BPS: Ekspor Sawit dan Turunannya Tumbuh 7,32 Persen

0
58
Foto: Kementerian pertanian

(Vibizmedia – Jakarta) Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat kinerja ekspor sektor pertanian Indonesia terus menunjukkan tren positif. Salah satu pendorong utama berasal dari komoditas minyak sawit mentah (Crude Palm Oil/CPO) beserta produk turunannya yang mencatat pertumbuhan signifikan. Sepanjang Januari–Juni 2026, nilai ekspor CPO dan turunannya meningkat 7,32 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, seiring penguatan harga di pasar global.

Pada Juni 2026, nilai ekspor sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan mencapai US$485,8 juta. Secara kumulatif selama semester I 2026, nilainya tercatat sebesar US$2,59 miliar atau naik 1,84 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, menyampaikan bahwa kenaikan harga CPO di pasar internasional menjadi faktor penting yang mendorong peningkatan nilai ekspor Indonesia. Menurutnya, tren positif tersebut memperkuat kontribusi komoditas sawit dalam perdagangan nasional.

Secara keseluruhan, total ekspor Indonesia pada Januari–Juni 2026 mencapai US$140,81 miliar, meningkat 4,13 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Ekspor nonmigas tumbuh lebih tinggi, yakni 4,90 persen menjadi US$134,58 miliar, dengan kelompok lemak dan minyak hewani atau nabati (HS15), termasuk CPO, menjadi salah satu kontributor utama.

Pada Juni 2026 saja, nilai ekspor Indonesia mencapai US$25,46 miliar atau naik 8,84 persen secara tahunan. Khusus kelompok HS15, nilai ekspornya tumbuh 10,45 persen, mencerminkan dampak positif kenaikan harga CPO di pasar global.

Data BPS juga menunjukkan bahwa komoditas sawit tetap menjadi motor utama ekspor Indonesia. Bersama komoditas besi dan baja serta batu bara, CPO dan turunannya menyumbang sekitar 28,30 persen terhadap total ekspor nonmigas selama semester I 2026. Di antara ketiganya, CPO mencatat pertumbuhan tertinggi sebesar 7,32 persen, sementara besi dan baja mengalami penurunan tipis dan batu bara tumbuh terbatas.

Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, menegaskan bahwa penguatan ekspor komoditas pertanian perlu terus didorong melalui peningkatan nilai tambah dan hilirisasi. Menurutnya, sebagai produsen sawit terbesar di dunia, Indonesia memiliki peluang besar untuk meningkatkan devisa melalui pengembangan industri hilir.

Ia menambahkan bahwa hilirisasi CPO merupakan langkah strategis agar ekspor tidak hanya meningkat dari sisi volume dan nilai, tetapi juga memberikan manfaat ekonomi yang lebih luas, termasuk bagi kesejahteraan petani dan daya saing nasional.