Hilirisasi dan Industrialisasi Jadi Kunci Dorong Pertumbuhan Ekonomi Indonesia

0
64
Foto: Kemenko Ekon

(Vibizmedia – Jakarta) Ketahanan ekonomi Indonesia tetap terjaga di tengah tingginya ketidakpastian global. Pada Semester I-2026, perekonomian nasional tumbuh 5,45% secara tahunan (year-on-year/yoy), ditopang oleh kinerja sejumlah sektor strategis, terutama industri pengolahan yang masih menjadi penyumbang terbesar terhadap produk domestik bruto (PDB).

Industri pengolahan tercatat memiliki kontribusi sebesar 18,50% terhadap PDB nasional. Sementara itu, industri pengolahan nonmigas tumbuh 5,32% dengan kontribusi mencapai 16,83%.

Aktivitas manufaktur juga menunjukkan perbaikan. Indeks Purchasing Managers’ Index (PMI) Manufaktur Indonesia pada September 2026 naik menjadi 52,4, dari posisi 49,8 pada Agustus 2026. Kenaikan ini menandai kembalinya sektor manufaktur ke zona ekspansi sekaligus mencerminkan penguatan kondisi bisnis yang paling tinggi sejak Februari 2026.

Dari sisi fiskal, Indonesia juga dinilai memiliki fundamental yang relatif terjaga. Defisit anggaran dipertahankan di bawah 3% terhadap PDB, sedangkan rasio utang pemerintah berada di kisaran 41% terhadap PDB. Kondisi tersebut memberikan ruang bagi pemerintah untuk melanjutkan agenda pembangunan dan mendorong pertumbuhan ekonomi.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menegaskan bahwa pengembangan industri dan peningkatan nilai tambah sumber daya alam menjadi faktor penting dalam menjaga momentum pertumbuhan tersebut.

“Jadi ini yang tentu kita melihat bahwa peran daripada pengembangan industri ataupun ekonomi selanjutnya itu menjadi kunci karena kita sedang mendorong bahwa nilai tambah daripada sumber daya alam itu menjadi penting, dan sumber daya alam itu ada dua jenis, satu yang renewable dan yang kedua yang non-renewable,” ujar Airlangga dalam acara BIG Downstream Insights 2026 di Jakarta, Selasa (6/10).

Hilirisasi Diperluas ke Berbagai Sektor

Pemerintah terus mendorong hilirisasi sebagai strategi untuk meningkatkan nilai ekonomi komoditas domestik. Kebijakan ini tidak hanya menyasar sektor mineral dan batu bara, tetapi juga mencakup komoditas pertanian, perkebunan, kehutanan, perikanan, serta kelautan.

Sejumlah komoditas, seperti kelapa sawit, karet, kelapa, dan hasil perikanan, dinilai memiliki peluang besar untuk diolah menjadi produk bernilai tambah lebih tinggi dan berorientasi ekspor.

Airlangga mengingatkan bahwa hilirisasi perlu ditempatkan sebagai bagian dari agenda industrialisasi yang lebih luas. Menurutnya, pengembangan industri nasional tidak cukup hanya bertumpu pada pengolahan bahan mentah, tetapi juga harus mencakup penguatan berbagai sektor manufaktur.

“Saya juga memberikan catatan bahwa hilirisasi tidak sama dengan industrialisasi. Hilirisasi salah satu daripada industri dan berbagai manufaktur lain yang didorong adalah tentunya seperti sektor otomotif, sektor tekstil, produk tekstil, sektor fast moving consumer goods, kemudian sektor strategis lain. Nah itu juga banyak yang perlu kita dorong agar kontribusi industri terhadap GDP itu bisa lebih tinggi dari 20%,” tegasnya.

Dengan memperkuat sektor manufaktur secara menyeluruh, pemerintah berharap kontribusi industri terhadap perekonomian nasional dapat meningkat dan menciptakan sumber pertumbuhan baru.

Peta Jalan Hilirisasi Berpotensi Hasilkan Investasi Ratusan Miliar Dolar

Besarnya potensi hilirisasi tercermin dalam peta jalan pengembangan 28 komoditas yang diproyeksikan mampu menarik investasi sebesar USD618,1 miliar. Program tersebut juga diperkirakan menghasilkan nilai ekspor USD857,6 miliar dan nilai tambah mencapai USD235,9 miliar.

Airlangga menyebut, tambahan nilai ekonomi dari program hilirisasi berpotensi mendorong peningkatan ekspor secara signifikan. Secara keseluruhan, tambahan ekspor dari program tersebut diperkirakan dapat mendekati USD500 miliar.

Dampak hilirisasi juga mulai terlihat pada kinerja perdagangan Indonesia. Ekspor produk berbasis nikel, misalnya, meningkat dari sekitar USD1,3 miliar pada 2016 menjadi USD34 miliar pada 2025. Perkembangan ini memperlihatkan besarnya peluang yang dapat diperoleh ketika komoditas domestik diolah menjadi produk dengan nilai ekonomi lebih tinggi.

Selain meningkatkan ekspor, hilirisasi turut berperan dalam mendorong pemerataan pembangunan. Pada Semester I-2026, sekitar 75,7% investasi hilirisasi tercatat berada di luar Pulau Jawa.

Sebaran investasi tersebut membuka peluang pertumbuhan ekonomi baru di berbagai daerah, khususnya wilayah yang memiliki kekayaan sumber daya alam. Pengembangan pusat-pusat industri di luar Jawa diharapkan dapat memperluas kesempatan kerja sekaligus memperkuat struktur ekonomi daerah.

Transformasi Industri Menuju Teknologi dan Energi Hijau

Selain memperluas hilirisasi, pemerintah mendorong transformasi industri menuju kegiatan ekonomi yang memiliki nilai tambah lebih tinggi. Upaya tersebut mencakup penguatan agroindustri dan manufaktur, serta pengembangan sektor digital, semikonduktor, kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), dan jasa.

Ketersediaan energi yang kompetitif dan ramah lingkungan menjadi salah satu faktor penentu daya saing industri nasional. Selain membantu menekan biaya produksi, penggunaan energi yang lebih hijau juga semakin penting untuk memenuhi tuntutan pasar global terhadap proses produksi yang berkelanjutan.

Pemanfaatan teknologi turut menjadi bagian dari agenda transformasi tersebut. Penerapan machine learning, Internet of Things (IoT), dan otomasi di sektor industri dapat meningkatkan efisiensi operasional serta produktivitas.

Di sisi lain, perkembangan AI membuka peluang bagi Indonesia untuk mengembangkan industri baru, termasuk pusat data (data center). Potensi ketersediaan lahan, energi, air, serta besarnya pasar domestik menjadi modal yang dapat dimanfaatkan untuk menarik investasi di bidang tersebut.

Ekonomi Digital dan Pengembangan Talenta

Penguatan ekonomi digital juga memerlukan dukungan infrastruktur, ketersediaan data berkualitas, serta sumber daya manusia yang sesuai dengan kebutuhan industri.

Melalui kerja sama ASEAN dalam Digital Economic Framework Agreement (DEFA), nilai ekonomi digital kawasan diperkirakan meningkat dari sekitar USD1 triliun menjadi USD2 triliun. Dengan porsi sekitar 40% dari total ekonomi ASEAN, Indonesia memiliki peluang besar untuk menjadi salah satu penggerak utama pertumbuhan ekonomi digital regional.

Untuk memanfaatkan peluang tersebut, pemerintah terus memperkuat pendidikan vokasi dan kolaborasi dengan dunia usaha. Pengembangan kompetensi tenaga kerja diarahkan agar selaras dengan kebutuhan industri masa depan, termasuk di bidang AI dan semikonduktor.

Dalam tiga tahun mendatang, pemerintah menargetkan pengembangan sekitar 15 ribu talenta di bidang tersebut. Ketersediaan tenaga kerja terampil diharapkan dapat mendukung percepatan transformasi digital sekaligus memperkuat daya saing industri nasional.

Airlangga menegaskan bahwa transformasi ekonomi Indonesia harus berlangsung secara bertahap dan berkelanjutan, mulai dari penguatan sektor pertanian, pengembangan industri, hingga perluasan ekonomi digital dan jasa bernilai tambah tinggi.

Menurutnya, sinergi antara hilirisasi, industrialisasi, energi hijau, dan digitalisasi menjadi landasan penting untuk meningkatkan produktivitas nasional serta membuka jalan menuju target pertumbuhan ekonomi 8%.

“Jadi inilah kesempatan-kesempatan yang terus didorong. Pemerintah terus memperkuat koordinasi lintas sektor dan mengajak dunia usaha untuk bersama-sama membangun kesempatan yang ada,” pungkas Airlangga.

Acara tersebut turut dihadiri President Director PT Jurnalindo Aksara Grafika (Bisnis Indonesia Group) Arif Budisusilo, Deputi Bidang Koordinasi Energi dan Sumber Daya Mineral Elen Setiadi, Staf Ahli Bidang Pembangunan Daerah Haryo Limanseto, Managing Director Bisnis Indonesia Hery Trianto, Strategic Affairs Director Bisnis Indonesia Maria Y. Benyamin, Direktur Eksekutif Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) Mukti Sardjono, Ketua Umum Forum Industri Nikel Indonesia (FINI) Arif Perdana Kusumah, serta sejumlah pelaku usaha, investor, dan akademisi.