Belajar Fly Fishing di Tempat Kelahirannya

0
55
America dry fly fishing

(Vibizmedia-Kolom) Ada sebuah kisah menarik yang diceritakan oleh seseorang setelah ia pulang dari Pegunungan Catskill di Negara Bagian New York. Perjalanannya bermula dari keinginan sederhana untuk mempelajari fly fishing, teknik memancing yang selama ini hanya ia kagumi dari kejauhan. Namun, alih-alih sekadar mencari tempat untuk belajar, ia sengaja memilih Catskills karena kawasan itu dipercaya sebagai tempat lahirnya American dry fly fishing, sebuah tradisi yang telah membentuk budaya memancing di Amerika Serikat selama lebih dari satu abad.

Ia datang pada akhir Mei, ketika Sungai Beaverkill sedang memasuki salah satu momen paling dinantikan para pemancing. Saat itu, mayfly yang dikenal sebagai green drake bermunculan dari permukaan air dalam jumlah besar. Fenomena tersebut segera mengundang ikan-ikan trout naik ke permukaan untuk menyambar serangga yang mengapung. Di sepanjang sungai terlihat para pemancing berdiri hingga sebatas pinggang di dalam air, melemparkan tali pancing dengan gerakan yang anggun, berusaha membuat umpan tiruan mereka tampak seperti serangga sungguhan.

Meski pemandangan itu terlihat begitu tenang, pengalaman belajar yang ia alami ternyata tidak semudah yang dibayangkan. Pada sesi latihan pertamanya, tali pancing beberapa kali tersangkut di dahan pohon hemlock yang tumbuh di tepian sungai. Berkali-kali instruktur harus membantu melepaskan tali yang kusut sebelum latihan dapat dilanjutkan. Setiap gerakan mengangkat joran, memindahkan beban tali, hingga sentakan kecil di akhir lemparan harus dilakukan dengan sangat presisi. Lemparannya masih sering jatuh keras ke permukaan air sehingga jauh dari kesan alami yang dibutuhkan untuk memperdaya ikan.

Keinginan untuk belajar sebenarnya muncul dari rasa penasaran yang telah lama dipendam. Selama bertahun-tahun ia sering melihat orang-orang berdiri sendirian di sungai-sungai yang jernih, mengayunkan tali pancing dengan pola-pola yang indah. Pemandangan itu selalu terlihat damai, seolah memancing bukan sekadar aktivitas menangkap ikan, melainkan cara menikmati alam dan menghabiskan waktu bersama pikiran sendiri.

Alasan terbesar memilih Catskills ternyata bukan karena banyaknya sungai trout, meskipun wilayah tersebut memang dikenal sebagai Land of Little Rivers. Yang lebih menarik baginya adalah sejarah kawasan itu. Pada akhir abad ke-19, para pemancing di Catskills mulai mengembangkan teknik fly fishing asal Inggris agar lebih sesuai dengan kondisi sungai-sungai setempat. Mereka menciptakan berbagai jenis dry fly yang mengapung di permukaan air dan lebih menyerupai serangga lokal dibandingkan umpan-umpan sebelumnya. Dari sinilah Catskills kemudian dikenal sebagai tempat lahirnya teknik American dry fly fishing.

Sesampainya di Livingston Manor, sebuah dusun kecil sekitar 120 mil di utara New York City, hampir semua hal yang ia lihat berkaitan dengan ikan. Papan penunjuk jalan berbentuk ikan menghiasi sudut-sudut kota, toko-toko memasang pengumuman mengenai parade trout yang akan datang, dan rompi memancing tampak menjadi pakaian sehari-hari warga setempat. Bahkan menu makan siangnya pun berupa trout melt.

Ia juga sempat mengunjungi Dette Flies, toko perlengkapan memancing yang telah berdiri hampir satu abad. Di sana dipamerkan berbagai umpan tiruan dengan nama-nama unik seperti Green Ghost, Mickey Finn, dan Pink Lady. Setiap umpan dirancang menyerupai serangga tertentu pada fase kehidupan yang berbeda, menunjukkan bahwa fly fishing bukan hanya soal melempar tali ke air, tetapi juga memahami kehidupan serangga dan perilaku ikan secara mendalam.

Dari toko itu, ia melanjutkan perjalanan ke Catskill Fly Fishing Center and Museum. Di museum tersebut ia mempelajari sejarah para tokoh yang berjasa mengembangkan olahraga ini, termasuk Theodore Gordon yang dikenal luas sebagai pelopor American dry fly fishing. Gordon menciptakan umpan Quill Gordon yang meniru salah satu mayfly pertama yang muncul setiap musim semi dan menjadi tonggak penting dalam perkembangan teknik memancing modern.

Pengalaman belajarnya kemudian berlanjut di Wulff School of Fly Fishing, sekolah yang didirikan Joan Salvato Wulff bersama suaminya, Lee Wulff. Joan merupakan salah satu tokoh paling dihormati dalam dunia fly casting, sementara metode pengajarannya masih digunakan hingga sekarang meskipun sekolah tersebut telah berganti kepemilikan.

Program yang diikutinya berlangsung selama dua hari. Para peserta berasal dari berbagai latar belakang, mulai dari pemilik rumah musim panas di sekitar Catskills hingga warga kota yang sekadar ingin menikmati akhir pekan di alam terbuka. Materi yang diberikan tidak hanya membahas teknik melempar tali, tetapi juga fisika joran, karakteristik arus sungai, hingga pengetahuan mengenai berbagai jenis serangga yang menjadi makanan trout.

Latihan dilakukan secara bertahap. Di dalam ruang kelas, para peserta hanya menggunakan gagang joran untuk mempelajari gerakan dasar. Setelah itu mereka berlatih di kolam menggunakan joran lengkap. Ia mengaku bagian tersulit justru menghilangkan kebiasaan menggunakan tenaga berlebihan. Dalam fly fishing, gerakan kecil yang tepat jauh lebih penting daripada kekuatan. Karena pergelangan tangannya terlalu sering bergerak secara berlebihan, instruktur bahkan memasangkan penyangga kulit khusus agar posisinya tetap stabil selama latihan.

Menjelang akhir pelatihan, kemampuan melemparnya mulai meningkat meskipun belum konsisten. Ia memperkirakan hanya sekitar empat dari setiap sepuluh lemparan yang benar-benar sesuai harapan.

Setelah dinyatakan menyelesaikan pelatihan, ia akhirnya turun langsung ke Sungai Beaverkill bersama seorang instruktur sekaligus pemandu. Kali ini pita latihan diganti dengan umpan tiruan sungguhan. Mereka memasuki bagian sungai yang dikelola klub-klub memancing tua di Catskills, kawasan yang telah digunakan sejak masa Theodore Gordon.

Selama perjalanan menyusuri sungai, sang pemandu banyak mengajarkan cara membaca arus. Ia menjelaskan bahwa trout cenderung menyukai titik-titik pertemuan arus yang berbeda karena lokasi tersebut membawa makanan lebih banyak. Pengetahuan sederhana itu ternyata jauh lebih penting daripada sekadar kemampuan melempar tali.

Butuh waktu sekitar dua jam, beberapa kali mengganti umpan, dan berpindah ke beberapa lokasi sebelum akhirnya ia berhasil menangkap trout pertamanya. Momen itu menjadi pengalaman yang paling membekas. Bukan karena ukuran ikannya, melainkan karena akhirnya ia benar-benar menyaksikan seekor trout tertipu oleh umpan tiruan yang ia lemparkan. Setelah kail dilepaskan dengan hati-hati, ikan tersebut kembali dilepas ke sungai.

Perjalanannya belum berakhir. Dari Beaverkill ia melanjutkan perjalanan sekitar 50 mil untuk bertemu seorang seniman sekaligus penulis buku tentang fly fishing yang juga mengelola Spruceton Inn di tepi West Kill.

Bersamanya, ia menyusuri jalur setapak di sepanjang sungai yang dikelilingi pepohonan lebat. Menurut sang seniman, banyak wisatawan hanya menikmati jalur pendakian utama, padahal dengan berjalan sedikit lebih jauh ke arah sungai seseorang dapat melihat sisi hutan yang hampir tidak pernah disaksikan orang lain.

Di West Kill, ia berhasil menangkap brook trout pertamanya. Ikan kecil berwarna hijau dan jingga cerah itu ternyata menjadi salah satu objek favorit sang seniman dalam karya-karya lukisnya.

Menjelang sore mereka berpindah ke Sungai Schoharie untuk mencari brown trout. Sambil menikmati suasana tepi sungai, mereka terus mengamati riak-riak kecil di permukaan air yang menandakan keberadaan ikan. Meski kali itu ia tidak berhasil mendapatkan tangkapan tambahan, sang seniman justru lebih tertarik melihat bagaimana kemampuan murid barunya membaca arah arus mulai berkembang.

Menjelang matahari terbenam, ia mampu menunjukkan titik yang menurutnya menjadi jalur terbaik bagi umpan untuk mengikuti arus menuju lokasi tempat seekor brown trout naik ke permukaan. Penilaiannya dianggap tepat. Bagi sang seniman, kemampuan memahami perilaku sungai merupakan pencapaian yang jauh lebih penting daripada sekadar berhasil menangkap satu ikan lagi. Sebelum mereka meninggalkan sungai, Weinberg bahkan mempersilakan tamunya berjalan paling depan memasuki air, sebagai tanda bahwa pelajaran sesungguhnya telah mulai dipahami.