidikan, dan mitra internasional menjadi kunci dalam menciptakan SDM industri yang inovatif dan kompetitif secara global.

Sebagai bagian dari upaya tersebut, BPSDMI turut berpartisipasi dalam ASEAN-Japan Forum yang diselenggarakan di Jakarta pada Selasa (19/5). Forum ini menjadi wadah untuk memperkuat kerja sama antara pemerintah, pelaku industri, dan akademisi dalam pengembangan SDM industri di kawasan ASEAN.

Presiden Direktur Japan External Trade Organization (JETRO) Jakarta, Shinji Hirai, menyampaikan bahwa tantangan utama yang dihadapi saat ini adalah memenuhi kebutuhan industri terhadap tenaga kerja yang tidak hanya memiliki kemampuan teknis, tetapi juga keterampilan pemecahan masalah, adaptif terhadap perubahan, dan siap berkontribusi secara efektif di dunia kerja.

“Hal ini relevan dengan kondisi Indonesia yang memiliki pertumbuhan ekonomi kuat dan angkatan kerja yang muda serta dinamis,” ungkapnya.

Sementara itu, Kepala Pusat Pengembangan Pendidikan Vokasi Industri (PPPVI) Wulan Aprilianti Permatasari menilai ASEAN-Japan Forum menjadi ruang kolaborasi strategis untuk memperluas jejaring kerja sama sekaligus menghasilkan langkah konkret dalam pengembangan talenta industri nasional.

“Kami berharap dukungan mitra internasional dapat terus memperkuat daya saing SDM industri Indonesia melalui transformasi digital,” ujarnya.

Kemenperin bersama mitra internasional juga terus mengembangkan berbagai program peningkatan kapasitas SDM industri. Sejak 2022, kerja sama dengan Ministry of Economy, Trade and Industry (METI) Jepang dan AOTS telah difokuskan pada penguatan tenaga pengajar di pendidikan tinggi industri, termasuk penerapan metodologi 5S dan Kaizen untuk meningkatkan produktivitas dan kualitas kerja. Pada 2025, program ini diperluas dengan fokus pada Green Transformation (GX) dan Digital Transformation (DX).

Selain itu, BPSDMI bersama AOTS telah menyelenggarakan pelatihan LeMMI 4.0 bagi dosen dan mahasiswa di Politeknik STMI Jakarta sejak 2021 hingga 2026 dengan total peserta mencapai 110 orang. Pelatihan serupa juga diberikan kepada praktisi industri di PIDI 4.0 dengan jumlah peserta sebanyak 258 orang. Program pelatihan lainnya mencakup pengembangan kompetensi di bidang Big Data, Internet of Things, Cloud Computing, serta transformasi industri 4.0 pada tingkat manajerial.

Upaya tersebut diharapkan mampu menciptakan SDM industri yang unggul, adaptif terhadap perkembangan teknologi, serta mampu mendorong peningkatan daya saing industri nasional di tingkat global.