BKKBN Optimalkan Data Keluarga Risiko Stunting Lewat Pekan Genting

0
59
Program Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting (Genting) 2026. (Foto : Kemendukbangga)

(Vibizmedia  Jakarta) Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/BKKBN memperkuat proses verifikasi dan validasi data keluarga berisiko stunting melalui Pekan Genting (Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting) 2026. Langkah ini dilakukan untuk memastikan intervensi pencegahan stunting dapat diberikan secara tepat sasaran sesuai kondisi dan kebutuhan masing-masing keluarga.

Deputi Bidang Pergerakan dan Peran Serta Masyarakat Kemendukbangga/BKKBN, Wahyuniati, menegaskan bahwa akurasi data menjadi fondasi utama dalam menentukan efektivitas intervensi di lapangan. “Ketepatan sasaran harus dimulai dari ketepatan data dalam Keluarga Risiko Stunting,” ujarnya saat memberikan arahan pada peluncuran Pekan Genting 2026 secara daring melalui Zoom dari Jakarta, Senin (10/8/2026).

Menurut Wahyuniati, peran Tim Pendamping Keluarga (TPK) tidak hanya sebatas pendataan. TPK perlu melakukan kunjungan langsung ke lapangan untuk melihat kondisi riil keluarga, mengidentifikasi permasalahan, sekaligus menentukan kebutuhan intervensi yang tepat.

Melalui kunjungan tersebut, TPK dapat mengetahui kebutuhan spesifik keluarga, mulai dari edukasi, dukungan nutrisi, perbaikan rumah layak huni, akses air bersih, hingga penyediaan jamban sehat. “Ini menjadi kesempatan bagi kita untuk memahami kebutuhan keluarga risiko stunting, sehingga data yang diperoleh dapat langsung terintegrasi dalam sistem,” katanya.

Hasil verifikasi dan validasi ini kemudian digunakan sebagai dasar koordinasi dengan para mitra. Dengan pendekatan tersebut, intervensi tidak lagi bersifat seragam, melainkan disesuaikan dengan kondisi masing-masing keluarga.

Wahyuniati menambahkan, pendekatan berbasis kebutuhan penting agar bantuan yang diberikan benar-benar menjawab persoalan yang dihadapi keluarga. Data yang lebih detail juga memungkinkan pemetaan jumlah keluarga berdasarkan jenis intervensi yang dibutuhkan, termasuk lokasi dan tindak lanjut yang diperlukan.

Selain itu, kunjungan langsung TPK juga menjadi sarana edukasi bagi keluarga. Materi yang disampaikan mencakup perilaku hidup bersih dan sehat, pemenuhan gizi anak, pola asuh, akses layanan kesehatan, serta keamanan pangan. “Edukasi menjadi hal yang fundamental. Setiap intervensi harus dibarengi dengan pemahaman yang baik,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa pendataan tidak berhenti pada pengumpulan informasi semata. Interaksi langsung memberikan ruang dialog antara TPK dan keluarga untuk menggali persoalan secara lebih mendalam.

Pekan Genting 2026 merupakan pelaksanaan tahun kedua setelah program serupa digelar pada 2025. Dalam kegiatan ini, TPK dan kader turun langsung ke masyarakat untuk memvalidasi data, mengidentifikasi kebutuhan, serta memberikan edukasi.

Wahyuniati menekankan pentingnya keberlanjutan proses tersebut. Pemantauan terhadap kondisi keluarga harus dilakukan secara berkala agar intervensi dan edukasi lanjutan dapat menyesuaikan dengan perkembangan situasi.

Melalui Pekan Genting 2026, pemerintah mengajak pemerintah daerah, penyuluh keluarga berencana, TPK, Tim Pengendali Genting, serta berbagai mitra untuk memperkuat kolaborasi. Hingga akhir Juli 2026, capaian Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting (Genting) secara nasional telah mencapai sekitar 73 persen.