Kemenperin Dorong Komoditas Lokal Naik Kelas ke Pasar Global

0
62
Kemenperin Dorong Komoditas Lokal Naik Kelas ke Pasar Global (Foto: Kemenperin)

(Vibizmedia – Commodity) Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mendorong komoditas lokal diolah menjadi produk specialty bernilai tambah tinggi agar mampu memperkuat daya saing industri nasional sekaligus menembus pasar global. Kekayaan sumber daya alam Indonesia dinilai belum cukup jika hanya berhenti sebagai bahan baku.

Melalui Specialty Indonesia 2026 yang berlangsung pada 10–13 Agustus 2026 di Jakarta, diharapkan hal ini terrealisir. Ajang ini menjadi etalase produk unggulan berbasis sumber daya lokal sekaligus mempertemukan pelaku industri dengan calon pembeli dan mitra bisnis dari dalam maupun luar negeri.

Wakil Menteri Perindustrian Faisol Riza mengatakan Indonesia memiliki modal besar untuk mengembangkan industri specialty dan artisan, mulai dari kopi, teh, kakao, hortikultura, produk susu, hingga hasil fermentasi.

“Yang penting adalah bagaimana potensi tersebut kita olah menjadi produk bernilai tambah, berkualitas, memiliki identitas kuat, serta mampu bersaing di pasar global,” ujar Faisol saat membuka Specialty Indonesia 2026, Senin (10/8).

Peningkatan nilai tambah tidak hanya membutuhkan pengolahan, tetapi juga inovasi, kualitas, desain, kemasan, branding, dan strategi pemasaran. Melalui pendekatan tersebut, komoditas Indonesia diharapkan tidak lagi dominan diekspor sebagai bahan mentah.

Ada juga peluang hilirisasi dari sejumlah komoditas unggulan. Indonesia merupakan produsen biji kakao terbesar ketujuh dunia dan produsen produk olahan kakao terbesar keempat. Di sektor kopi, Indonesia menempati posisi sebagai produsen terbesar keempat dunia, dengan ekspor kopi olahan pada 2025 mencapai USD692 juta, naik 4,36 persen.

Potensi serupa terdapat pada komoditas teh. Pasar ekstrak teh global meningkat dari USD3,6 juta pada 2019 menjadi USD5,6 juta pada 2025. Sementara pasar suplemen teh hijau diproyeksikan tumbuh dari USD909,9 juta pada 2025 menjadi USD1,33 miliar pada 2033.

Hortikultura juga menawarkan peluang besar. Nilai ekspor produk hortikultura Indonesia mencapai USD544,8 juta pada 2025, dengan nanas kaleng menyumbang hampir separuh nilai ekspor tersebut.

Kemenperin juga mulai mendorong pengembangan ekosistem industri fermentasi. Melalui Indonesian Fermentation Forum Experience, produk fermentasi berbasis kearifan lokal diarahkan menjadi bagian dari industri modern. Pasar pangan fermentasi global diperkirakan mencapai USD788,33 juta pada 2025 dan meningkat menjadi USD1,24 miliar pada 2034.

Specialty Indonesia dapat menjadi pintu masuk bagi pelaku industri untuk memperluas pasar dan membangun kemitraan. Tahun ini, sebanyak 48 perusahaan mengikuti pameran dan 30 perusahaan berpartisipasi dalam business matching dengan calon pembeli dari perwakilan perdagangan negara sahabat serta sektor hotel, restoran, kafe, dan ritel.

Kemenperin berharap pertemuan tersebut tidak berhenti pada promosi, tetapi berlanjut menjadi transaksi, investasi, dan kemitraan yang memperkuat posisi produk Indonesia di pasar global.