(Vibizmedia – Jakarta) Di tengah ketidakpastian global yang dipicu oleh dinamika geopolitik, perubahan iklim, dan pesatnya perkembangan teknologi, khususnya kecerdasan artifisial (AI), Indonesia terus memperkuat fondasi ekonominya melalui penguatan kedaulatan pangan, kedaulatan energi, serta percepatan transformasi digital.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menegaskan bahwa ke depan tantangan pada rantai pasok dan ketenagakerjaan akan semakin kompleks. Namun, di bawah arahan Presiden Prabowo Subianto, Indonesia mendorong adopsi teknologi yang selaras dengan kemandirian sumber daya nasional dan roadmap transformasi digital yang terarah. Hal tersebut disampaikan dalam acara Kadin Indonesia Monthly Economic Diplomatic Breakfast bertema “Beyond Uncertainty: Building Indonesia’s Next Economy” di Jakarta, Jumat (10/7/2026).
Indonesia memiliki keunggulan berupa sumber daya mineral strategis dan bonus demografi dengan generasi muda yang melek teknologi. Pemerintah juga terus membangun infrastruktur dan ekosistem pendukung, termasuk untuk pengembangan industri semikonduktor serta pusat data berbasis AI. Indonesia bahkan diproyeksikan menjadi pasar AI terbesar keempat di Asia, dengan nilai mencapai sekitar USD70 miliar.
Untuk mendukung hal tersebut, infrastruktur data center terus diperkuat. Saat ini terdapat 182 data center di Indonesia, dengan konsentrasi utama di Jakarta dan Batam. Kebutuhan energi yang besar untuk mendukung ekonomi digital direspons melalui pengembangan energi terbarukan, dengan target pembangunan kapasitas hingga 100 GW dalam beberapa dekade mendatang.
Selain itu, penguatan konektivitas digital juga terus dilakukan melalui pengembangan jaringan fiber optik dan landing point internasional, termasuk di Batam dan Bitung, yang membuka peluang besar bagi pengembangan pusat data dan konektivitas global.
Di sektor energi, pemerintah telah meluncurkan program biodiesel B50 sebagai upaya menekan emisi karbon di sektor transportasi. Program ini tidak hanya berdampak pada pengurangan emisi hingga sekitar 44 juta ton per tahun, tetapi juga memberikan penghematan devisa yang signifikan.
Sementara itu, peluang besar juga terbuka di industri semikonduktor, seiring proyeksi permintaan global yang diperkirakan mencapai USD1 triliun pada tahun 2030. Indonesia menargetkan penguatan kemandirian melalui pengembangan desain chip serta kemampuan perakitan, pengujian, dan pengemasan (ATP) di dalam negeri.
Dari sisi iklim investasi, Indonesia dinilai sebagai salah satu negara dengan lingkungan bisnis paling stabil dan menguntungkan di kawasan ASEAN berdasarkan survei JETRO 2025. Pemerintah pun terus membuka peluang investasi melalui berbagai perjanjian internasional, termasuk penyelesaian CEPA, proses aksesi OECD, serta prioritas keanggotaan dalam CPTPP.
Airlangga juga menekankan pentingnya kolaborasi global dalam menghadapi ketidakpastian ekonomi. Pemerintah mendorong realisasi investasi dari berbagai kesepakatan internasional, serta mengajak seluruh pihak memanfaatkan teknologi, energi hijau, dan kerja sama ekonomi untuk menciptakan pertumbuhan yang inklusif dan berkelanjutan.
Di sisi lain, Ketua Umum Kadin Indonesia Anindya N. Bakrie menegaskan bahwa diplomasi ekonomi kini harus terintegrasi dengan dunia usaha. Menurutnya, kerja sama antarnegara harus diimplementasikan dalam bentuk nyata seperti perdagangan, investasi, dan penciptaan lapangan kerja. Kadin Indonesia siap berperan sebagai jembatan antara pemerintah, pelaku usaha, dan mitra internasional.
Acara tersebut turut dihadiri oleh para duta besar negara sahabat, pejabat Kemenko Perekonomian, jajaran pengurus Kadin Indonesia, serta perwakilan dunia usaha dari berbagai daerah.









