
(Vibizmedia – Jakarta) Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Kemendukbangga) mengedepankan pendekatan menyeluruh sepanjang siklus kehidupan sebagai strategi utama untuk menekan angka kematian ibu dan anak di Indonesia. Upaya ini dimulai sejak masa remaja hingga periode krusial 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK), yang dinilai sangat menentukan kualitas kesehatan ibu dan anak.
Wakil Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga, Isyana Bagoes Oka, menjelaskan bahwa meskipun tren angka kematian ibu menunjukkan penurunan, langkah penguatan tetap harus dilakukan secara konsisten. Ia menekankan bahwa pembangunan sumber daya manusia tidak bisa dilepaskan dari peran keluarga sebagai fondasi utama.
Menurutnya, upaya menekan angka kematian ibu dan anak tidak cukup hanya mengandalkan layanan pengobatan. Pendekatan promotif dan preventif justru harus diperkuat melalui edukasi, pendampingan, serta keterlibatan aktif masyarakat.
Pendampingan tersebut dimulai sejak remaja, antara lain melalui edukasi pencegahan pernikahan dini, pembekalan kesiapan berkeluarga, hingga program seperti Generasi Berencana (GenRe), Pusat Informasi dan Konseling Remaja (PIK-R), serta Bina Keluarga Remaja (BKR). Program-program ini kini telah menjangkau puluhan ribu kelompok di berbagai daerah.
Memasuki fase calon pengantin, intervensi dilanjutkan dengan skrining kesehatan, edukasi gizi, pencegahan anemia, serta konseling kesiapan menikah dan hamil melalui platform Elektronik Siap Nikah Siap Hamil (Elsimil).
Pendekatan berlanjut pada pasangan usia subur dengan penekanan pada perencanaan kehamilan yang sehat, pencegahan kehamilan berisiko, serta dorongan untuk memanfaatkan layanan kesehatan seperti Posyandu dan Puskesmas.
Pada fase 1.000 HPK, pendampingan semakin diperkuat melalui pemantauan tumbuh kembang anak, edukasi pola asuh, serta kerja sama erat antara Tim Pendamping Keluarga dengan kader Posyandu dan tenaga kesehatan di lapangan. Saat ini, puluhan ribu kelompok Bina Keluarga Balita turut berperan dalam mendukung upaya tersebut di seluruh Indonesia.
Isyana berharap, melalui kolaborasi berbagai pihak dalam Kerangka Kerja Nasional Penurunan Kematian Ibu dan Anak, upaya ini dapat semakin mempercepat peningkatan kualitas sumber daya manusia, sekaligus mendukung terwujudnya visi Indonesia Emas 2045.








