Karhutla Dominasi Bencana Nasional, BNPB Catat Kebakaran hingga Banjir di Sejumlah Daerah

0
87
Pemadaman api
aya pemadaman api dan pendinginan dilakukan oleh BPBD Kabupaten Cilacap bersama petugas gabungan di TPA Desa Malabar, Kecamatan Wanareja, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah pada Selasa, 4 Agustus 2026. FOTO: BNPB

(Vibizmedia-Nasional) Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali menjadi bencana yang paling mendominasi di berbagai wilayah Indonesia seiring menguatnya musim kemarau. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat rentetan kejadian bencana selama periode Selasa (4/8) pukul 07.00 WIB hingga Rabu (5/8) pukul 07.00 WIB, mulai dari karhutla, banjir, cuaca ekstrem, kekeringan, hingga Kejadian Luar Biasa (KLB) demam berdarah dengue (DBD).

Karhutla terjadi di sejumlah provinsi seperti Sulawesi Utara, Kalimantan Timur, Jawa Tengah, hingga Jawa Timur, sementara banjir dan angin kencang masih melanda beberapa daerah di Sumatera.

Salah satu kejadian terbesar terjadi di Kabupaten Minahasa Tenggara, Sulawesi Utara, di mana kebakaran melanda kawasan Hutan Lindung Gunung Soputan sejak Senin (3/8). Hingga Selasa (4/8), api masih membakar sejumlah titik dengan luas terdampak diperkirakan mencapai 300 hektare. Kondisi angin kencang mempercepat penyebaran api sehingga BPBD bersama tim gabungan terus melakukan pemadaman dan asesmen.

Di Kalimantan Timur, kebakaran lahan terjadi di Kabupaten Berau, Kota Bontang, dan Kabupaten Paser. Total lebih dari 18 hektare lahan terdampak kebakaran. Sebagian besar api berhasil dipadamkan melalui operasi terpadu yang melibatkan BPBD, Manggala Agni, Dinas Pemadam Kebakaran, Kesatuan Pengelolaan Hutan Produksi (KPHP), serta unsur relawan.

Sementara itu, Jawa Tengah menjadi salah satu wilayah dengan jumlah kejadian karhutla terbanyak. Kebakaran tercatat terjadi di Kabupaten Cilacap, Klaten, Sukoharjo, dan Kudus.

Di Cilacap, kebakaran terjadi di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Desa Malabar akibat akumulasi gas metana dari pembusukan sampah yang tersulut api. Di Klaten, sekitar 6,8 hektare lahan persawahan terbakar akibat dugaan pembakaran sampah yang tidak terkendali.

Adapun di Sukoharjo, dua kejadian kebakaran dalam dua hari berturut-turut menghanguskan sekitar 13 hektare lahan di Kecamatan Bulu dan Bendosari. Sementara di Kudus, kebakaran sempat mengancam permukiman warga dan sebuah SPBU sebelum akhirnya berhasil dipadamkan.

Di Jawa Timur, kebakaran hutan juga melanda kawasan Gunung Bromo di Kabupaten Probolinggo. Sekitar 10 hektare padang savana, cemara gunung, akasia, dan kaliandra terbakar. Hingga Selasa (4/8), sebagian besar titik api berhasil dikendalikan meski masih terdapat kobaran api di kawasan Blok Bantengan menuju Pusung Jantur.

Selain karhutla, BNPB juga mencatat bencana hidrometeorologi di sejumlah daerah.

Di Kabupaten Serdang Bedagai, Sumatera Utara, angin kencang merusak 11 rumah yang tersebar di enam kecamatan.

Sementara itu, banjir akibat hujan lebat melanda Kabupaten Nias Barat, merendam sejumlah desa, merusak lahan pertanian dan akses jalan, serta menyebabkan satu orang meninggal dunia setelah tertimpa pohon kelapa.

Banjir juga terjadi di Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat, setelah Sungai Batang Patai meluap dan merendam permukiman di Nagari Tambangan. Sebanyak 17 rumah dan satu fasilitas pendidikan terdampak sebelum banjir akhirnya surut.

Memasuki puncak musim kemarau, ancaman kekeringan juga mulai dirasakan di sejumlah wilayah Jawa Tengah.

Di Kabupaten Jepara, sebanyak 1.260 kepala keluarga mengalami krisis air bersih akibat menurunnya debit sumber air. BPBD telah mendistribusikan bantuan air bersih kepada warga terdampak.

Kondisi serupa terjadi di Kabupaten Semarang, di mana kekeringan berdampak pada 646 kepala keluarga atau 1.308 jiwa yang tersebar di tujuh desa. Pemerintah daerah terus melakukan distribusi air bersih sebagai langkah penanganan darurat.

Di luar bencana alam, BNPB juga mencatat Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatera Utara, masih berstatus Kejadian Luar Biasa (KLB) Demam Berdarah Dengue (DBD).

Sejak Januari hingga Juli 2026, tercatat 454 kasus DBD dengan lima korban meninggal dunia yang tersebar di 11 kecamatan. Pemerintah daerah bersama Dinas Kesehatan terus melakukan pemberantasan sarang nyamuk, fogging, serta menggalakkan program Satu Rumah Satu Jumantik guna menekan penyebaran penyakit.

BNPB mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan menghadapi berbagai potensi bencana selama musim kemarau.

Masyarakat diminta tidak membuka lahan dengan cara membakar, tidak membuang puntung rokok sembarangan, serta segera melaporkan apabila menemukan titik api.

Di wilayah rawan banjir dan cuaca ekstrem, masyarakat diimbau terus memantau informasi cuaca, menghindari berteduh di bawah pohon saat hujan disertai angin kencang, dan segera mengungsi apabila kondisi membahayakan.

Sementara bagi masyarakat di daerah yang mengalami kekeringan, BNPB mengajak warga menggunakan air secara hemat serta berkoordinasi dengan BPBD setempat agar distribusi bantuan air bersih dapat dilakukan secara cepat dan tepat sasaran.