25 Kampus Bergabung dalam Campuspreneur, Kemendag Dorong Lahirnya Eksportir Muda

0
63
Foto: Kemendag

(Vibizmedia – Tangerang, Banten) Kementerian Perdagangan memperluas pengembangan wirausaha muda berorientasi ekspor melalui program Campuspreneur. Bergabungnya BINUS University dalam program tersebut membuat jumlah perguruan tinggi yang telah menjadi bagian dari Campuspreneur mencapai 25 kampus.

Menteri Perdagangan Budi Santoso mengatakan keterlibatan perguruan tinggi menjadi bagian penting dalam membangun ekosistem kewirausahaan yang mampu melahirkan pelaku usaha baru sekaligus mendorong produk Indonesia menembus pasar internasional.

Hal tersebut disampaikan Mendag Budi saat memberikan kuliah umum bertajuk “Campuspreneur: Pengembangan Wirausaha Muda Berorientasi Ekspor” di BINUS University, Alam Sutera, Tangerang, Banten, Jumat (25/9/2026).

Kegiatan tersebut diikuti mahasiswa, dosen, serta pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) binaan BINUS University. Sejumlah perwakilan asosiasi ritel, termasuk Himpunan Peritel dan Penyewa Pusat Perbelanjaan Indonesia (HIPPINDO) dan Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (APRINDO), turut hadir dalam kegiatan tersebut.

“Bergabungnya BINUS University hari ini menandakan Kemendag telah menjalin sinergi dengan 25 kampus untuk mengembangkan ekosistem wirausaha di perguruan tinggi. Kami harap, BINUS University menjadi contoh terbentuknya calon pengusaha dari kampus,” ujar Mendag Budi.

Campuspreneur Jadi Jembatan Kampus dan Dunia Usaha

Campuspreneur merupakan salah satu klaster dalam Program Dari Lokal untuk Global yang dikembangkan Kemendag. Program ini dirancang untuk memperkenalkan kewirausahaan dan perdagangan internasional kepada civitas academica sekaligus membekali calon wirausaha muda dengan pengetahuan serta pengalaman yang diperlukan untuk mengembangkan bisnis.

Tidak hanya berbentuk pelatihan, Campuspreneur juga memadukan pendampingan usaha dan berbagai kegiatan yang berkaitan dengan ekspor. Dengan pendekatan tersebut, mahasiswa dan pelaku usaha binaan perguruan tinggi diharapkan dapat memahami proses pengembangan bisnis dari pasar domestik hingga memiliki kesiapan memasuki pasar global.

Program ini juga menjadi bagian dari strategi Kemendag untuk mempertemukan potensi perguruan tinggi dengan kebutuhan dunia usaha. Mahasiswa tidak hanya didorong untuk memiliki ide bisnis, tetapi juga memahami pasar, membangun jaringan, meningkatkan kualitas produk, serta mengenali berbagai aspek perdagangan internasional.

Program Dari Lokal untuk Global sendiri melengkapi dua program utama Kemendag lainnya, yakni Pengamanan Pasar Dalam Negeri dan Perluasan Pasar Ekspor.

Kemendag-BINUS Perkuat Kerja Sama

Kolaborasi antara Kemendag dan BINUS University dalam pengembangan Campuspreneur ditandai dengan penandatanganan nota kesepahaman (MoU) implementasi Tridarma Perguruan Tinggi di bidang perdagangan.

MoU tersebut ditandatangani Rektor BINUS University Nelly dan Sekretaris Jenderal Kemendag Isy Karim pada Jumat (25/9), serta disaksikan Mendag Budi.

Kerja sama tersebut diharapkan dapat memperkuat hubungan antara dunia pendidikan, pemerintah, dan sektor usaha, terutama dalam pengembangan kapasitas mahasiswa dan pelaku UMKM.

Dalam kesempatan yang sama, juga dilakukan penandatanganan enam Letter of Intent (LoI) antara UMKM binaan BINUS University dan sektor ritel modern.

Lima UMKM menandatangani LoI dengan HIPPINDO, sedangkan satu UMKM menjalin komitmen dengan APRINDO. Kerja sama tersebut menjadi bagian dari upaya memperluas akses pasar bagi produk-produk UMKM melalui jaringan ritel modern.

Peserta Berpeluang Tampil di TEI 2026

Kemendag juga memberikan kesempatan bagi peserta Campuspreneur terpilih untuk mengikuti Trade Expo Indonesia (TEI) 2026 yang akan berlangsung pada 14–18 Oktober 2026 di Indonesia Convention Exhibition (ICE) BSD City, Tangerang, Banten.

Produk yang telah melalui proses kurasi akan mendapatkan ruang khusus melalui stan Campuspreneur di ajang perdagangan internasional tersebut.

Kesempatan ini dapat menjadi tahap lanjutan bagi mahasiswa dan pelaku usaha untuk memperkenalkan produk kepada calon pembeli, membangun jaringan bisnis, serta memperoleh pengalaman berinteraksi dalam lingkungan perdagangan berskala internasional.

Rektor BINUS University Nelly menilai kesiapan menuju pasar global tidak hanya ditentukan oleh kualitas produk. Pelaku usaha juga perlu memahami karakteristik pasar, memiliki strategi bisnis, membangun jejaring, berani belajar, serta mampu membaca peluang.

“Campuspreneur menjadi ruang penting bagi generasi muda untuk belajar langsung dari para praktisi, membangun koneksi, serta memahami perjalanan bisnis dari pasar lokal menuju pasar global. Semoga kegiatan ini dapat memberikan pengetahuan, inspirasi, dan jejaring yang membuka semakin banyak peluang untuk membawa ide dan bisnis Indonesia berkembang ke pasar global,” ujar Nelly.

Mahasiswa Program Studi International Business Management BINUS University, Lanang Bayu Triaji, menyambut baik program tersebut. Menurutnya, Campuspreneur dapat membantu mahasiswa dan pelaku usaha muda meningkatkan kepercayaan diri untuk mengembangkan bisnis dan melihat peluang di pasar internasional.

“Harapan saya, para peserta dapat memahami materi yang telah diberikan dan semakin berani mengambil peluang untuk go international,” kata Lanang.

Dari Konsultasi Bisnis hingga Persiapan Ekspor

Untuk memberikan dukungan yang lebih praktis, rangkaian Campuspreneur di BINUS University juga menghadirkan sejumlah layanan konsultasi bagi mahasiswa dan pelaku UMKM.

Layanan tersebut mencakup Klinik Konsultasi Nomor Induk Berusaha (NIB) dan Perizinan, Klinik Desain, Klinik Ekspor, Klinik Standar, Kemasan, dan Mutu, Klinik Sertifikasi, serta Klinik Kemitraan.

Kemendag juga membuka Klinik Konsultasi Program Magang pada perwakilan perdagangan Indonesia di luar negeri. Fasilitas tersebut ditujukan untuk memperkenalkan mahasiswa pada peluang memperoleh pengalaman kerja melalui kantor-kantor perwakilan perdagangan Indonesia di berbagai negara.

Dengan berbagai fasilitas tersebut, Campuspreneur tidak hanya diarahkan untuk menghasilkan wirausaha dari lingkungan kampus, tetapi juga memberikan akses terhadap pengetahuan, konsultasi, jejaring, dan pengalaman yang dibutuhkan untuk mengembangkan usaha.

Campuspreneur Diperkuat Pengalaman Ekspor Nyata

Rangkaian Campuspreneur di BINUS University juga diwarnai pelepasan ekspor produk binaan kampus. Setelah memberikan kuliah umum, Mendag Budi melepas ekspor 1.560 ton arang tempurung kelapa (coconut charcoal) ke Tiongkok senilai USD 1,34 juta atau sekitar Rp23 miliar.

Ekspor dilakukan FUTRA Export, salah satu pelaku usaha binaan BINUS University. Pengiriman tersebut terdiri atas 60 kontainer arang tempurung kelapa yang akan digunakan sebagai bahan baku karbon aktif (activated carbon) di Tiongkok.

Pendiri FUTRA Export Steven Magnus mengatakan perusahaan telah memanfaatkan berbagai fasilitas yang disediakan Kemendag untuk mengembangkan bisnis ekspor. Steven juga merupakan alumni Export Coaching Program Kemendag.

“Program-program Kemendag sangat membantu perkembangan ekspor kami. Kami telah memanfaatkan fasilitasi penjajakan bisnis (business matching), rutin mengikuti TEI, serta mendapatkan bantuan perwadag untuk memvalidasi latar belakang calon-calon mitra usaha prospektif kami di luar negeri,” ujar Steven.

Keberhasilan ekspor tersebut sekaligus memberikan contoh konkret bahwa pembinaan kewirausahaan dan fasilitasi perdagangan dapat diarahkan hingga menghasilkan transaksi ekspor.

UMKM BISA Ekspor Perluas Akses Pasar

Selain Campuspreneur, Kemendag juga menjalankan UMKM BeranI Inovasi, Siap Adaptasi Ekspor (BISA Ekspor) sebagai klaster lain dalam Program Dari Lokal untuk Global.

Melalui program tersebut, UMKM dapat memanfaatkan jaringan perwakilan perdagangan Indonesia di luar negeri untuk mencari peluang pasar dan calon pembeli internasional.

Saat ini Kemendag memiliki 46 perwakilan perdagangan di 33 negara yang berperan dalam mempromosikan produk Indonesia sekaligus mempertemukan pelaku usaha dengan calon mitra melalui kegiatan business matching.

Pada periode Januari–Agustus 2026, fasilitasi melalui Program UMKM BISA Ekspor telah mencatatkan transaksi senilai USD 346,99 juta. Sebagai perbandingan, transaksi program tersebut sepanjang 2025 mencapai USD 134,87 juta.

Mendag Budi mengatakan pelaku UMKM tidak perlu merasa kurang percaya diri hanya karena belum memiliki pengalaman ekspor. Menurutnya, kesiapan ekspor dapat dibangun secara bertahap dengan menjaga kualitas produk dan meningkatkan kemampuan pemasaran.

“Jadi, tidak perlu minder atau ragu jika belum pernah ekspor, karena tidak semua peserta UMKM BISA Ekspor sudah pernah ekspor. Indonesia juga tidak kekurangan produk karena UMKM kita memiliki banyak produk yang bagus. Justru hal penting yang harus dimiliki adalah konsistensi menjaga produk dan kemampuan memasarkannya,” kata Mendag Budi.

Melalui Campuspreneur dan UMKM BISA Ekspor, Kemendag berupaya membangun kesinambungan dari kampus, ide bisnis, pembinaan, akses pasar, hingga ekspor. Kolaborasi dengan perguruan tinggi, ritel modern, pelaku usaha, serta jaringan perwakilan perdagangan di luar negeri menjadi bagian dari ekosistem yang diharapkan dapat memperbanyak wirausaha muda sekaligus memperluas produk Indonesia ke pasar global.