Di Era Algoritma, Jurnalisme Jadi Kunci Melawan Hoaks dan Deepfake

0
62
Wakil Menteri Komunikasi dan Digital Nezar Patria menghadiri Radar Surabaya Awards 2026 di Surabaya, Kamis (30/7/2026) (Foto: Kemkomdigi)

(Vibizmedia – Surabaya) Wakil Menteri Komunikasi dan Digital Nezar Patria menilai persaingan di ruang digital kini tidak hanya soal penyebaran informasi, tetapi juga pembentukan persepsi publik.

Di tengah dominasi algoritma platform dan kemajuan kecerdasan artifisial yang mampu menghasilkan konten secara instan, ia menegaskan jurnalisme profesional tetap berperan sebagai penjaga fakta dan kepercayaan publik. Karena itu, media arus utama dituntut memperkuat fungsi jurnalistik dengan mengedepankan akurasi, verifikasi, etika, dan kredibilitas.

Menurut Nezar, di tengah banjir konten digital, jurnalisme harus hadir sebagai penjernih informasi yang dapat dipercaya. Ia menekankan pentingnya momentum bagi jurnalisme untuk kembali merebut perhatian publik di tengah sistem algoritma yang berorientasi pada atensi.

Ia juga menyoroti perkembangan AI yang semakin meningkatkan tantangan bagi media, termasuk kemunculan konten manipulatif seperti deepfake yang berpotensi mempercepat penyebaran disinformasi dan menyulitkan masyarakat dalam membedakan fakta.

Nezar menjelaskan, tantangan ruang digital saat ini bukan hanya banyaknya informasi, tetapi juga cara algoritma membentuk persepsi melalui fenomena echo chamber dan filter bubble, yang membuat publik cenderung menerima informasi seragam tanpa ruang untuk menguji kebenarannya.

Dalam konteks tersebut, ia menilai media lokal memiliki peran strategis dalam menjaga kualitas informasi. Kedekatan dengan masyarakat memungkinkan media lokal menghadirkan fakta yang lebih autentik sekaligus mendeteksi isu sosial, ekonomi, dan pelayanan publik sejak dini.

Ia menambahkan, kepercayaan publik menjadi modal utama media dalam memperkuat ekosistem informasi yang sehat. Di tengah derasnya arus konten digital, media yang konsisten menjalankan kode etik jurnalistik tetap menjadi rujukan masyarakat.

Hal ini sejalan dengan kebijakan Kementerian Komunikasi dan Digital dalam mewujudkan ruang digital yang aman, tepercaya, dan berkualitas melalui penguatan tata kelola, penanganan disinformasi, peningkatan literasi digital, serta pemanfaatan AI secara bertanggung jawab.

Nezar pun mengajak insan pers untuk terus menjaga kualitas jurnalisme di tengah disrupsi teknologi. Menurutnya, ketika algoritma berlomba merebut perhatian, kepercayaan hanya dapat dibangun melalui kerja jurnalistik yang menjunjung tinggi fakta, akurasi, dan integritas.