Pemerintah Perkuat Iklim Investasi dan Kemitraan Ekonomi Indonesia-Amerika Serikat

0
59
Foto: Kemenko Ekon

(Vibizmedia – Jakarta) Pemerintah terus memperkuat fondasi perekonomian nasional sekaligus menciptakan iklim investasi yang semakin menarik di tengah ketidakpastian ekonomi global. Kondisi fundamental Indonesia yang tetap terjaga dinilai menjadi modal penting untuk memperluas kerja sama strategis dengan berbagai negara mitra, termasuk Amerika Serikat.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan, sejumlah indikator ekonomi menunjukkan bahwa Indonesia masih memiliki daya tahan yang kuat. Hal tersebut tercermin dari pertumbuhan ekonomi, perkembangan investasi, tingkat inflasi, hingga daya beli dan kepercayaan masyarakat.

“Indonesia melampaui rata-rata global sebesar 5,45% secara triwulanan, inflasi sebesar 3,28%, investasi meningkat 7% dibandingkan tahun lalu, dan indeks keyakinan konsumen kita masih di angka 108,5%,” ujar Airlangga saat memberikan keynote speech dalam 14th Annual US-Indonesia Investment Summit bertajuk Building Confidence: Strengthening Indonesia’s Investment Climate di Jakarta, Selasa (6/10).

Menurut Airlangga, pertumbuhan ekonomi Indonesia juga terus diarahkan agar memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat. Rasio Gini tercatat sebesar 0,36, tingkat kemiskinan menurun menjadi 8,7%, sedangkan tingkat pengangguran terbuka berada di sekitar 4,65%.

Kondisi tersebut, lanjutnya, turut membangun keyakinan investor terhadap prospek ekonomi Indonesia. Pemerintah menilai stabilitas fundamental tersebut perlu terus dijaga agar dapat menjadi landasan bagi peningkatan investasi dan penciptaan lapangan kerja.

Perdagangan dan Investasi Indonesia-AS Terus Menguat

Hubungan ekonomi Indonesia dengan Amerika Serikat menunjukkan perkembangan yang positif. Nilai ekspor Indonesia ke pasar AS meningkat dari USD25,83 miliar pada 2021 menjadi USD31,01 miliar pada 2025.

Tren tersebut berlanjut pada 2026. Hingga Semester I-2026, nilai ekspor Indonesia ke Amerika Serikat telah mencapai USD15,85 miliar, dengan surplus perdagangan Indonesia sebesar USD8,56 miliar.

Amerika Serikat juga tetap menjadi salah satu dari lima negara sumber utama Foreign Direct Investment (FDI) bagi Indonesia. Pada Semester I-2026, realisasi investasi dari AS tercatat sebesar USD1,72 miliar.

Pemerintah melihat perkembangan tersebut sebagai peluang untuk meningkatkan kerja sama investasi yang tidak hanya berorientasi pada nilai investasi, tetapi juga mampu menciptakan nilai tambah, memperkuat industri domestik, dan membuka lapangan pekerjaan.

Menuju Pertumbuhan Ekonomi yang Lebih Tinggi

Untuk memperkuat daya tarik investasi, pemerintah menyiapkan arah kebijakan ekonomi 2027 dengan tema “Higher Growth – Faster Prosperity”. Kebijakan tersebut diarahkan untuk membawa pertumbuhan ekonomi Indonesia menuju target 8%.

Strategi yang disiapkan mencakup penguatan sektor-sektor bernilai tambah tinggi, revitalisasi sektor ekonomi yang memiliki daya tahan kuat, peningkatan kapasitas ekspor dan investasi, serta percepatan transformasi digital.

Pemerintah juga memberikan perhatian terhadap pengembangan sektor strategis seperti semikonduktor dan Artificial Intelligence (AI). Dalam kerangka ini, sektor swasta tetap ditempatkan sebagai motor utama investasi dan penciptaan lapangan kerja.

Sementara itu, Danantara akan mengambil peran melalui investasi strategis yang berorientasi komersial dan mendukung pengembangan sektor-sektor prioritas nasional.

Ekonomi Digital dan KEK Jadi Magnet Investasi

Transformasi digital menjadi salah satu bidang yang dinilai memiliki prospek besar untuk menarik investasi baru. Indonesia saat ini merupakan ekonomi digital terbesar di ASEAN dan diproyeksikan memiliki nilai ekonomi digital antara USD180 miliar hingga USD340 miliar pada 2030.

Potensi tersebut terus didukung melalui pembangunan infrastruktur teknologi dan ekosistem industri digital. Salah satunya melalui pengembangan data center berbasis AI di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Nongsa serta pembangunan ekosistem semikonduktor di koridor Batam-Bintan.

Selain transformasi digital, pemerintah juga mendorong percepatan industrialisasi melalui pengembangan KEK. Hingga Juni 2026, sebanyak 25 KEK telah membukukan akumulasi realisasi investasi mencapai Rp368 triliun atau sekitar USD20 miliar.

Investasi tersebut juga memberikan dampak terhadap penyerapan tenaga kerja, dengan jumlah pekerja yang terserap telah mencapai lebih dari 283 ribu orang.

Memperluas Akses Pasar Global

Di sisi lain, Indonesia terus memperluas jaringan kerja sama ekonomi internasional untuk membuka akses pasar dan memperkuat posisi dalam rantai pasok global.

Keikutsertaan Indonesia dalam berbagai forum dan kemitraan ekonomi, antara lain BRICS+, G20, RCEP, ASEAN, OECD, dan CPTPP, menjadi bagian dari strategi tersebut. Pemerintah juga terus mendorong penyelesaian berbagai perjanjian perdagangan, termasuk Indonesia–EU CEPA, Canada CEPA, serta persiapan CEPA dengan Inggris.

Khusus dalam hubungan bilateral dengan Amerika Serikat, implementasi Indonesia-US Agreement on Reciprocal Trade (ART) menjadi salah satu agenda penting. Kesepakatan tersebut diharapkan dapat memperluas akses pasar, mengurangi hambatan tarif maupun nontarif, serta memperkuat integrasi rantai pasok antara kedua negara.

Airlangga menegaskan bahwa pemerintah ingin memastikan berbagai peluang tersebut dapat diterjemahkan menjadi investasi nyata dan kerja sama bisnis yang memberikan manfaat bagi kedua pihak.

“Kami sangat berharap dapat terus bekerja sama dengan komunitas bisnis Amerika Serikat untuk mengubah berbagai peluang strategis ini menjadi investasi yang konkret dan kemitraan yang lebih kuat guna mendorong pertumbuhan ekonomi bersama,” pungkasnya.

Sejumlah pejabat dan perwakilan dunia usaha turut menghadiri agenda tersebut, antara lain Deputi Bidang Koordinasi Perniagaan dan Ekonomi Digital Kemenko Perekonomian Ali Murtopo Simbolon, Deputi Bidang Koordinasi Energi dan Sumber Daya Mineral Kemenko Perekonomian Elen Setiadi, Plt. Kuasa TU Harian Kedutaan Besar AS di Jakarta Aqueelah Johnson, Managing Director Chief Economist Danantara Indonesia Reza Yamora Siregar, Vice President Southeast Asia and Oceania U.S. Chamber of Commerce John Goyer, Managing Director AmCham Indonesia Donna Priadi, Vice Chair Board of Governors AmCham Indonesia Mira Arifin, Managing Director Bank of America Rahul Bajoria, serta jajaran pimpinan asosiasi bisnis dan pelaku usaha Indonesia dan Amerika Serikat.