Kuda Kloning Mengubah Masa Depan Olahraga Berkuda

0
89
kuda kloning
Horse & Hound

(Vibimedia-Kolom) Selama beberapa generasi, para peternak kuda terbaik di dunia dengan cermat mengawinkan berbagai garis keturunan untuk mendapatkan temperamen, kekuatan, struktur tubuh, dan kemampuan atletik yang ideal. Setiap anak kuda yang lahir membawa harapan untuk melampaui prestasi kedua induknya yang dipilih secara khusus. Proses ini mungkin bukan seleksi alam sepenuhnya, tetapi tidak jauh berbeda.

Kini, dunia olahraga berkuda tampaknya menghadapi titik baru dalam perkembangannya, yaitu hadirnya replika genetik yang identik dari kuda dan poni yang telah terbukti sukses. Dengan kata lain, kloning mulai menjadi bagian dari lanskap baru olahraga berkuda modern.

Sebagian kalangan khawatir bahwa jika terlalu banyak orang memilih menggunakan kuda hasil kloning, kemampuan untuk terus menghasilkan kuda yang lebih unggul melalui pemuliaan alami serta berbagai kebetulan menguntungkan yang selama ini mendorong kemajuan olahraga berkuda bisa berkurang atau bahkan hilang.

Joris de Brabander, salah satu peternak kuda lompat rintangan paling sukses di Eropa, mengatakan bahwa ia tidak melihat kuda hasil kloning membawa sesuatu yang baru dalam dunia pembiakan. Menurutnya, populasi kuda di dunia sudah lebih dari cukup sehingga tidak ada kebutuhan mendesak untuk memperbanyak penggunaan teknologi kloning.

Pemain polo Adolfo Cambiaso, yang oleh banyak pengamat dianggap sebagai pemain polo terbaik sepanjang masa, pada dasarnya menciptakan industri kloning kuda olahraga ketika ia membuat sejumlah salinan genetik dari poni-poni terbaiknya sejak awal tahun 2000-an. Kuda-kuda hasil kloning tersebut kemudian membantunya memenangkan berbagai turnamen bergengsi.

Pada 2010, seekor klon dari kuda betina juaranya, Cuartetera, terjual dalam lelang dengan harga 800.000 dolar AS, angka yang sangat tinggi untuk seekor poni polo pada masa itu. Cuartetera sendiri dikenal luas sebagai “Messi dunia polo” berkat kombinasi kecepatan, kelincahan, dan kecerdasan yang dimilikinya.

Kini praktik kloning semakin populer di berbagai disiplin olahraga berkuda lainnya. Pada akhir 2024, setelah bagian dressage dalam kejuaraan dunia eventing untuk kuda berusia tujuh tahun selesai digelar, Chilli Morning IV berada dalam posisi imbang di peringkat kedua bersama seekor kuda lain yang memiliki kelebihan dan kelemahan yang sangat mirip. Kuda tersebut bernama Chilli Morning II.Kemiripan itu bukanlah sebuah kebetulan. Kedua kuda tersebut merupakan klon dari Chilli Morning, seekor kuda eventing juara yang telah meninggal dunia.

Peraih medali emas Olimpiade Julia Krajewski, yang menunggangi Chilli Morning II dan pernah berkompetisi melawan Chilli Morning asli, mengatakan bahwa para klon tersebut memiliki kemiripan yang luar biasa. Menurutnya, mereka tidak hanya berbagi karakteristik fisik dan kemampuan atletik yang sama, tetapi juga berbagai kebiasaan unik yang serupa.

Krajewski menjelaskan bahwa seluruh klon Chilli Morning tampaknya tidak menyukai rintangan sunken roads, yaitu kombinasi rintangan lintas alam yang mengharuskan kuda melompat turun, menyeimbangkan tubuh, lalu melompat naik kembali.Ia juga menilai bahwa pada akhirnya kuda hasil kloning tetaplah seekor kuda biasa yang tidak menyadari bahwa dirinya merupakan hasil dari teknologi reproduksi modern.

Secara global, jumlah kuda hasil kloning yang lahir setiap tahun masih sangat kecil dibandingkan kuda yang dikembangbiakkan secara tradisional. Namun demikian, kuda-kuda kloning beserta keturunannya mulai muncul di level tertinggi berbagai cabang olahraga berkuda.

Kloning merupakan praktik yang kontroversial, terutama dalam olahraga kuda. Teknologi ini masih dilarang dalam balap kuda thoroughbred, sementara di cabang olahraga lainnya para pelaku industri masih terpecah dalam menilai manfaat dan risikonya. Sebagian pihak berpendapat bahwa kloning menciptakan ekspektasi yang tidak realistis dan berpotensi menghambat kemajuan dalam pemuliaan kuda.

Javi López Frías, ahli etika olahraga dan profesor di Departemen Kinesiologi dan Ilmu Kesehatan Utah State University, berpendapat bahwa apabila setiap kuda yang dimiliki merupakan kuda terbaik, maka unsur strategi dalam olahraga tersebut akan berkurang. Menurutnya, kloning membuat sesuatu yang sebelumnya sulit menjadi jauh lebih mudah dicapai.

Meskipun menunggangi dan berkompetisi menggunakan kuda kloning, Krajewski mengaku tidak akan mempertimbangkan untuk mengkloning kuda betina peraih medali emas Olimpiadenya, Amande de B’Neville. Ia khawatir langkah tersebut akan menciptakan standar performa yang hampir mustahil dipenuhi oleh sang klon.Menurutnya, tekanan yang muncul dari ekspektasi publik terhadap klon seekor juara Olimpiade akan terlalu besar, baik bagi penunggang maupun bagi kuda itu sendiri.

Fédération Equestre Internationale (FEI), badan pengatur olahraga berkuda Olimpiade, sempat melarang kuda kloning berkompetisi pada 2007. Namun keputusan tersebut dibatalkan pada 2012 setelah organisasi itu menyimpulkan bahwa kloning tidak memberikan keuntungan yang tidak adil dalam kompetisi.FEI menilai keberhasilan seekor kuda juara ditentukan oleh banyak faktor selain genetika, termasuk silsilah keluarga, metode pelatihan, kualitas penunggang, jenis makanan yang dikonsumsi, hingga perlengkapan yang digunakan.

Meski demikian, perdebatan mengenai apakah kloning merupakan masa depan yang tepat bagi olahraga berkuda semakin menguat, terutama karena teknologi tersebut kini berkembang menuju penyuntingan gen.Perusahaan kloning kuda Kheiron Biotech yang berbasis di Buenos Aires menghasilkan sekitar 400 kuda kloning selama musim yang berakhir pada Februari lalu. Sebagian besar merupakan poni polo yang ditujukan untuk kebutuhan olahraga profesional.

Pada 2024, Kheiron juga berhasil menciptakan kuda pertama di dunia yang telah melalui penyuntingan gen menggunakan teknologi CRISPR. Kuda-kuda tersebut merupakan klon dari kuda betina legendaris dunia polo, Polo Pureza, dengan modifikasi pada gen yang mengatur perkembangan otot.Gabriel Vichera, salah satu pendiri sekaligus kepala ilmuwan Kheiron, menjelaskan bahwa tujuan modifikasi tersebut adalah agar kuda itu memperoleh karakteristik layaknya pelari cepat tanpa kehilangan berbagai keunggulan lain yang sudah dimilikinya.

Biaya untuk menghasilkan satu kuda kloning melalui Kheiron biasanya sekitar 40.000 dolar AS, meskipun perusahaan menyediakan potongan harga bagi pelanggan yang melakukan pemesanan dalam jumlah besar.Meski demikian, kuda kloning tetap dapat berkembang biak secara normal. Dengan demikian, garis keturunan yang sebelumnya mungkin telah hilang dapat dihidupkan kembali dan bahkan ditingkatkan kualitasnya melalui proses pembiakan berikutnya.

Hal itu menunjukkan bahwa kloning kemungkinan bukanlah akhir dari evolusi pencarian kuda sempurna. Dalam beberapa kasus, teknologi ini bahkan dapat mempercepat proses tersebut apabila para pemilik mampu melihat manfaat jangka panjangnya, bukan sekadar keuntungan sesaat dari menciptakan replika identik.

Laura Chapot, atlet lompat rintangan tingkat elite Amerika Serikat, mengatakan bahwa sebagian orang masih memandang kuda kloning dengan keraguan. Ayahnya, Frank Chapot, yang enam kali tampil di Olimpiade, merupakan peternak kuda legendaris Gem Twist, peraih medali perak individu dan beregu pada Olimpiade Seoul 1988.

Gem Twist telah dikebiri ketika masih muda, sebuah praktik yang umum dilakukan pada kuda kompetisi karena biasanya membuat mereka lebih tenang, aman, dan mudah dikendalikan. Namun melihat karier Gem Twist yang luar biasa, Frank Chapot ingin tetap melanjutkan garis genetik kuda tersebut. Klon pertama Gem Twist yang diberi nama Gemini lahir pada 2008.

Sejak saat itu, Gemini digunakan sebagai pejantan pembiak dan menghasilkan keturunan yang dinilai memiliki kualitas yang sangat menjanjikan.Chapot mengatakan bahwa Gemini mewariskan banyak karakteristik yang selama ini dicari para peternak. Ia menambahkan bahwa pembiakan tradisional terkadang terasa seperti sebuah perjudian karena hasil akhirnya tidak selalu dapat diprediksi secara pasti.